Langsung ke konten utama

Untuk Nenek, di Tempat yang Lebih Tenang 🥀

Selama dua puluh tahun aku hidup, jarang sekali aku menerima kabar kehilangan. Dan untuk itu, aku selalu bersyukur. Namun, pada tanggal 12 Oktober 2025, tepat pukul 01.33 dini hari, ada sebuah pesan masuk yang membuat hatiku teriris. Itu adalah kabar kehilangan pertama yang benar-benar membuatku menangis.

Kedua kakek dan satu nenekku yang lain telah berpulang sebelum aku sempat mengenal mereka. Tapi dengan nenek yang baru saja pergi ini, aku pernah berbagi waktu selama sembilan tahun lamanya, sebelum akhirnya aku pindah ke Kalimantan Tengah. Sembilan tahun yang penuh cerita, tawa, dan kasih sayang, cukup untuk membuatku mengenalnya, cukup untuk membuat kehilangan ini terasa begitu nyata.

Sudah sebelas tahun kami tidak pernah bertemu lagi. Dan kini, kabar ini menegaskan bahwa pertemuan itu tidak akan pernah terjadi lagi, selamanya.

Andai waktu bisa diputar kembali, aku akan lebih sering menelponnya, lebih sering mengucapkan sayang dan cinta. Tapi waktu adalah hal yang mutlak, ia tidak pernah bisa diminta kembali.

Kini, hanya doa yang bisa kupersembahkan. Semoga nenek diterima di sisi-Nya dengan damai, semoga amal ibadahnya diterima, dan semoga suatu hari nanti, Tuhan berkenan mempertemukan kami kembali, meski hanya lewat mimpi.

Istirahat dengan tenang, ya, Nek 🥀🤍

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...