Langsung ke konten utama

CHECKOUT? NANTI DULU!

 


Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas. 

Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan.

Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas.

Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic. Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong.

Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana.

Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang".

Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay!

Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah.

Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan.

Hati dan Otak Masuk

Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja, ya? Lagian hidup cuma sekali~

Otak: Tapi, hidup juga lama, Hati. Saldo kita nggak abadi kayak cinta kamu ke dia.

Hati: Nggak usah bawa-bawa dia, ya, Otak!

Hati: Ih, baju itu lucu banget sumpah.

Otak: Halah, kamu bilang gitu ke SEMUA baju.

Tiba-tiba layar Shopee berguncang. Sebuah notifikasi besar muncul: "Produk Ini: HABIS."

Baju: H-hah? Siapa? Siapa yang hilang?

Sepatu: Bentar-bentar, itu… itu sepatu lain yang baru ditambah kemarin.

Sepatu: Dia lebih laku dari aku?

Tas: Hah? Dia bahkan baru sehari di sini! Kita yang tua-tua malah masih belum ada kepastian!

Hati: WHAT?! Kok habis sih?! Padahal aku… aku sayang banget sama sepatu itu! Aaaaaaaa kenapa aku nggak checkout dari dulu?

Hati berlari-lari kecil sambil nangis dramatis.

Otak: Makanya, jangan cuma masukin ke keranjang. Tindakan nyata itu juga penting, Hati.

Hati: Aku nyesaaaaal!!! Tolong… tolong kembalikan dia… sepatu lucu itu 😭

Hati: Kenapa hidup kejam padaku?! 😩😭

Baju: Tunggu, kamu sedih karena sepatu itu hilang? Terus kita ini apa? Pajangan doang?

Tas: Si Hati cuma cinta kalau barangnya udah nggak ada. Dasar!

Sepatu: Sudahlah, Hati… relakan saja dia. Hidup memang kejam, tapi kamu masih punya aku, kan?

Hati: Iya, tapi sepatu itu warnanya biru, aku cinta banget sama warna dia.

Sepatu: Aku juga biru, ayo dong checkout aku!

Otak: Kamu biru tua! Aku kurang suka.

Sepatu: Ya kalau nggak suka, keluarin aku dari sini lah! Aku bosan sudah berbulan-bulan di sini!

Tas: Betul! Kalau memang nggak suka, hapus kami dari keranjang dong! Sumpek banget.

Baju: Iya nih, mereka cuma bikin kita berharap tanpa adanya kepastian sedikitpun.

Hati: Semuanya diam!!!

Tak lama notifikasi lain muncul: "Produk serupa mungkin cocok untukmu." Shopee menampilkan sepatu lain, yang mirip dengan sepatu yang hilang tadi.

Hati: AKU NGGAK MAU PRODUK SERUPA! AKU MAUNYA YANG ITU! YANG SUDAH TIADA!

Otak: Tangan, tolong jangan—

Tangan: EH ADA SEPATU BARUUU YANG MIRIP! MASUKIN KE KERANJANG DULU AH~!

Tangan memasukkan lagi sepatu baru ke dalam keranjang.

Keranjang: TANGAN, KAMU NGGAK LIHAT KONDISIKU YANG UDAH PENUH BEGINI?

Tangan: Tapi, masih muat untuk sepatu itu, kan?

Hati: Oke-oke, mulai hari ini… aku akan checkout lebih cepat, sebelum barang hilang lagi.

Keranjang: Ya udah, sekarang cepetan checkout beberapa dari mereka. Biar aku bisa napas lebih lega.

Otak: Hati, Tangan, kita mau checkout siapa duluan nih?

Tangan: Baju dulu deh kayaknya, atau tas? Eh, atau sepatu, ya?

Hati: SEMUANYA!

Hati: Tapi, tunggu gajian bulan depan dulu, hehe.

Baju, Sepatu, dan Tas: HUH, DASAR!!!

SELESAI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...