Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Pelukan yang Tak Pernah Ada

Tokoh: Dena & Ezra Latar: Taman kota dini hari, pukul 03.00 WIB. Hujan pelan, lampu jalan redup, genangan air memantulkan cahaya. Hujan perlahan berhenti, langit terlihat gelap dengan sedikit bintang yang muncul. Intro lagu milik Payung Teduh dengan judul Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan terdengar samar. Lampu redup. Hujan menetes pelan. Dena duduk sendiri, menatap genangan air. Dena (berbisik, lirih): "Hujan selalu datang dengan rahasianya. Ia menenggelamkan suara dunia, tapi anehnya, ia tak pernah bisa menenggelamkanku. Justru di tengah derasnya, aku merasa paling nyata." Sosok laki-laki muncul dari sisi lain, membawa payung. Ia berhenti sejenak, menatap gadis dihadapannya, ia tersenyum lembut. Ezra: "Permisi, boleh saya duduk sebentar? Hujannya tidak begitu deras, tapi entah kenapa, rasanya saya ingin duduk di sini." Dena (tersenyum tipis, mengangguk): "Tentu, silakan." Laki-laki itu duduk di samping Dena. Hening sebentar, suara hujan dan musi...

😫

Heran, dari SMP sampai sekarang, setiap musim ujian tiba pasti tubuhku seolah ikut "rapat rahasia" dengan virus, kenapa? Karena batuk, panas, dan kawan-kawannya muncul semua 😭 Kayaknya, kalau ujian dihapuskan, aku mungkin bakal sehat terus, wkwk. 

Riuh Dalam Diam

"Aku iri padamu, kamu bisa mencintainya dengan begitu tenang," ucap seorang temanku. Namun, hanya aku yang tahu kebenarannya. Cintaku tidaklah tenang. Ia bising, berisik, penuh gemuruh, tapi kutundukkan hingga tampak seperti hening. Mungkin itulah arti mencintai dalam diam, bukan tanpa gelisah, melainkan memilih merawatnya tanpa harus mengguncang dunia.

Menjalani Semester Lima

Sudah hampir setengah semester aku menapaki perjalanan di semester lima. Rasanya benar-benar campur aduk. Antara lelah, bingung, tapi juga ada semangat kecil yang terus menyala. Tugas, materi kuliah, dan segala tuntutan datang silih berganti, membuat pikiran terkadang penuh sesak. Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang selalu kupegang, yaitu harapan untuk tetap kuat. Kuat menjaga badan agar tetap sehat, dan kuat menjaga pikiran agar tidak mudah runtuh. Karena pada akhirnya, perjalanan ini bukan hanya soal nilai atau capaian, melainkan juga tentang bertahan dan tumbuh. Untuk teman-teman seperjuangan, jangan menyerah. Kita mungkin lelah, kita mungkin goyah, tapi percayalah, setiap langkah yang kita ambil akan membawa kita lebih dekat pada mimpi yang kita perjuangkan. Mari tetap saling menguatkan. Kita pasti bisa melewati ini bersama. 🤍

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...

Jejak Para Pemimpi

Tadi malam, aku baru saja menyelesaikan film Sang Pemimpi . Jika diminta merangkum kesan dalam dua kata, jawabanku sederhana: Luar Biasa . Film ini bukan sekadar kisah tentang Ikal, Arai, dan Jimbron yang tumbuh di tengah keterbatasan, melainkan juga sebuah potret mimpi yang tetap menyala meski diterpa kesulitan hidup. Sang Pemimpi menyuguhkan keindahan persahabatan, getirnya perjuangan, serta keteguhan untuk tetap percaya bahwa mimpi yang besar akan menemukan jalannya. Pesan Pak Balia kepada murid-muridnya menjadi salah satu inti cerita yang begitu membekas, bahwa mimpi harus digenggam setinggi mungkin, sebab dengan ilmu dan tekad, seseorang bisa melampaui batas-batas kehidupannya.

Mimpi, Ilmu, dan Perubahan

Baru setengah jam aku menonton film Sang Pemimpi , namun ada satu ucapan Pak Julian Balia yang menancap dalam benakku, begini ucapannya: "Bercita-citalah setinggi langit, bermimpilah sebesar semesta. Rebutlah ilmu sebanyak-banyaknya. Belajarlah dari alam sekitarmu,  resapi kehidupan, jelajahi Indonesiamu yang luas, singgahlah di Afrika yang eksotis, jelajahi Eropa yang megah, lalu berhentilah di altar ilmu—Sorbonne, Paris. Belajarlah di mana sains, sastra, dan seni diolah untuk mengubah peradaban." Betapa agung pesan itu. Dan sungguh, Indonesia hari ini sangat membutuhkan guru-guru hebat seperti beliau, guru yang bukan sekadar mengajar, tetapi menyalakan api mimpi dalam jiwa murid-muridnya.

Selalu Kamu Lagi

Tadi, aku sedang mengerjakan tugas sambil ditemani musik. Lalu, tiba-tiba lagu Afgan yang berjudul Bukan Cinta Biasa mengalun. Jemariku seketika berhenti mengetik. Tatapanku kosong, pikiranku melayang. "Cintaku bukanlah cinta biasa, jika kamu yang memiliki,"  begitu liriknya menggema di telingaku.  Dan seperti biasa, lagi, lagi, dan lagi, namamu yang muncul paling pertama di benakku.

Abadi dalam Kata

Katanya, bila seorang seniman jatuh cinta, kau terpatri abadi dalam karyanya. Bila seorang penulis jatuh cinta, kau hidup selamanya di tiap kata yang ia tulis. Aku tak pandai melukis, pun tak pandai seni rupa atau nada. Aku juga tak merasa hebat sebagai penulis.  Namun, bolehkah aku memohon satu keegoisan kecil padamu? Izinkan aku menulismu menjadi tokoh utama, selalu. Biarkan kau menempati halaman-halamanku, menyelinap di antara kalimat yang tak pernah ingin kututup, sebuah buku yang kulekatkan janji untuk tak pernah menuliskan akhirnya.

Bertahan Pun Adalah Juara

Lagi asik scroll-scroll Instagram, tiba-tiba tanganku berhenti di satu postingan yang isinya kurang lebih begini, "Bertahan di hari yang sulit adalah juga kemenangan."  Aku setuju akan hal itu. Kadang, kita hanya perlu melewati satu hari demi satu hari, tanpa harus selalu terlihat kuat, dan itu sudah cukup. 

Air Mata di Balik Imajinasi

Hari ini, hatiku kembali diguncang rasa haru. Di kelas Kajian Drama, Pak Jumadi mengajak kami berimajinasi tanpa batas. Seketika, ingatanku melayang ke delapan tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku kelas enam SD. Saat itu, wali kelasku, Pak Imam namanya, juga melakukan hal yang sama, yaitu membiarkan imajinasi kami berkelana ditemani lantunan musik yang lembut. Anehnya, di dua momen yang berbeda jauh itu, aku sama-sama menangis. Namun, tangisan itu lahir dari dua rasa yang tak serupa. Hari ini, air mata jatuh ketika suara Pak Jumadi bergema, " Bayangkan tempat indah yang kalian datangi berubah menjadi tempat paling menakutkan. Orang-orang yang kalian cintai pergi. Ingatlah, di dunia ini tak ada yang abadi."  Kalimat itu menusuk, mengingatkanku bahwa kehilangan selalu mengintai. Sedangkan ketika masih SD, tangisanku justru karena terharu. Pak Imam meminta kami membayangkan masa depan. “Kenakan seragam impian kalian,” katanya. Aku pun membayangkan diri ini berse...

Gemanya Selalu Kamu

  Beberapa waktu terakhir, aku senang sekali memutar lagu Awal Kisah Selamanya dari Raisa dan Barsena Bestandhi. Lagunya sederhana tapi hangat, manis tapi membekas. Anehnya, setiap kali terdengar, kau selalu jadi orang pertama yang melintas di benakku. Dan aku tersenyum sendiri sambil membatin, “Kalau kisah kita bisa seperti lagu ini, pasti akan terasa lucu sekaligus indah.”

Laskar Pelangi ~ Lebih dari Sekadar Film

  Tadi malam aku menutup perjalanan panjang bersama sebuah mahakarya, Laskar Pelangi . Selama 1 jam 59 menit, mataku tak hanya menatap layar, tetapi juga menatap kehidupan. Dari awal film, hangat dan riuh tawa anak-anak Belitong sudah mengalir ke hati, menghadirkan rasa syukur sederhana. Namun, ketika hampir tiba pada penghujung film, dimana ada adegan Ikal, Lintang, dan Mahar berhasil menjuarai olimpiade cerdas cermat, lalu Lintang pulang dengan membawa piagam juara, namun ia tak mendapati sang ayah disana, saat itu juga air mataku tak lagi bisa dibendung. Pada titik itu, aku sadar, kemenangan tanpa orang tercinta adalah sunyi yang paling nyaring. Film Laskar Pelangi mengajarkanku banyak hal. Mulai dari pendidikan bukanlah sekadar soal bangku sekolah, melainkan cahaya yang mampu menembus gelapnya keterbatasan. Bahwa mimpi, betapa pun kecilnya, dapat tumbuh besar jika dipupuk dengan keyakinan. Bahwa persahabatan adalah harta paling indah yang membuat setiap langkah terasa ringan....

Gie—Aktivis Mahasiswa Idealis

  Film Gie (2005) adalah potret kehidupan Soe Hok Gie yang dipahat dengan nuansa puitis, seolah catatan harian menjelma menjadi layar penuh makna. Sosoknya tampil sebagai idealis muda yang berani melawan arus, menolak tunduk pada kekuasaan, dan memilih kejujuran meski harus berjalan sendirian. Riuh politik, intrik, dan kepalsuan yang mengitarinya justru menegaskan bahwa hidup yang benar bukan tentang jumlah kawan atau gemuruh tepuk tangan, melainkan tentang kesetiaan pada nurani yang murni. Di balik kesendiriannya, film ini memperlihatkan wajah Gie sebagai manusia biasa yang merindukan kedekatan, tetapi tetap teguh menjaga prinsip. Dari puncak gunung tempat ia menemukan kedamaian hingga hiruk-pikuk jalanan kota, kisah ini menyiratkan pesan bahwa kesepian bisa menjadi rumah yang suci bagi jiwa yang jujur. Gie akhirnya hadir bukan sekadar film biografi, melainkan refleksi abadi tentang keberanian untuk hidup apa adanya, meski dunia tak selalu memahaminya.

One Day, Ranu Kumbolo

Ya Allah, Ranu Kumbolo begitu indah, tenang, dan menyejukkan hati. Izinkan aku suatu hari menapaki tepinya, agar jiwa ini merasakan damainya ciptaan-Mu dan syukurku semakin bertambah atas segala keindahan yang Kau anugerahkan.

🫂

In English: "I love you but i'm letting go." In Rangga Raja: "Selamat tidak bisa dimiliki sampai kapanpun, lagi. Selamat hidup di senang yang tidak ada aku. Selamat bahagia di orang tepat versimu."