Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Januari —> Februari

Hari ini Januari menutup dirinya dengan pelan, meninggalkan jeda sebelum esok membuka lembar baru. Harapanku tak berubah. Semoga kebahagiaan menemukan jalannya kepadaku dan kepada mereka yang kusebut rumah. Karena bagiku, bahagia tak pernah bisa berdiri sendiri, ia baru terasa lengkap ketika orang-orang terkasih ikut menggenggamnya.

Tentang Nama yang Enggan Pergi

Kepada satu nama yang masih memilih tinggal di sudut hatiku yang paling sunyi, sampai kapan kau akan berdiam di sana? Aku letih merawat rindu yang tak pernah meminta izin untuk tumbuh dan menetap. Aku kira waktu akan pandai mengusirmu, nyatanya ia justru mengajariku cara mengingat. Perasaanku, sialnya, terlalu jujur untuk berdusta. Ia tetap ingin menyimpanmu, meski lelah perlahan menjelma luka yang diam. Entah sampai kapan semua ini bertahan, aku pun tak tahu. Hatiku hanya tahu satu hal, ada nama yang belum selesai, dan aku masih kalah oleh keinginannya untuk tinggal.
 "Selamat tinggal hanya untuk mereka yang mencintai dengan matanya, karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, tak ada yang namanya perpisahan." — Jalaluddin Rumi —

Berjalan di Bawah Hujan

Aku baru saja selesai menonton salah satu film Indonesia. Menjelang film itu berakhir, ada sebuah kalimat yang diucapkan salah satu pemeran yang maknanya begitu dalam dan membekas bagiku. Kurang lebih begini kalimatnya.  "Tidak semua orang mau dikasih payung. Banyak yang suka berjalan dibawah hujan." Kalimat itu memang terdengar ringan, namun menyimpan banyak sekali lapisan makna. Tentang manusia-manusia yang meski diberi kesempatan untuk berlindung, mereka tetap memilih melangkah sendiri. Bukan karena mereka menolak kepedulian, melainkan karena mereka ingin merasakan hidup tanpa perantara, menjadi utuh dan apa adanya. Berjalan tanpa payung memang mengajarkan banyak hal, tentang menerima, bertahan, dan berdamai dengan diri sendiri. Ada jiwa-jiwa yang ingin tumbuh tanpa bersandar, yang percaya bahwa luka dan lelah adalah guru yang jujur. Maka ketika seseorang memilih hujan, mungkin ia sedang belajar menjadi kuat dengan caranya sendiri, dan itu pun layak untuk dihormati.

Aku dan Dia yang Kusebut Kakak

Di tulisan sebelumnya, aku sempat menyebut tentang kembaranku. Iya, aku memang memiliki seorang kembaran. Namun, kami tak begitu mirip. Kata Ayah dan Mama, mungkin karena kami lahir dengan selang waktu satu jam. Ceritanya sebenarnya cukup panjang. Singkatnya, saat mengandung kami berdua, Mama tak mengetahui bahwa ada dua bayi di dalam perutnya. Setelah kembaranku lahir, barulah orang yang membantu persalinan Mama menyadari bahwa masih ada satu bayi di sana. Dan benar saja, bayi itu adalah aku. Nama kembaranku Nabilah. Hanya berbeda satu huruf denganku. Meski begitu, aku lebih senang memanggilnya dengan satu sebutan yang terasa paling tepat, yaitu Kakak . Ia adalah orang pertama setelah kedua orang tuaku yang selalu kusematkan dalam doa-doaku. Aku ingin hidupnya baik-baik saja, bersama siapa pun dan di mana pun ia berada. Aku ingin ia menikmati hidup dengan sebaik-baiknya, sebab kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga. Sebelum kami sama-sama merantau untuk kuliah, aku sering sekali mer...

Liburan Sederhana di Rumah

Seperti yang pernah kusampaikan di postingan blog sebelumnya, tulisan ini akan bercerita tentang liburan kuliahku kemarin. Selama masa libur itu, sebenarnya ada keinginan besar untuk menuliskan kegiatanku setiap hari di blog ini. Namun niat itu kuurungkan. Aku memilih menyimpannya, mengendapkannya, lalu menuangkannya sekaligus di sini, dalam satu cerita yang utuh. Selama di rumah, aku tidak banyak pergi ke mana-mana. Tak ada perjalanan wisata, tak ada tempat baru yang kudatangi. Hari-hariku diisi dengan hal-hal sederhana, berada di rumah, mengobrol, makan bersama, tertawa kecil bersama Mama, Ayah, dan kedua kakakku. Anehnya, justru di sanalah aku menemukan keindahan yang paling jujur. Keindahan yang tak bisa ditukar dengan destinasi mana pun. Setiap kali pulang ke rumah, aku benar-benar merasa pulang. Tidurku lebih nyenyak, makanku lebih nikmat. Waktu terasa berjalan lebih pelan, seolah semesta memang sengaja agar aku bisa lebih menikmati momen bersama mereka.  Bermain bersama adik...

🙏🏻

Wah, sudah cukup lama tidak menulis di sini, haha. Sebenarnya banyak hal yang ingin ku tulis kemarin-kemarin, cuma rasanya tangan ini berat sekali untuk mengetik... 😔 Setelah ini, mungkin akan ada beberapa hal yang akan ku tulis. Tentang pergantian tahun, tentang "Dia" lagi, dan tentang liburan kemarin.