Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Langkah Pendidikan Sampit yang Terus Bergerak Maju

  Saya berasal dari kota Sampit dan memilih melanjutkan pendidikan ke luar kota. Keputusan itu saya ambil karena mempertimbangkan peluang yang lebih luas, terutama dari segi pilihan jurusan dan kualitas pendidikan. Namun, dari sudut pandang tersebut, saya melihat bahwa pendidikan di Sampit tidak benar-benar tertinggal, melainkan sedang berkembang, meskipun belum sepenuhnya merata. Menurut saya, dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan di Sampit menunjukkan arah yang cukup positif. Infrastruktur sekolah terus meningkat dan kehadiran perguruan tinggi lokal menjadi salah satu indikator bahwa akses pendidikan semakin terbuka. Lulusan SMA kini memiliki alternatif untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus selalu keluar daerah. Hal ini tentu menjadi peluang, khususnya bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses maupun ekonomi. Meski demikian, saya juga melihat masih ada sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan. Pilihan program studi yang terbatas, fasilitas pendidikan yang belum me...

Ketika Amarah Mengalahkan Ruang Aman Keluarga

  Malam di masa libur Hari Raya Idul Fitri biasanya berjalan pelan, hangat, dan penuh rencana-rencana kecil yang sederhana. Di sebuah sudut kota Sampit, ada empat anak muda, tiga saudara kandung dan satu sepupu yang tengah bersiap untuk menikmati malam dengan cara yang akrab, pergi ke mall, mencoba makanan di sana, lalu mengabadikan kebersamaan lewat potret-potret santai. Segala persiapan telah rampung, tawa ringan mengisi rumah ketiga gadis bersaudara itu, dan kendaraan yang dipesan tinggal menjemput untuk memulai perjalanan.  Namun, sebelum benar-benar pergi, sebuah panggilan telepon datang lebih dulu. Nada di seberang terdengar mendesak, seorang ayah meminta anaknya segera pulang. Tak lama berselang, mobil yang dipesan akhirnya tiba di depan rumah. Tanpa sempat benar-benar memulai perjalanan seperti rencana awal, keempatnya justru bergegas naik dan mengubah arah tujuan. Malam itu, mereka tidak menuju mall, melainkan singgah terlebih dahulu ke rumah sang sepupu yang letaknya...
"Semua jatuh bangunmu, hal yang biasa, angan dan pertanyaan, waktu yang menjawabnya, berikan tenggat waktu, bersedihlah secukupnya, rayakan perasaanmu sebagai manusia." -Hindia

Suara-Suara Kecil yang Tak Pernah Pergi

"Mau dimasakin apa buat dibawa ke kost, Dek?" "Barang-barangnya dicek lagi, takut ada yang ketinggalan." "Hati-hati pulangnya. Kalau ada apa-apa di jalan, kabarin." "Langsung telepon kalau sudah sampai kost." Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana, seperti percakapan yang bisa terulang kapan saja. Tapi justru di situlah hangatnya tinggal, di nada suara yang pelan, di perhatian yang tak pernah dibuat-buat, di kebiasaan yang diam-diam menjadi bentuk cinta paling utuh. Setiap kali aku kembali merantau, rumah selalu terasa sedikit lebih sunyi bahkan sebelum aku benar-benar pergi. Mama dengan kesibukannya di dapur, seolah ingin memastikan aku membawa pulang lebih dari sekadar makanan. Ayah dengan pengingat-pengingat kecilnya, yang terdengar biasa, tapi sebenarnya adalah cara paling jujur untuk mengatakan "hati-hati" dan "jaga diri baik-baik." Dan aku mulai mengerti, bahwa yang paling sulit ditinggalkan bukanlah tempatnya, melainka...

Menunggu yang Tak Pernah Meminta Ditunggu

Kadang kita menunggu sesuatu yang bahkan tak pernah benar-benar meminta untuk ditunggu, sebuah harap yang tumbuh diam-diam, tanpa janji, tanpa kepastian. Kita merawatnya dalam sunyi, memberi waktu yang tak pernah diminta, seolah kesabaran bisa mengubah arah takdir. Hari-hari berlalu, dan kita tetap di sana, menggenggam bayangan yang perlahan memudar, sambil bertanya dalam hati, apakah yang kita tunggu akan datang, atau hanya kita yang terlalu lama enggan melangkah pergi? Hingga akhirnya kita sadar, tak semua penantian diciptakan untuk berujung temu, sebagian hanya ada untuk mengajarkan kita cara melepaskan.   

Ruang untuk Tetap Menjadi Kita

Terlepas dari tawa yang pernah menghangatkan hari, dari lelah yang diam-diam kita simpan, dari jatuh yang sempat membuat kita ragu, hingga bangkit yang kita susun perlahan, semoga dunia tak pernah benar-benar merampas ruang bagi kita untuk tetap menjadi diri sendiri. Di tengah bisingnya tuntutan dan perbandingan, semoga kita selalu ingat bahwa menjadi "kita" adalah hal paling jujur yang bisa kita perjuangkan, dengan segala luka, harapan, dan versi-versi diri yang terus bertumbuh tanpa harus kehilangan arah pulang.

Palangka Raya dan Cerita Air yang Tersesat

  Di Palangka Raya, hujan tak pernah sekadar jatuh, ia selalu membawa cerita, kadang lirih, kadang menggenang diam-diam di sudut jalan seperti rahasia yang tak sempat disampaikan. Pagi yang mestinya bersih sering kali justru dibuka oleh pantulan air keruh di aspal, seolah kota ini sedang bercermin pada dirinya sendiri yang belum sepenuhnya pulih. Ketika hujan turun lebih lama dari biasanya, air tak lagi hanya lewat, melainkan singgah, menetap, bahkan mengambil alih ruang-ruang yang semula milik manusia. Warga pun perlahan terbiasa dengan siklus yang berulang itu, mengangkat barang sebelum air naik, membersihkan halaman dengan sisa harap agar genangan lekas surut, sambil menyadari bahwa persoalan ini bukan semata-mata tentang hujan yang terlalu deras. Masalahnya berakar pada aliran yang kehilangan arah pulang. Sistem drainase yang belum bekerja sebagaimana mestinya sering tersendat oleh sedimentasi, tersumbat sampah, atau terputus oleh pembangunan yang menutup jalurnya sendiri. Di b...

Tidak Semua yang Viral Adalah Fakta

Tulisan opini yang disampaikan oleh Elsadai Juli Ananda mengangkat persoalan yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, yaitu kebiasaan menelan informasi secara mentah di tengah derasnya arus berita di media sosial. Saya sepakat dengan pandangan tersebut, karena fenomena salah tafsir terhadap informasi memang semakin sering terjadi, terutama ketika isu global sedang ramai dibicarakan. Menurut saya, peristiwa yang disinggung dalam tulisan tersebut menunjukkan bagaimana potongan informasi dapat dengan mudah mengubah makna sebuah pernyataan. Ketika sebuah kutipan dipisahkan dari konteks lengkapnya, pesan yang sebenarnya ingin disampaikan justru bisa bergeser jauh dari maksud awal. Hal inilah yang kemudian memicu kepanikan atau kesimpulan yang terburu-buru di masyarakat. Saya juga sependapat bahwa media sosial sering kali mempercepat penyebaran kesalahpahaman. Banyak orang merasa cukup membaca judul atau melihat potongan video singkat sebelum akhirnya membagikan ulang informas...

Ketika Penampilan Dijadikan Standar Pelayanan

Tulisan opini yang disampaikan oleh Vita Febrina Eriani menghadirkan potret yang sangat nyata tentang bagaimana standar pelayanan kadang masih terjebak pada penilaian yang dangkal. Saya sepakat dengan pandangan tersebut, karena fenomena menilai pelanggan dari penampilan memang masih sering ditemui di berbagai tempat, tidak hanya di gerai kecantikan, tetapi juga di banyak sektor layanan lainnya. Bagi saya, inti dari persoalan yang diangkat Vita bukan sekadar soal sandal jepit atau pakaian santai. Persoalan utamanya adalah cara pandang sebagian pelaku layanan yang masih menempatkan penampilan sebagai ukuran nilai seseorang. Padahal, ruang publik seperti pusat perbelanjaan seharusnya menjadi tempat yang inklusif, di mana siapa pun dapat datang dengan nyaman tanpa merasa dihakimi oleh pandangan orang lain. Saya juga sependapat bahwa pelayanan yang baik tidak boleh bergantung pada kesan pertama yang dibentuk oleh pakaian. Di era sekarang, batas antara gaya berpakaian dan kemampuan ekonomi s...

Tentang Perjalanan, Rindu, dan Kembali Pulang

Alhamdulillah, langkah ini akhirnya sampai juga di rumah, tempat di mana rindu berhenti berkelana dan hati menemukan tenangnya. Setelah perjalanan yang sedikit panjang, melelahkan, bahkan penuh cerita, kini kembali bertemu wajah-wajah yang selalu dirindukan, keluarga, orang-orang terkasih, dan suasana hangat yang tak pernah tergantikan oleh apa pun. Ada rasa syukur yang sulit dijelaskan ketika pintu rumah kembali terbuka, ketika suara sapaan yang akrab menyambut, dan ketika kebersamaan yang sederhana terasa begitu berarti. Rumah selalu punya cara untuk memeluk kita tanpa kata-kata. Untuk teman-teman yang juga sedang menikmati waktu libur, selamat berlibur. Semoga hari-hari ini dipenuhi kebahagiaan, tawa, dan momen-momen kecil yang kelak akan menjadi kenangan indah. Bagi yang sudah lebih dulu sampai dan kembali berkumpul dengan keluarga, selamat pulang ke rumah, tempat di mana segala lelah seakan luruh begitu saja. Dan untuk teman-teman yang masih berada di perjalanan, atau yang belum s...

Ada Titik-titik di Ujung Doa...

   Setelah menonton music video lagu Ada Titik-Titik di Ujung Doa dari Sal Priadi, air mataku tiba-tiba saja terjatuh tanpa permisi. Yang ditampilkan di dalam music video itu benar-benar mampu membuat dadaku terasa sesak sekali.  Di sana, ada seorang ayah yang pergi untuk bekerja, meninggalkan rumah demi keluarganya. Waktu berjalan, jarak semakin panjang, dan tanpa disadari hubungan dengan anaknya pun ikut merenggang. Bukan karena mereka tidak saling sayang, hanya saja hidup membuat mereka tumbuh di jarak yang berbeda. Yang paling menyayat justru hal yang tidak pernah diketahui sang anak, ayahnya sakit. Ia menjalani cuci darah sendirian, menanggung lelahnya tubuh tanpa banyak cerita. Seolah rasa sakit itu adalah sesuatu yang harus ia simpan sendiri, agar rumah yang ia tinggalkan tetap terasa tenang. Aku langsung memikirkan satu hal, barangkali memang begitulah seorang ayah mencintai. Tidak selalu dengan kata-kata, tidak selalu dengan kehadiran yang lengkap. Kadang dengan...

Rindu yang Datang dari Bangku Sekolah

Setelah beberapa hari menjalani PLP 1 di salah satu sekolah menengah kejuruan, tiba-tiba ada rindu yang menggebu di dadaku. Rindu yang datang tanpa aba-aba, seolah waktu diam-diam membuka kembali halaman lama yang sudah terlewat.  Di sekolah, aku sempat masuk ke ruang kelas untuk menilik suasana belajar siswa. Melihat mereka duduk di kursi-kursi kayu, mendengarkan penjelasan guru, sesekali tertawa bersama teman di sebelahnya, semua itu membuat pikiranku melayang jauh ke beberapa tahun silam. Ke masa ketika aku juga pernah berada di posisi yang sama. Duduk sebagai seorang siswa, dengan mimpi-mimpi yang masih samar bentuknya. Tiba-tiba kenangan masa SMA meruak begitu saja. Bukan hanya tentang ruang kelas, tetapi juga tentang orang-orang yang pernah mengisi hari-hari itu. Teman-teman yang dulu hampir setiap hari kutemui, yang pernah tertawa bersama, mengeluh bersama, bahkan berbagi cerita-cerita sederhana yang saat itu terasa biasa saja. Kini semuanya berubah menjadi kenangan yang han...

Ketika Media Sosial Terasa Seperti Panggung Penilaian

Media sosial pada awalnya hadir sebagai ruang untuk berbagi. Orang-orang mengunggah foto keseharian, momen sederhana, atau cerita kecil yang ingin mereka bagikan kepada teman-teman. Namun seiring waktu, terutama di Instagram, cara orang memandang unggahan mulai berubah. Apa yang tampil di layar sering terlihat begitu rapi, indah, dan seolah tanpa cela. Foto-foto yang muncul tampak sempurna, mulai dari sudut pengambilan gambar, pencahayaan, hingga kesan kehidupan yang tampak selalu baik-baik saja. Tanpa disadari, gambaran yang serba sempurna itu perlahan membentuk standar baru. Banyak orang akhirnya merasa harus menampilkan sesuatu yang sama baiknya sebelum berani mengunggah apa pun. Tidak sedikit yang menghabiskan waktu lama hanya untuk memilih foto yang dianggap "cukup pantas" untuk diposting. Bahkan ada yang akhirnya mengurungkan niat karena merasa unggahannya tidak cukup menarik atau takut dinilai oleh orang lain. Rasa takut itu sering kali tidak datang dari komentar yang ...

Lebaran dan Pertanyaan yang Selalu Sama

Setiap Lebaran, rumah-rumah kembali ramai oleh suara tawa, obrolan panjang, dan hidangan yang tersaji di meja makan. Orang-orang yang lama tidak bertemu akhirnya duduk bersama, saling berjabat tangan, dan berbagi cerita setelah berbulan-bulan menjalani kehidupan masing-masing. Namun di tengah kehangatan itu, ada satu hal yang hampir selalu muncul dan terdengar berulang setiap tahun, yaitu pertanyaan tentang "kapan?" Bagi mereka yang masih berstatus mahasiswa, pertanyaan pertama biasanya terdengar sederhana, "kapan lulus?" Ketika akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah, pertanyaan itu tidak benar-benar berhenti. Ia hanya berubah bentuk menjadi "kapan kerja?" Lalu setelah memiliki pekerjaan, pertanyaan lain sudah menunggu, "kapan nikah?" Seolah-olah kehidupan setiap orang berjalan di jalur yang sama dan harus mencapai titik-titik tertentu dalam waktu yang dianggap tepat oleh orang lain. Bagi sebagian orang, pertanyaan seperti itu mungkin terasa bias...

Palangka Raya yang Tak Pernah Ia Rencanakan

Palangka Raya bukanlah kota yang pernah hadir dalam daftar mimpi Nurul Aulia. Sejak dulu, keinginannya sederhana, yaitu berkuliah di Jawa, pulau yang sejak lama dikenal sebagai pusat pendidikan, tempat segala hal terasa lebih dekat dengan rumah dan kenangan masa tumbuh. Meskipun ia lahir di Sampit, hatinya tetap tertambat pada Jawa, tanah tempat ia dibesarkan. Namun hidup sering kali bergerak dengan jalannya sendiri. Keputusan orang tua mengubah arah rencananya. Tanpa banyak pilihan, Aulia akhirnya menjejakkan langkah di Palangka Raya, sebuah kota yang sebelumnya bahkan tidak pernah ia bayangkan akan menjadi tempatnya menempuh masa kuliah. Awal kedatangannya terasa sunyi. Sebagai mahasiswa perantau, ia harus membiasakan diri dengan lingkungan baru yang terasa asing. Ada semacam culture shock yang halus. Bukan hanya soal tempat, tetapi juga ritme kehidupan. Baginya yang terbiasa dengan padatnya aktivitas dan manusia di Jawa, Palangka Raya terasa jauh lebih tenang, bahkan sedikit sepi. ...

Tentang Aku yang Selalu di Belakangmu

Aku pernah percaya bahwa perasaan yang cukup lama disimpan akan menemukan jalannya sendiri. Bahwa suatu hari kamu akan menoleh dan menyadari ada seseorang yang selama ini berjalan di belakangmu. Tapi waktu terus berjalan, dan kamu tidak pernah menoleh. Dan saat itulah aku sadar, ada cinta yang memang hanya diciptakan untuk tumbuh, bukan untuk dimiliki.

Dia yang Tak Pernah Benar-benar Nyata

Ada masa ketika aku begitu yakin pada satu nama, seolah semesta berbisik pelan bahwa dia adalah jawabannya. Aku menjaganya dalam doa, dalam harap, dalam cerita-cerita kecil yang hanya hidup di kepalaku. Aku pernah menyimpan seseorang begitu lama, bukan dalam genggaman, tapi dalam penantian yang tak pernah benar-benar dimulai. Bertahun-tahun kusebut itu cinta. Kukira ia perasaan paling dalam yang pernah tumbuh di dadaku. Perasaan yang tak goyah meski waktu berganti musim. Namun perlahan aku mengerti, yang kucintai bukan dia yang nyata, melainkan sosok yang kurakit sendiri dari angan-angan. Aku menambahkan sifat-sifat yang kuinginkan, memberinya ketulusan yang mungkin tak pernah ia janjikan, menyusunnya menjadi seseorang yang terasa sempurna untuk kucintai. Aku jatuh hati pada versi yang kubuat sendiri. Pada bayangan yang tak pernah membantah, tak pernah berubah, tak pernah mengecewakan. Dan mungkin itu sebabnya perasaan ini bertahan begitu lama. Karena imajinasi tak pernah menuntut untu...

Mengusahakan Rumah 🏡

Cerita pendek ini terinspirasi dari lagu "Kita Usahakan Rumah Itu" – Sal Priadi Ada orang-orang yang hadir sebentar dalam hidup, lalu pergi seperti angin. Ada juga yang tidak pernah benar-benar dekat, tapi namanya menetap diam-diam di dalam hati. Dan laki-laki itu, termasuk yang kedua. Kami pernah berada di waktu yang sama, di bangku yang sama, di usia yang terlalu muda untuk memahami apa itu menetap. Aku menyukainya tanpa banyak alasan. Hanya karena cara laki-laki itu tertawa, cara ia terlihat begitu yakin pada dunia, sementara diriku hanya berani yakin pada perasaanku sendiri. Cinta itu tumbuh sendirian. Tidak gaduh. Tidak menuntut. Aku menyimpannya bertahun-tahun seperti menyimpan surat yang tak pernah dikirim. Sesekali dibuka, dibaca ulang, lalu dilipat rapi lagi. Aku tahu, perasaanku tak pernah benar-benar sampai. Sampai suatu hari, waktu mempertemukan kami kembali, bukan sebagai dua anak yang belum mengerti kehilangan, melainkan dua orang dewasa yang sudah pernah patah....

Cukup Aku Saja yang WNI, Katanya

Pendidikan, bagi banyak anak bangsa, bukan sekadar perjalanan pribadi. Melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), negara menitipkan harapan, membiayai putra-putrinya menempuh ilmu hingga ke luar negeri, dengan keyakinan bahwa mereka akan tetap membawa Indonesia dalam identitas dan hatinya. Namun harapan itu mendadak terusik oleh sebuah video yang beredar di media sosial. Seorang perempuan, alumni LPDP, membuka paket berisi dokumen kewarganegaraan asing untuk anaknya. Dalam momen itu, ia mengucapkan sebuah kalimat yang kemudian menjadi sorotan, bahwa cukup dirinya saja yang menjadi Warga Negara Indonesia, dan ia tidak menginginkan hal yang sama bagi anak-anaknya. Kalimat itu menyebar cepat, memantik reaksi luas. Banyak yang merasa kecewa, bukan semata karena pilihan kewarganegaraan, tetapi karena ia adalah penerima beasiswa negara, sebuah kesempatan yang lahir dari kepercayaan dan dukungan publik. Ucapannya dianggap melukai rasa kebangsaan, seolah ada jarak antara diriny...

Risol, Senja, dan Mereka yang Tak Ingin Ketinggalan

Menjelang senja di Palangka Raya, jalanan berubah menjadi ruang yang dipenuhi langkah-langkah cepat dan mata yang siaga. Waktu berbuka memang belum tiba, tetapi orang-orang sudah berdatangan, seolah memahami satu hal yang sama, yaitu takjil tidak pernah menunggu. Fenomena ini akrab disebut sebagai war takjil, sebuah perlombaan sunyi yang hanya terjadi setahun sekali. Meja-meja sederhana dipenuhi beragam hidangan. Plastik berisi es buah bergoyang pelan tertiup angin, dan aneka gorengan tersusun rapi, menunggu takdirnya sebelum azan magrib tiba. Di antara semua pilihan itu, risol tetap menjadi pusat perhatian. Kulitnya tipis dan keemasan, dengan tekstur renyah yang menjanjikan kehangatan di gigitan pertama. Namun kini, risol tidak lagi hanya tentang sayur atau ayam. Ia telah berevolusi mengikuti selera zaman. Risol coklat dengan isi manis yang lumer, serta risol matcha dengan warna hijau lembut yang khas, menjadi varian baru yang viral dan banyak dicari. Nampan-nampan pedagang cepat koso...

Sebuah Kedekatan yang Berujung Luka

"وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا" Artinya: " Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk ." (QS. Al-Isra': 32) Ayat itu tidak hanya berbicara tentang perbuatan, tetapi tentang permulaan. Tentang bagaimana sesuatu yang haram sering diawali oleh hal-hal yang terasa sederhana, sebuah perhatian, percakapan yang semakin akrab, dan kedekatan yang perlahan melampaui batas. Allah melarang manusia bahkan untuk mendekatinya, karena Dia Maha Mengetahui betapa rapuhnya hati manusia ketika dibiarkan berharap tanpa kepastian. Larangan itu adalah penjagaan. Bukan untuk membatasi, tetapi untuk melindungi. Agar tidak ada hati yang terluka, dan tidak ada kehidupan yang hancur karena perasaan yang tidak diarahkan oleh iman. Namun, tidak semua kedekatan berakhir dalam penjagaan. Fara dan Raihan pernah saling mengenal dekat. Mereka berbagi waktu, berbagi cerita, dan berbagi ruang dalam ...