Langsung ke konten utama

Bersama Kesulitan, Ada Kemudahan

Ada lagu-lagu tertentu yang tidak hanya didengar, tapi juga dapat dirasakan. Bagiku, Bersenja Gurau dari Raim Laode adalah salah satunya.

Ketika sampai pada lirik "Sebab Tuhan telah berjanji, setelah sempit ada kemudahan," hatiku selalu melembut. Aku teringat bahwa Tuhan pernah mengatakan hal yang sama dalam Al-Qur'an Surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6, bahwa sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Mungkin, hidup memang seperti senja. Tidak selalu terang, tidak selalu gelap. Ia datang dengan warna-warna yang tak selalu sama, kadang hangat, kadang redup, kadang juga meninggalkan sepi yang sulit dijelaskan. Namun, justru di situlah keindahannya. Senja tidak pernah memaksa langit untuk tetap terang, dan tidak pula takut pada datangnya malam.

Begitu pula hidup. Ada waktu-waktu di mana kita merasa kehilangan arah, berjalan dalam samar, dan mempertanyakan banyak hal. Tapi senja mengajarkan satu hal yang sederhana, bahwa cahaya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi sebentar, memberi ruang bagi hati untuk belajar percaya.

Dan bagi orang-orang yang mau bersabar, yang mau tetap beriman meski tak melihat dengan jelas, cahaya itu akan kembali. Pelan, lembut, dan tepat pada waktunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...