Langsung ke konten utama

Suara-Suara Kecil yang Tak Pernah Pergi

"Mau dimasakin apa buat dibawa ke kost, Dek?"

"Barang-barangnya dicek lagi, takut ada yang ketinggalan."

"Hati-hati pulangnya. Kalau ada apa-apa di jalan, kabarin."

"Langsung telepon kalau sudah sampai kost."

Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana, seperti percakapan yang bisa terulang kapan saja. Tapi justru di situlah hangatnya tinggal, di nada suara yang pelan, di perhatian yang tak pernah dibuat-buat, di kebiasaan yang diam-diam menjadi bentuk cinta paling utuh.

Setiap kali aku kembali merantau, rumah selalu terasa sedikit lebih sunyi bahkan sebelum aku benar-benar pergi. Mama dengan kesibukannya di dapur, seolah ingin memastikan aku membawa pulang lebih dari sekadar makanan. Ayah dengan pengingat-pengingat kecilnya, yang terdengar biasa, tapi sebenarnya adalah cara paling jujur untuk mengatakan "hati-hati" dan "jaga diri baik-baik."

Dan aku mulai mengerti, bahwa yang paling sulit ditinggalkan bukanlah tempatnya, melainkan suara-suara itu, yang terus terngiang bahkan ketika jarak sudah memisahkan. Suara yang sederhana, tapi mampu menemani perjalanan, menghangatkan hati, dan mengingatkan bahwa di suatu tempat, ada yang selalu menunggu kabar aku baik-baik saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...