Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Menutup Oktober dengan Syukur

Akhirnya, Oktober pun menutup kisahnya. Bulan yang terasa panjang, penuh warna, penuh cerita. Ada tawa yang tumbuh dari hal-hal sederhana, ada air mata yang diam-diam jatuh di antara malam yang sunyi. Semuanya bercampur, membentuk mozaik kenangan yang tak akan kulupa. Namun di atas segalanya, aku tetap bersyukur. Untuk setiap pertemuan, kehilangan, dan pelajaran yang terselip di antaranya. Kini, dua bulan terakhir di tahun ini menunggu di depan. Semoga langkah yang tersisa membawa lebih banyak kebaikan, ketenangan, dan hal-hal indah yang tak terduga. 

Di Antara Jatuh dan Cinta, Ada Kamu

Ketika telingaku mendengar kata "jatuh" dan "cinta", seluruh isi kepalaku tiba-tiba bergetar, seolah dua kata itu bersekongkol untuk mengingatkanku padamu, pada perasaan yang diam-diam tumbuh tanpa pernah kuizinkan berbicara. ‎Setiap huruf dalam "jatuh" terasa seperti langkahku menuju jurang rahasia, dan setiap suku kata dalam "cinta" adalah panggilan lembut yang harus kutelan sebelum sampai di bibir. ‎Aku tak tahu sejak kapan namamu menjadi bayang yang betah di pikiranku, lalu menyelinap di sela-sela doa, di antara keheningan malam, dan di antara tawa yang pura-pura tak peduli. ‎Dunia tetap berjalan seperti biasa, tapi di dalam diriku, ada getar yang tak pernah selesai kusembunyikan. ‎Mungkin begitulah cinta yang terpendam, tidak meminta balasan, tidak menuntut keberanian untuk diucapkan. ‎Ia hanya ingin diam di sana, di antara napas dan denyut, sebagai rahasia kecil yang tetap hidup meski tak pernah diperjuangkan.

Percakapan Kecil tentang Doa dan Takdir

Tadi aku menemukan sebuah tulisan yang begitu sederhana, tapi entah kenapa saat membacanya, tubuhku langsung merinding. Isi tulisannya begini: Seorang anak kecil bertanya , "Jika semuanya sudah tertulis dalam takdir, mengapa aku harus tetap berdoa?" Tuhan menjawab, "Barangkali dalam bagian dari takdirmu, Aku menuliskan: 'semua akan berjalan sesuai doamu'." Kalimat itu menampar lembut kesadaranku. Betapa sering kita lupa bahwa doa bukan sekadar permintaan, melainkan jembatan antara usaha dan takdir. Tulisan ini membuatku tersadar bahwa kuasa Tuhan begitu luas, hingga bahkan dalam garis takdir yang sudah ditentukan, Dia masih memberi ruang bagi doa untuk mengubah arah hidup kita.

Tentang Mereka yang Datang dan Pergi

Dulu aku belum mengerti mengapa di dunia ini harus ada konsep "Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya?" Dan aku selalu bertanya-tanya,  "Why can't we just stay together forever?" Tapi, setelah ku pikir-pikir lagi, mungkin memang begitu cara semesta bekerja. Some people are meant to stay for a lifetime, while others just pass by, to teach us a lesson, to heal us, or simply to remind us that love, no matter how brief, still matters.  

Bukan Sekadar Thriller, Tapi Ini Perjuangan Seorang Ayah

Sejujurnya, aku bukan penggemar film  thriller kriminal . Biasanya aku lebih suka menikmati film slice of life atau romance , yang ringan dan menenangkan hati tanpa perlu membuat otak bekerja keras. Karena itu, ketika Pak Jumadi menyarankan film Drishyam , aku tidak terlalu bersemangat. Dalam pikiranku, film ini pasti hanya tentang kejahatan, polisi, dan misteri yang rumit. Tapi ternyata, aku salah besar. Film Drishyam benar-benar di luar ekspektasiku. Sejak menit-menit awal, suasananya terasa realistis dan tenang, tentang kehidupan sederhana seorang pria bernama Vijay Salgaonkar, seorang ayah dan suami yang hidup bersama keluarganya di desa. Ia hanya seorang pemilik usaha kecil di bidang pemeliharaan kabel televisi, hidupnya tampak biasa, bahkan membosankan. Tapi di balik kesederhanaan itu, ternyata tersembunyi kecerdikan luar biasa yang membuat film ini jadi sangat menegangkan. Menurutku yang membuat film Drishyam  ini begitu memukau adalah bagaimana Vijay tidak pernah keh...

Gaitonde, Si Iblis yang Bikin Darah Mendidih

BARU AJA SELESAI NONTON FILM DRISHYAM . Dan ya, Pak Jumadi benar banget! 😭 Film ini bener-bener bikin napas tertahan dari awal sampai akhir. Setiap adegan rasanya kayak teka-teki yang pelan-pelan dibuka, tapi tetap aja nggak bisa ditebak sama sekali. Tangan masih gemetaran waktu ngetik ini. Dan sumpah, Gaitonde itu iblis dalam wujud manusia! 😤 Benci banget lihat kelakuannya, setiap kali muncul, rasanya pengen teriak!!!! Belum sanggup nulis ulasan panjang sekarang, jujur masih shock berat sama ending -nya yang mindblowing banget. Besok aja lanjut ulasan lengkapnya, kalau jantung udah tenang, haha.  

Transfer Terakhir dari Bapak

  Latar: Mini ATM di pinggir jalan kampus, siang hari yang terik menyengat. Udara panas berdebu, suara kendaraan saling bersahutan, tapi terasa jauh. Mesin ATM berdengung pelan, seolah menahan napas. Tokoh: Yuni, Ibu, Bapak, dan Fatih. Yuni berdiri di depan mesin ATM. Keringat menetes di pelipisnya. Ia memegang kartu ATM lusuh, lalu memasukkannya. Mesin berbunyi pelan. Layar menampilkan: 'Saldo: Rp120.000.' Yuni: "Uang segini mana cukup buat bayar UKT." Tak lama ponselnya berdering. Nama Ibu muncul. Yuni tersenyum kecil, langsung menjawab. Yuni: "Halo, Bu." Ibu: "Nak, sudah makan? Di sana panas, ya? Ibu di sini juga udah kayak dijemur matahari." Hening sebentar. Ibu terbatuk-batuk pelan di seberang. Yuni: "Batuknya belum sembuh, Bu? Udah ke dokter, kan?" Ibu: "Iya, Nak, ini cuma batuk biasa, besok pasti juga sembuh." Ibu: "Gimana? Kamu sudah makan?" Yuni: "Belum, Bu. Ini lagi mau ambil duit buat beli makan....

Antara Nervous dan Semangat

Tadi siang, aku dan teman-teman sekelompok menjalani bimbingan pertama mata kuliah Mikroteaching bersama Pak Paul. Awalnya kami semua agak tegang, membayangkan suasana yang kaku dan penuh tekanan. Tapi ternyata, tidak semenegangkan yang kami pikirkan, haha. Begitu sesi bimbingan selesai dan Pak Paul keluar ruangan, suasana langsung mencair. Kami semua sepakat untuk mengundi siapa yang akan praktik mengajar pertama kali . Dan, tahu hasilnya apa? Ya, namaku yang pertama keluar. 😣 Awalnya aku sempat bengong, antara mau protes atau pasrah. 😂 Sebenarnya tidak masalah sih, hanya saja aku sadar bahwa waktu persiapanku akan lebih sedikit dibanding teman-teman lain. Tapi ya sudah, anggap saja ini tantangan awal yang harus aku hadapi dengan senyum. Yang penting, aku tetap optimis. Semoga semuanya berjalan lancar, dan semoga hal-hal baik terus menghampiri,  bukan cuma untukku, tapi juga untuk teman-teman sekelompokku . Karena perjalanan Mikroteaching ini baru saja dimulai, dan aku yak...

Mencintai dengan Sederhana, Seperti Sarwono dan Pingkan

  Aku sebenarnya sudah pernah menonton film Hujan Bulan Juni beberapa tahun lalu, tapi ketika dosenku, Pak Jumadi, meminta kami untuk menontonnya, aku merasa senang. Ada sesuatu yang berbeda kali ini, aku menontonnya bukan sekadar untuk menikmati cerita, tapi untuk memahami maknanya lebih dalam. Dan benar saja, film ini terasa begitu berbeda dari film romansa lainnya. Menurutku, di film ini Sarwono dan Pingkan mampu memperlihatkan bagaimana mencintai dengan benar. Pola pikir mereka dewasa. Mereka punya kekhawatiran masing-masing, namun sama-sama berusaha terbuka dan berkomunikasi. Aku suka sekali cara mereka berbicara satu sama lain, jujur, tenang, tanpa drama yang berlebihan. Kata orang, komunikasi adalah kunci hubungan yang baik, dan aku sepenuhnya setuju. Film Hujan Bulan Juni bagiku seperti puisi yang hidup di antara hujan dan sunyi. Ia tidak memaksa penontonnya untuk menangis, tapi perlahan membuat hati ikut larut dalam keteduhan. Menontonnya kembali membuatku merasa seolah se...

Pertama Kali Aku Jatuh Cinta pada Kata

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.  Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Puisi Aku Ingin adalah perjumpaan pertamaku dengan keindahan sastra. Di saat kata-kata berubah menjadi perasaan, dan keheningan berbicara lebih lantang dari suara. Sapardi Djoko Damono, lewat kesederhanaan puisinya, seolah mengajarkanku bahwa cinta sejati tidak membutuhkan banyak kata, cukup ketulusan yang diam-diam menyala. Dari puisinya aku mengerti, bahwa sastra bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan napas halus yang membuat jiwa hidup dan mengerti makna. Sejak saat itu, aku tahu bahwa aku telah jatuh cinta, bukan hanya pada puisinya, tapi pada seluruh dunia kata yang ia buka untukku.

Belajar Hidup Lagi

  • • • Film ini tidak tentang kematian, tapi tentang keberanian untuk hidup lagi, bahkan ketika segala alasan untuk bertahan sudah ikut terkubur bersama seseorang yang kita cintai. 

Yang Tak Setara, Tapi Satu Rasa

  Waktu: Tahun 1887 Latar: Ruang utama rumah keluarga Hendrik De Vries di Batavia. Sebuah rumah besar bergaya Eropa, pilar tinggi, pintu besar berukir, dan cahaya lampu minyak menerangi ruangan yang sunyi. Tokoh: Tuan Hendrik De Vries (55 tahun) Nyonya Helena De Vries (55 tahun) Eduard De Vries (21 tahun) Ratna (29 tahun) Lampu menyala lembut. Eduard berdiri di dekat pintu besar, memegang topi, tampak gelisah. Tuan Hendrik De Vries dan Nyonya Helena De Vries duduk di kursi berukir, saling berpandangan tegang. Tuan Hendrik De Vries: "Eduard, aku dengar kau berniat melamar seorang perempuan pribumi? Katanya, dia pelayan di rumah ini?" Eduard: "Namanya Ratna, Ayah. Dan iya, aku mencintainya." Nyonya Helena De Vries: "Kau baru dua puluh satu tahun, Eduard. Dia perempuan dua puluh sembilan tahun. Kau bahkan belum tahu apa itu cinta yang benar, sementara dia, mungkin dia tidak benar-benar mencintaimu. Dia hanya mengincar kekuasaan di sin...

Tentang Waktu, Rasa, dan Yang Tak Pernah Usai ~ Ada Apa Dengan Cinta? 2

  Di season 2 ini, Cinta dan Rangga kembali bertemu setelah bertahun-tahun berpisah. Mereka sudah punya kehidupan masing-masing, tapi ada hal-hal yang belum sempat diselesaikan. Pertemuan mereka di Yogyakarta bukan sekadar reuni, tapi semacam perhitungan dengan masa lalu, tentang kata-kata yang tak sempat diucapkan, dan perasaan yang belum benar-benar hilang. Yang paling aku suka dari film ini adalah kejujurannya. Tidak ada kisah cinta yang dibuat-buat. Semua terasa alami, seperti dua orang yang benar-benar tumbuh dan berubah bersama waktu. Film ini membuatku berpikir bahwa setiap pertemuan dalam hidup punya alasan, dan setiap perpisahan punya maknanya sendiri.

Untuk Nenek, di Tempat yang Lebih Tenang 🥀

Selama dua puluh tahun aku hidup, jarang sekali aku menerima kabar kehilangan. Dan untuk itu, aku selalu bersyukur. Namun, pada tanggal 12 Oktober 2025, tepat pukul 01.33 dini hari, ada sebuah pesan masuk yang membuat hatiku teriris. Itu adalah kabar kehilangan pertama yang benar-benar membuatku menangis. Kedua kakek dan satu nenekku yang lain telah berpulang sebelum aku sempat mengenal mereka. Tapi dengan nenek yang baru saja pergi ini, aku pernah berbagi waktu selama sembilan tahun lamanya, sebelum akhirnya aku pindah ke Kalimantan Tengah. Sembilan tahun yang penuh cerita, tawa, dan kasih sayang, cukup untuk membuatku mengenalnya, cukup untuk membuat kehilangan ini terasa begitu nyata. Sudah sebelas tahun kami tidak pernah bertemu lagi. Dan kini, kabar ini menegaskan bahwa pertemuan itu tidak akan pernah terjadi lagi, selamanya. Andai waktu bisa diputar kembali, aku akan lebih sering menelponnya, lebih sering mengucapkan sayang dan cinta. Tapi waktu adalah hal yang mutlak, ia tidak p...

Menelusuri Kembali Jejak Ada Apa Dengan Cinta?

  Dulu, aku nonton film ini waktu masih awal-awal SMA. Saat itu, aku belum terlalu paham makna cinta atau perasaan yang rumit seperti yang ditampilkan di film Ada Apa Dengan Cinta? ini. Tapi setelah nonton lagi sekarang, baru terasa betapa kuatnya pesan dan perasaan yang ada di dalamnya. Menurutku yang membuat film ini menarik adalah bagaimana kisahnya terasa sangat dekat dengan kehidupan remaja. Konflik antara persahabatan dan perasaan, keinginan untuk selalu terlihat kuat di depan teman, sampai kebingungan dalam memahami perasaan sendiri, semuanya terasa nyata. Aku masih ingat, waktu pertama nonton, rasanya kayak melihat potongan kehidupan teman-teman di sekolah, bukan adegan dalam film. Salah satu adegan yang paling membekas tentu saja adegan di bandara, saat Rangga harus pergi dan meninggalkan Cinta. Di adegan itu, perasaan benar-benar campur aduk, sedih karena mereka berpisah, tapi juga senang karena mereka akhirnya sama-sama tahu perasaan masing-masing. Dulu aku mungkin meng...

Lima Detik yang Menjadi Awal

Mungkin semesta memang gemar sekali bercanda, ia mempertemukan dua orang asing dalam waktu yang sesingkat itu. Lima detik pandangan, lima detik diam, tapi rasanya cukup untuk membuat jantungku berdetak tidak karuan. Kau berdiri di sana, sederhana tapi menenangkan, seolah waktu ikut menunduk memberi ruang untuk detik kecil itu menjadi sesuatu yang istimewa. Aku tidak tahu apa yang semesta pikirkan saat itu, tapi yang aku tahu, sejak pandangan pertama itu, pagi-pagiku tak lagi sama. Setiap kali aku mengingat tatapanmu, hatiku terasa hangat, bukan karena cinta yang meledak, tapi karena sesuatu yang tumbuh diam-diam dan jujur. Mungkin bagi dunia itu hanya pertemuan biasa, tapi bagiku, lima detik itu cukup untuk membuat segalanya terasa lebih indah. Aku tak pernah menyangka, lima detik itu cukup untuk menghidupkan kembali rasa yang diam-diam sudah lama ingin menemukan tujuannya.

Dalam Diam Aku Jatuh

Aku yang datang terlalu pagi , atau mungkin memang semesta yang sengaja mempertemukan kami begitu. Ia berdiri di depan pintu, seolah sedang menunggu sesuatu , tapi mungkin bukan aku . Kami tidak berbicara, bahkan belum saling kenal. Tapi diam-diam , hatiku sudah lebih dulu menghafal caranya berdiri di bawah cahaya pagi. Aku tidak tahu ini apa, tapi setiap kali mengingatnya , rasanya seperti kembali ke detik itu lagi .

Zainuddin & Hayati ~ Cinta yang Abadi

Aku baru saja menuntaskan sebuah film yang benar-benar meninggalkan kesan mendalam, yaitu film  Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck . Sejak awal hingga akhir film, aku terpaku pada deretan dialognya yang begitu indah, puitis, dan penuh akan makna. Salah satu dialog yang membekas adalah ucapan Hayati kepada Zainuddin di tepi danau, saat Zainuddin hendak meninggalkan Batipuh.  "Zainuddin, hati saya dipenuhi cinta kepada kau. Dan biar Tuhan mendengarkannya, bahwa engkau lah Zainuddin yang akan menjadi suamiku kelak. Bila tidak di dunia, kau lah suamiku di akhirat." Bagiku kalimat itu tidak hanya romantis, tetapi juga penuh dengan keikhlasan menerima takdir. Seolah ingin menegaskan bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya, bahkan bila harus menembus batas kehidupan dan kematian. Bagian paling menggetarkan hati yang mampu membuatku menitihkan air mata datang dari surat terakhir Hayati untuk Zainuddin. Dalam surat itu, ia menulis: "Zainuddin, kaulah yang terpatri di dala...

HAHAHA