Langsung ke konten utama

Pelukan yang Tak Pernah Ada

Tokoh: Dena & Ezra

Latar: Taman kota dini hari, pukul 03.00 WIB. Hujan pelan, lampu jalan redup, genangan air memantulkan cahaya. Hujan perlahan berhenti, langit terlihat gelap dengan sedikit bintang yang muncul. Intro lagu milik Payung Teduh dengan judul Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan terdengar samar.

Lampu redup. Hujan menetes pelan. Dena duduk sendiri, menatap genangan air.

Dena (berbisik, lirih): "Hujan selalu datang dengan rahasianya. Ia menenggelamkan suara dunia, tapi anehnya, ia tak pernah bisa menenggelamkanku. Justru di tengah derasnya, aku merasa paling nyata."

Sosok laki-laki muncul dari sisi lain, membawa payung. Ia berhenti sejenak, menatap gadis dihadapannya, ia tersenyum lembut.

Ezra: "Permisi, boleh saya duduk sebentar? Hujannya tidak begitu deras, tapi entah kenapa, rasanya saya ingin duduk di sini."

Dena (tersenyum tipis, mengangguk): "Tentu, silakan."

Laki-laki itu duduk di samping Dena. Hening sebentar, suara hujan dan musik latar terdengar lembut.

Ezra (mengulurkan tangan): "Saya Ezra, baru pindah ke kota ini. Boleh saya tahu namamu?"

Dena (menerima uluran tangan): "Saya, Dena."

Ezra (menatap jam di ponselnya): "Sudah pukul tiga pagi, dunia hampir tidur… tapi kita justru duduk di sini."

Dena (ikut menatap jam di ponselnya): "Tiga pagi, sunyi, rasanya dunia hanya milik kita berdua."

Ezra (tersenyum): "Dena, senang bertemu denganmu di hujan malam menuju pagi seperti ini. Terasa berbeda, lebih hangat, karena ada yang menemani."

Dena hanya tersenyum. Musik terdengar samar.

Tak terasa gelap pun jatuh

Di ujung malam menuju pagi yang dingin

Hanya ada sedikit bintang malam ini

Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

Dena (menatap langit, lirih): "Bintang itu tak banyak, tapi mereka tetap ada. Itu menjadi bukti kecil, bahwa harapan selalu berani menembus malam."

Ezra (menatap langit juga): "Benar, langit sepi… tapi itu yang membuat setiap bintang terasa berharga, seperti kita saat ini."

Hening. Dena menutup mata sejenak, tersenyum.

Dena (pelan): "Terkadang aku membayangkan rasanya berada di pelukan seseorang. Tanpa kata, hanya diam, dan merasa aman."

Ezra (menatap Dena, lembut): "Mungkin saat ini, kamu sedang memeluknya, tanpa sadar, di tengah dunia yang hampir tidur."

Ezra meraih tangan Dena perlahan. Dena menahan napas, tersenyum malu tapi tak menolak.

Ezra: "Boleh aku memelukmu sebentar, Dena? Agar hujan, malam, dan bintang ini terasa hangat."

Dena menutup matanya, lalu mengangguk. Mereka duduk dalam pelukan. Musik terdengar lebih jelas.

Dena (pelan, hampir berbisik): "Hangat, nyaman, rasanya seperti rumah yang sudah lama kucari."

Ezra: "Nikmati saja, biarkan aku menemanimu."

Lampu perlahan meredup, hujan berhenti, hanya beberapa bintang yang bersinar. Musik latar lembut.

Tiba-tiba, lampu terang. Dena membuka mata, duduk di ranjang, payung dan Ezra tidak ada. Musik terdengar dari ponsel di meja. Hujan deras di luar jendela.

Dena (tersenyum tipis, menyentuh pipinya): "Hanya mimpi, tapi rasanya begitu nyata."

Dena berdiri, membuka jendela, menatap hujan, lalu mengulurkan tangan seolah ingin meraih sesuatu yang tak terlihat. Musik terdengar samar.

Dena (berbisik, lirih): "Suatu hari, pelukan itu akan nyata, di tengah hujan dan bintang yang tersisa, dan aku akan tahu bagaimana rasanya aman, sepenuhnya."

Lampu perlahan meredup, hujan berhenti, bintang-bintang samar di langit. Tirai turun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...