Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Parade Kostum 🐑

Parade kostum angkatan 2023 hari ini terasa begitu seru. Meski panas matahari menyengat sekali, tapi suasananya tetap hangat dan menyenangkan. Sepanjang jalan, tawa tak henti-hentinya pecah, diiringi obrolan ringan dan interaksi dengan orang-orang yang menyaksikan kami. Ada kebahagiaan sederhana bagiku saat melihat senyum mereka ikut merekah ketika melihat kami lewat.  Usai parade kostum selesai, aku langsung merasa lega. Karena hari ini menjadi penanda bahwa perkuliahan semester lima benar-benar telah usai. Ada lelah, ada senang, dan ada kenangan yang pelan-pelan ingin kusimpan. Salam hangat dari Bamoy (Domba Gemoy) untuk semua orang yang terlibat dalam parade kostum kali ini. 🐑🩵 Sampai berjumpa tahun depan, di semester enam. ✨

Dia

Ketika seseorang bertanya padaku perihal laki-laki seperti apa yang aku inginkan, aku selalu menjawab dengan daftar panjang, "Yang mengerti agama, yang baik, yang pintar, yang tidak merokok, dan masih banyak lagi." Namun, jika semua itu harus diringkas menjadi satu kata, maka jawabanku sederhana, "Dia." Sampai sekarang, aku bahkan belum benar-benar tahu seperti apa tipe laki-laki yang sebenarnya aku suka. Karena, tanpa kusadari semua ciri yang kusebutkan itu bukan gambaran ideal, melainkan bayangan tentangnya. 

Yang Tersisa dari Percakapan Kemarin

Kemarin, aku dan ketiga temanku kembali makan di sebuah tempat yang sudah pernah kami datangi. Katanya, sebelum semester lima benar-benar berakhir, kami harus menyempatkan diri untuk makan bersama dulu. Lucunya, yang tersisa dari momen itu bukanlah soal makanan, melainkan cerita-cerita yang mengalir setelahnya. Kami berbincang banyak hal. Salah satunya tentang cinta. Jujur saja, aku merasa belum sepenuhnya pantas membicarakan perkara hati. Namun entah mengapa, kemarin mulut kami ringan saja mengungkapkan apa-apa yang biasanya diam. Anehnya, kisah kami hampir serupa. Cinta yang kami ceritakan tidak berpihak pada kami. Dan sebenarnya, itu tidak apa-apa. Hanya saja, ada sedikit sesak yang mengendap di dada, semacam napas yang tertahan tapi tetap ingin dikeluarkan. Tapi, bukankah memang begitu cara semesta bekerja? Tidak semua yang kita cintai akan kembali pada kita. Tidak semua yang kita jaga akan memilih tinggal. Karena itu, kita perlu menyediakan sedikit ruang di hati, tempat bagi ikhla...

"Sab"

Sabilah. Sebuah nama yang sederhana, tapi anehnya selalu melahirkan begitu banyak panggilan dari orang-orang di sekitarku. Sabil, Bila, Bil, Bile, dan entah apa lagi bentuk lainnya. Semua terdengar akrab, hangat, dan tak pernah membuatku keberatan. Tapi ada satu panggilan yang selalu membuat telingaku merasa sedikit aneh setiap kali mendengarnya. "Sab." Entahlah. Ada rasa yang mengganjal di sana. Seperti nada yang tidak pas dalam sebuah lagu. Tidak salah, tidak buruk, hanya saja tidak cocok di ruang dengarku. Anehnya, yang memanggilku "Sab" biasanya adalah orang-orang yang kutemui sebelum tahun 2020. Mereka masih setia dengan sebutan itu, seolah waktu tak pernah benar-benar berjalan bagi mereka. Dan laki-laki itu, dia adalah salah satunya. Aku tersenyum kecil. Di antara semua panggilan yang kuterima, dia tetap memilih memanggilku "Sab". Dia memang orang lama. Dan entah kenapa, dari dia, panggilan itu rasanya, tidak apa.

Hari Ketika Semesta Memperkenalkanmu

  Di tahun 2018, ada satu hari yang terus menolak hilang dari ingatanku. Hari ketika waktu berjalan lebih pelan dari biasanya, seolah ingin memastikan aku benar-benar melihatmu. Sosok asing berdiri di ambang pintu kelas, dan mataku, entah kenapa, berhenti tepat di sana. "Siapa dia?" gumamku dalam hati, melangkah tanpa benar-benar tahu ke mana fokusku pergi. Tak pernah terpikirkan bahwa sosok asing itu adalah kamu.  Kamu, yang datang tanpa aba-aba, tanpa ketukan, tanpa alasan. Masuk begitu saja ke dalam hidupku, lalu ke dalam hatiku, seperti rumah yang memang sudah kamu hafal pintunya. Dan anehnya, sampai detik ini, kamu masih berada di sana. Aku belum meminta kamu pergi. Belum juga memberi izin untuk keluar. Maaf. Atau mungkin tidak perlu maaf, karena bagian paling jujur dari diriku memang diam-diam ingin kamu tetap tinggal.

Pray For Sumatra 🤍

Dalam gelap bencana, kita nyalakan 1.000 lilin untuk Sumatra 🤍🕯️