Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Ketika Dunia Membuat Cemas, Ingatlah Allah

Belakangan ini, kita semakin sering dipertemukan dengan kabar-kabar yang membuat hati mengecil. Dunia yang kita pijak ternyata tidak selalu sehangat yang kita kira. Ada hal-hal yang datang tanpa permisi, ada peristiwa yang mengingatkan kita bahwa manusia sejatinya rapuh. Di tengah semua itu, semoga kita tidak lupa untuk kembali mengingat Allah. Sebab ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan, tetapi selalu ada doa yang bisa kita panjatkan. Selalu ada nama-Nya yang bisa kita sebut sebagai tempat pulang paling tenang. Mungkin kita tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi esok hari, tetapi kita bisa memastikan bahwa hati kita tetap terikat pada-Nya hari ini. Mari kita biasakan untuk melibatkan Allah dalam setiap langkah. Dalam perjalanan kita, dalam kekhawatiran kita, bahkan dalam hari-hari yang terasa biasa saja. Karena sering kali, keselamatan yang kita rasakan adalah bentuk penjagaan-Nya yang tidak kita sadari. Semoga kita selalu berada dalam lindungan-Nya, di mana pun, kapan p...

Percakapan yang Tidak Pernah Sempat Kuucapkan Selamat Tinggal

  Pukul 15.00 WIB, aku terbangun dari tidur siang dan meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal. Tidak ada firasat apa pun. Seperti kebiasaan pada umumnya, aku membuka WhatsApp untuk memeriksa pesan yang mungkin masuk selama aku beristirahat. Namun, yang muncul di layar justru ruang percakapan yang kosong. Tidak ada satu pun riwayat chat yang dapat dibaca. Percakapan, file dokumen, serta foto-foto yang sebelumnya tersimpan, tidak lagi dapat ditemukan.  Aku sempat mengira ini hanya gangguan sementara. Aku menunggu beberapa saat, berharap semua percakapan akan kembali muncul. Namun, harapan itu perlahan memudar ketika layar tetap menunjukkan hal yang sama. Peristiwa itu tidak hanya berarti hilangnya data digital, tetapi juga hilangnya rekam jejak dari banyak hal yang pernah menjadi bagian dari keseharian. Dokumen penting yang pernah dikirim, foto-foto yang menyimpan momen tertentu, hingga percakapan sederhana yang tanpa disadari memiliki nilai emosional, semuanya lenyap ta...

Dekatkan atau Redakan

Ada beberapa lirik lagu yang diam-diam tinggal di hatiku, bukan sekadar untuk didengar, tapi untuk dirasakan. Lirik-lirik itu seperti doa yang kusembunyikan, yang hanya berani kuucapkan dalam diam. Salah satunya adalah "Interaksi" yang dinyanyikan oleh Tulus, lagu yang tak hanya terdengar indah, tetapi juga seolah mengerti hal-hal yang tak pernah benar-benar bisa kujelaskan "Jika dia memang bisa untukku,   sini, dekat dan dekatlah. Dan jika dia memang bukan untukku, tolong, reda dan redalah." Setiap kali mendengarnya, rasanya seperti mendengar suaraku sendiri, yang tak pernah benar-benar berani meminta, hanya berani menitipkan. Aku selalu menyebut namanya dalam diam, di sela-sela doaku yang paling rahasia. Bukan untuk memaksa semesta mempertemukan kami, tetapi untuk memohon pada Tuhan yang Maha Tahu. Jika memang dia adalah seseorang yang telah Engkau tuliskan untukku sejak awal waktu, maka dekatkanlah kami dengan cara-Mu yang paling indah. Pertemukan kami di waktu y...

Barangkali Aku Ada karena Doa Seseorang

Dulu, aku selalu berpikir bahwa hidup adalah tentang mengejar doa-doaku sendiri. Tentang hal-hal yang kuinginkan, yang kusebut pelan-pelan dalam sujud, yang kuharapkan diam-diam sebelum tidur. Aku percaya bahwa tugasku adalah menunggu, menunggu sampai Tuhan mengabulkan satu per satu harapanku. Tapi hari ini, aku menemukan sebuah kalimat yang mengubah cara pandangku. "Barangkali kamu hidup, bukan untuk menjemput doa mu. Melainkan, kamu adalah 'bentuk' dari doa orang lain." Ketika selesai membaca kalimat itu, aku diam cukup lama. Aku bertanya-tanya dalam hati, siapa yang pernah menyebut namaku dalam doanya? Siapa yang pernah berharap agar aku hadir dalam hidupnya? Apakah orang tuaku, yang diam-diam memohon agar anaknya tumbuh baik-baik saja? Atau mungkin seseorang yang pernah merasa sendirian, lalu Tuhan mengirimkanku tanpa aku sadari? Aku tidak tahu pasti. Tapi memikirkan itu membuatku melihat diriku dengan cara yang berbeda. Mungkin, keberadaanku bukan hanya tentang a...

Rumah dan Rindu 🏠🤍

Aku baru saja membuka Instagram, dan sebuah reels muncul tanpa sengaja. Aku membacanya perlahan, lalu entah mengapa, air mataku jatuh begitu saja. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa begitu dekat, seolah sedang menceritakan hidupku sendiri. Selama ini, aku selalu merasa akulah yang paling kesepian. Akulah yang paling jauh. Akulah yang paling merindukan rumah. Namun saat reels itu muncul, sebuah kesadaran datang dengan lembut, dan sedikit menyakitkan. Bagaimana dengan Ayah dan Mama? Bukankah mereka juga pasti merasakan hal yang sama? Rumah yang dulu riuh kini lebih sering diam. Rumah yang dulu penuh cerita kini hanya diisi percakapan seperlunya. Tawa yang dulu saling bersahutan kini hanya tersisa gema di ingatan. Aku tiba-tiba teringat ketika libur akhir semester kemarin. Saat aku dan kembaranku pulang, rumah kembali bernapas. Mama memasak banyak sekali makanan, lebih banyak dari yang bisa kami habiskan. Ayah beberapa kali keluar rumah, lalu pulang membawa hal-hal kecil yang seben...

Hari Pertama Puasa

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankan. Semoga di hari pertama ini, langkah kita terasa lebih ringan menuju kebaikan, dan hati kita lebih lapang untuk mendekat kepada-Nya. Mari kita perbanyak ibadah, merawat sabar, dan menjaga niat, agar setiap detik yang berlalu tidak hanya menjadi waktu, tetapi juga menjadi pahala. Semoga Ramadan kali ini membawa keberkahan yang diam-diam menguatkan, ketenangan yang menetap di hati, dan doa-doa yang perlahan menemukan jalannya untuk dikabulkan. Aamiin. 🤲🏻✨

Bermula dari Konser, Berujung Solidaritas Netizen ASEAN

Suasana konser malam itu dipenuhi sorak sorai penonton. Ribuan penggemar datang untuk menyaksikan penampilan band Korea Selatan DAY6 di Kuala Lumpur, Malaysia. Namun, di tengah kemeriahan tersebut, sebuah kejadian kecil memicu konflik yang meluas hingga ke media sosial. Beberapa fansite asal Korea Selatan terlihat menggunakan kamera profesional, meskipun aturan konser melarangnya. Hal itu mengganggu penonton lain dan memicu teguran. Kejadian tersebut direkam dan kemudian menyebar di media sosial. Situasi semakin memanas ketika sebagian netizen Korea Selatan memberikan komentar yang dianggap merendahkan negara-negara Asia Tenggara. Komentar tersebut memicu reaksi dari netizen ASEAN yang merasa tersinggung. Mereka kemudian memberikan balasan dan menunjukkan solidaritas melalui berbagai unggahan. Perdebatan itu dengan cepat memenuhi media sosial. Netizen dari berbagai negara Asia Tenggara bersatu, membela identitas dan harga diri kawasan mereka. Peristiwa ini menunjukkan bahwa di era digi...

Puasa di Tanah Rantau

Bulan puasa kembali mendekat, membawa perasaan yang sulit kujelaskan dengan satu nama. Ada bahagia yang tumbuh pelan, karena Allah masih memberiku umur untuk kembali bertemu Ramadan, bulan yang selalu terasa seperti pelukan hangat bagi jiwa yang lelah. Namun, di balik rasa syukur itu, ada rindu yang pelan-pelan mengetuk. Tahun ini adalah tahun ketigaku berpuasa di perantauan. Tahun ketiga merasakan sahur tanpa suara langkah Mama di dapur. Tanpa panggilan lembut dari Ayah yang membangunkanku dengan penuh kasih. Tanpa ruang makan yang ramai oleh cerita-cerita kecil yang dulu terasa biasa, namun kini menjelma menjadi sesuatu yang sangat berharga. Kini, sahur hanya ditemani sunyi. Hanya aku, kamar kost, dan pikiran-pikiran yang sering pulang ke rumah, meski tubuhku tidak. Dulu, aku tidak pernah bertanya, "Nanti sahur makan apa?" atau "Buka puasa pakai apa?" Semua selalu tersedia, bukan hanya makanan, tetapi juga kehangatan. Kini, pertanyaan itu menjadi bagian dari harik...
 Barangkali yang kita cari bukan seseorang yang sempurna, melainkan seseorang yang datang ketika kita telah selesai berdamai dengan diri sendiri. Karena yang 'tepat' tidak selalu ditemukan lebih cepat, ia datang ketika dua jiwa sudah cukup utuh untuk saling tinggal, bukan saling melengkapi, tetapi saling menerima.

Bersama Kesulitan, Ada Kemudahan

Ada lagu-lagu tertentu yang tidak hanya didengar, tapi juga dapat dirasakan. Bagiku, Bersenja Gurau dari Raim Laode adalah salah satunya. Ketika sampai pada lirik "Sebab Tuhan telah berjanji, setelah sempit ada kemudahan," hatiku selalu melembut. Aku teringat bahwa Tuhan pernah mengatakan hal yang sama dalam Al-Qur'an Surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6, bahwa sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Mungkin, hidup memang seperti senja. Tidak selalu terang, tidak selalu gelap. Ia datang dengan warna-warna yang tak selalu sama, kadang hangat, kadang redup, kadang juga meninggalkan sepi yang sulit dijelaskan. Namun, justru di situlah keindahannya. Senja tidak pernah memaksa langit untuk tetap terang, dan tidak pula takut pada datangnya malam. Begitu pula hidup. Ada waktu-waktu di mana kita merasa kehilangan arah, berjalan dalam samar, dan mempertanyakan banyak hal. Tapi senja mengajarkan satu hal yang sederhana, bahwa cahaya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembu...

Alienated

Teman-teman yang mungkin akan merasa bosan selama libur beberapa hari ke depan dan butuh tontonan yang seru tapi nggak makan waktu lama, aku punya rekomendasi yang menurutku worth it banget.  Tadi pagi, aku ketemu salah satu series yang udah tayang dari tahun 2023 kemarin. Judulnya Alienated , genrenya fantasy-thriller . Total cuma 6 episode, jadi bisa banget ditamatin dalam waktu singkat. Tapi jangan salah, meski episodenya sedikit, tiap episode terasa padat dan bikin penasaran. Cocok banget untuk yang suka cerita dengan nuansa gelap, menegangkan, dan plot twist yang nggak ketebak.  Selamat menonton, untuk kalian yang tertarik. 🤩

Tujuh Tahun yang Tak Pernah Usai

Tujuh tahun bukanlah hitungan yang sebentar. Ia bukan sekadar angka, melainkan jejak-jejak waktu yang diam-diam tumbuh di dalam dada. Dan aku baru menyadarinya, bahwa tanpa kusadari, aku telah berjalan sejauh ini, menempatkan namamu di ruang paling sunyi namun paling setia di hatiku. Beberapa orang mengatakan bahwa cinta yang tak terbalas hanyalah penantian sia-sia. Bahwa aku seharusnya berhenti, berbalik arah, dan mencari bahagia di tempat lain. Tapi bagaimana mungkin aku menyuruh hatiku pergi sedangkan ia masih ingin tinggal? Hatiku keras kepala sekali. Ia memilih kamu, lagi dan lagi, meski tak pernah dipilih kembali. Ada hari ketika aku benar-benar ingin menyerah. Ingin menutup semua pintu yang mengarah padamu. Namun malam datang, dan dalam lelapku, kau hadir di sana. Begitu jelas. Begitu nyata. Kau berkata pelan, "Jangan berusaha melupakanku. Berusahalah membuatku menyukaimu." Dan aku terbangun dengan dada yang kembali penuh, penuh harap yang tak tahu diri. Jika suatu har...

Takut Gagal, atau Takut Dinilai?

  Bagiku, itu masih menjadi pertanyaan yang menggantung, belum juga menemukan jawaban pastinya hingga saat ini. Kata "gagal" terdengar begitu menyeramkan di telingaku, seperti bayangan gelap yang mengikuti setiap langkah. Mungkin bukan hanya aku, tapi hampir setiap manusia yang hidup dengan harapan pasti pernah gentar saat kata itu mendekat. Namun, bukankah hidup memang tak pernah sempurna?  Gagal bukan berarti kalah. Ia hanyalah jeda, tempat kita belajar memahami diri dan memperbaiki arah. Jika tak pernah jatuh, bagaimana kita tahu rasanya bangkit? Jika tak pernah salah, bagaimana kita belajar menjadi lebih kuat? Barangkali yang kita takuti bukan kegagalannya, melainkan pandangan orang lain saat kita terjatuh. Padahal, justru dari sanalah keberanian ditempa. Sebab pada akhirnya, gagal bukan akhir perjalanan, ia hanya bagian dari proses menjadi versi diri yang lebih tangguh.

Doa dan Keberanian untuk Percaya

Aku menemukan sebuah tulisan ketika sedang sibuk menyelami aplikasi threads. Tulisan itu tidak panjang, namun mampu membuatku termenung setelah membacanya.  "Berdoalah. Lalu hiduplah seolah doamu sudah terjawab." Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dalam sekali makna dibaliknya. Seolah mengajak kita untuk berhenti gelisah setelah meminta, dan mulai percaya sepenuh hati. Lalu menjalani hari dengan tenang, tetap berusaha, sambil menyerahkan hasilnya pada waktu dan kehendak Tuhan, tanpa terus-menerus mempertanyakan kapan jawaban itu akan datang.

Akankah Episode Itu Akan Tiba?

Mungkin adegan ketika kau menoleh ke arahku masih jauh sekali. Atau barangkali, tak pernah ditulis dalam naskah hidupmu? Aku berdiri di sisi cerita yang sepi, menjadi latar bagi langkah-langkahmu yang tak pernah berhenti. Kau berjalan dengan dunia di kedua matamu, sedangkan aku hanya berharap satu detik saja, cukup satu detik pandanganmu singgah dan mengenali keberadaanku. Aku tak tahu sudah berapa banyak hari kulewati dengan pura-pura tak berharap. Berlagak biasa saja, padahal diam-diam aku menyimpan satu kemungkinan kecil yang kupelihara seperti api lilin di ruang gelap. Kadang aku bertanya, apakah aku sedang menunggu sesuatu yang nyata, atau sekadar memeluk angan yang tak pernah berniat menjadi kenyataan? Apakah namaku pernah hampir kau sebut dalam hati, meski hanya sebagai bayangan yang lewat? Jika memang tak ada episode itu, jika tak pernah ada momen kau menoleh dan menemukan aku di sana, maka biarlah aku belajar menerima, bahwa tak semua penantian ditakdirkan untuk berjumpa, dan ...

Saat Hidup Berjalan Tanpa Sorak

Setelah menelusuri ulang blogku sendiri, aku menemukan sebuah kenyataan yang sunyi, bahwa tulisan tentang diriku sendiri ternyata tak banyak. Aku lebih sering menulis tentang rasa, tentang orang lain, tentang hal-hal di luar diriku, seolah aku sendiri hanya singgah sebentar di hidupku. Aku pun bingung, bagaimana seharusnya menulis keseharian yang terasa begitu biasa. Tak ada peristiwa besar, tak ada kisah yang membuat jantungku berdebar. Hari-hariku berjalan pelan, nyaris tak meninggalkan jejak. Aku sering merasa hidup yang kujalani sedikit membosankan, seakan tak ada satu pun hal istimewa yang patut dibanggakan. Aku merasa tak memiliki sesuatu yang benar-benar hebat untuk ditawarkan pada dunia. Keberuntungan pun terasa jauh, seperti hujan yang selalu turun di tempat lain. Yang datang justru rasa iri, iri yang kecil, diam-diam, pada mereka yang tampak telah sampai lebih dulu, yang hidupnya terlihat terang dan penuh hasil. Namun di sela perasaan itu, aku mencoba memahami satu hal, baran...

...

Di ujung doaku, ada nama yang kucintai tanpa pernah kupinta menoleh, aku menyimpannya pelan-pelan agar rasa ini tidak berisik dan tidak menyakiti siapa pun. Aku tahu, sejak awal aku berjalan sendiri, maka kuserahkan langkah ini kepada Tuhan agar hatiku tidak tersesat.  Jika kelak aku benar-benar tak pernah ada dalam ceritamu, semoga namamu tetap dijaga dalam doa-doa yang sunyi, sebab cinta yang tidak dipilih pun berhak pulang dengan tenang.

Rindu di Ujung Pena

Aku sering berniat berhenti menulis tentangmu. Namun pena ini seakan punya ingatan sendiri. Ia bergerak, menulismu lagi, lagi, dan lagi. Aku lelah. Aku menulis panjang tentangmu, sementara kau tak pernah membaca satu kata pun. Barangkali memang bukan untukmu tulisan ini, melainkan untukku, agar rinduku punya tempat pulang.

😭😭😭

  "Jika semua orang melupakanmu sedikit demi sedikit, maka aku akan coba mengingatmu sedikit demi sedikit." —Han Seo Yoon

Mengapa Jurnalistik?

Mengapa jurnalistik? Jawabanku sederhana, dan itu pasti, karena aku mencintai menulis. Aku bahkan tak lagi ingat sejak kapan rasa itu tumbuh. Yang pasti, setiap kali menulis, ada damai yang singgah, seperti pulang ke tempat yang tak pernah menghakimi. Menulis membuatku tenang, membuat pikiranku lebih jujur pada diri sendiri. Sejujurnya, aku lebih sering merasa santai ketika menulis sastra. Barangkali karena itu pula aku sempat bimbang saat memilih peminatan kemarin. Drama terasa akrab, di sana aku bisa menumpahkan imajinasi, merangkai dialog, dan menulis naskah tanpa batas. Namun jurnalistik menawarkan hal lain, ada kemungkinan untuk menulis lebih banyak hal, bukan hanya dunia yang kubayangkan, tetapi juga dunia yang benar-benar ada dan terjadi di sekelilingku. Setelah menimbang cukup lama, akhirnya aku mantap melangkah ke jurnalistik. Ada pula satu nama yang diam-diam menjadi alasanku, Najwa Shihab. Seorang jurnalis yang sejak SMA membuatku berandai-andai, ingin menjadi seperti dirin...

Yang Berlalu, Biarlah Berlalu

Kita tidak perlu memikirkan hal yang terjadi kemarin. Kita hanya perlu memikirkan hari ini dan besok. Kurang lebih begitu yang disampaikan Pak Jumadi di kelas tadi. Kalimat itu singkat, namun terus berputar di kepalaku bahkan setelah kelas selesai.  Aku menyadari betapa seringnya aku terjebak pada hal-hal yang telah berlalu. Mengulangnya dalam ingatan, menimbang-nimbangnya dengan rasa bersalah, seolah aku bisa memperbaiki masa lalu hanya dengan menyesalinya. Padahal, semua itu justru membuatku lelah, merasa belum cukup, belum mampu menjadi versi terbaik dari diriku sendiri. Setelah kupikirkan lagi, apa pun yang terjadi hari ini, baik atau buruk, adalah bagian dari proses yang paling mungkin terjadi. Ia datang dengan caranya sendiri, membawa pelajaran yang mungkin belum sepenuhnya kupahami. Tidak ada yang perlu disesali berlebihan, sebab masa lalu telah selesai menjalankan perannya. Yang perlu kulakukan kini bukan menoleh ke belakang dengan penyesalan, melainkan menata langkah ke de...

Jatuh Suka dan Dia

  Setiap lirik lagu itu terdengar, hatiku selalu terjatuh, lagi dan lagi. Ada getar halus yang tak bisa kujelaskan, apakah aku sedang jatuh cinta pada kata-kata yang terdengar manis, atau pada dirinya yang diam-diam kembali menghuni ruang pikiranku. Aku terdiam lama, membiarkan perasaan itu berputar tanpa jawaban. Hingga akhirnya aku mengerti, bukan liriknya yang membuat dadaku merasa hangat, melainkan namanya. Aku jatuh suka padanya. Lagi.