"Mau dimasakin apa buat dibawa ke kost, Dek?"
"Barang-barangnya dicek lagi, takut ada yang ketinggalan."
"Hati-hati pulangnya. Kalau ada apa-apa di jalan, kabarin."
"Langsung telepon kalau sudah sampai kost."
Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana, seperti percakapan yang bisa terulang kapan saja. Tapi justru di situlah hangatnya tinggal, di nada suara yang pelan, di perhatian yang tak pernah dibuat-buat, di kebiasaan yang diam-diam menjadi bentuk cinta paling utuh.
Setiap kali aku kembali merantau, rumah selalu terasa sedikit lebih sunyi bahkan sebelum aku benar-benar pergi. Mama dengan kesibukannya di dapur, seolah ingin memastikan aku membawa pulang lebih dari sekadar makanan. Ayah dengan pengingat-pengingat kecilnya, yang terdengar biasa, tapi sebenarnya adalah cara paling jujur untuk mengatakan "hati-hati" dan "jaga diri baik-baik."
Dan aku mulai mengerti, bahwa yang paling sulit ditinggalkan bukanlah tempatnya, melainkan suara-suara itu, yang terus terngiang bahkan ketika jarak sudah memisahkan. Suara yang sederhana, tapi mampu menemani perjalanan, menghangatkan hati, dan mengingatkan bahwa di suatu tempat, ada yang selalu menunggu kabar aku baik-baik saja.
Komentar
Posting Komentar