Selama dua puluh tahun aku hidup, jarang sekali aku menerima kabar kehilangan. Dan untuk itu, aku selalu bersyukur. Namun, pada tanggal 12 Oktober 2025, tepat pukul 01.33 dini hari, ada sebuah pesan masuk yang membuat hatiku teriris. Itu adalah kabar kehilangan pertama yang benar-benar membuatku menangis.
Kedua kakek dan satu nenekku yang lain telah berpulang sebelum aku sempat mengenal mereka. Tapi dengan nenek yang baru saja pergi ini, aku pernah berbagi waktu selama sembilan tahun lamanya, sebelum akhirnya aku pindah ke Kalimantan Tengah. Sembilan tahun yang penuh cerita, tawa, dan kasih sayang, cukup untuk membuatku mengenalnya, cukup untuk membuat kehilangan ini terasa begitu nyata.
Sudah sebelas tahun kami tidak pernah bertemu lagi. Dan kini, kabar ini menegaskan bahwa pertemuan itu tidak akan pernah terjadi lagi, selamanya.
Andai waktu bisa diputar kembali, aku akan lebih sering menelponnya, lebih sering mengucapkan sayang dan cinta. Tapi waktu adalah hal yang mutlak, ia tidak pernah bisa diminta kembali.
Kini, hanya doa yang bisa kupersembahkan. Semoga nenek diterima di sisi-Nya dengan damai, semoga amal ibadahnya diterima, dan semoga suatu hari nanti, Tuhan berkenan mempertemukan kami kembali, meski hanya lewat mimpi.
Istirahat dengan tenang, ya, Nek 🥀🤍

Komentar
Posting Komentar