Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Kota Ini Tak Sama Tanpamu

Belakangan ini aku sedang jatuh cinta pada satu lagu dengan judul Kota Ini Tak Sama Tanpamu milik Nadhif Basalamah. Setiap kali melodi itu mengalun, pikiranku selalu berkelana, dan entah bagaimana, ujung perjalanannya selalu berhenti di satu nama, 'Dia'. Ada sesuatu dari lagu itu yang membuat ruang-ruang dalam diriku mendadak sunyi, lalu dipenuhi rindu yang tak pernah selesai dijelaskan.  Dari lagu itu, sebuah keinginan kecil tumbuh perlahan, yaitu menulis cerita singkat. Cerita tentang rasa, tentang diam yang berbicara, tentang seseorang yang membuat sebuah kota terasa lebih hidup. Semoga siapa pun yang membaca cerita ini nantinya dapat merasakan sedikit dari hangat yang kusembunyikan di balik setiap kalimat.  Kota Ini Tak Sama Tanpamu  Stasiun Tugu Yogyakarta sore itu dipenuhi langkah orang-orang yang ingin kembali pulang. Suara pengumuman keberangkatan bergema, bercampur dengan desis kereta yang baru tiba. Di tengah hiruk pikuk itu, Hana berdiri dengan kedua tangan me...

Dan Itu, Sudah Lebih dari Cukup

Jika kita tidak ditakdirkan bersama, setidaknya biarkan hatiku tenang. Biarkan perasaan yang selama ini kujaga dengan lembut menemukan tempat untuk beristirahat. Biarkan aku memandangmu dari jauh tanpa luka yang menusuk, hanya rindu yang manis, yang cukup untuk membuatku tersenyum tanpa menyakitiku. Karena pada akhirnya, cinta bukan tentang memilikimu. Cinta adalah tentang merayakan kehadiranmu, meski kau tidak pernah menjadi milikku. Dan itu, sudah lebih dari cukup.

Aku, yang Selalu Mencintainya Dalam Sunyi

Kadang aku tersenyum sendiri ketika memikirkan dia. Betapa anehnya aku bisa mencintainya selama ini, sejak masa-masa polos di SMP sampai kini aku sudah duduk di bangku kuliah. Seolah hatiku tidak pernah benar-benar berpindah arah, selalu kembali padanya, seperti rumah yang diam-diam kurindukan. Lalu aku bertanya pada diriku, apakah wajar jika aku masih berharap? Karena di satu sisi, aku tulus, sungguh. Kalau dia jatuh cinta pada perempuan lain, aku ingin tetap bisa mendoakan kebahagiaannya. Ada bagian dariku yang ingin percaya bahwa cinta itu memang bebas, tidak harus dimiliki untuk bisa dirasakan. Tapi di sisi lain, hatiku masih bergetar setiap kali memikirkan dia. Ada perasaan halus yang mengatakan, "Andai saja aku yang dia pilih." Karena jauh sebelum dia mengenal dunia baru, jauh sebelum ada wajah-wajah yang membuatnya tersenyum belakangan ini, aku sudah melihatnya tumbuh. Mungkin itulah sebabnya aku sedikit sakit. Bukan karena mungkin dia telah memilih yang lain, tapi kar...

Rumah yang Tak Pernah Memaksa

Lahir dan tumbuh di keluarga yang tak pernah menuntutku menjadi apapun adalah anugerah yang terus kusyukuri hingga hari ini. Ayah dan Mama, dua sosok yang paling berjasa dalam hidupku. Mereka tak pernah sekalipun mengarahkan hidupku ataupun hidup saudara-saudaraku pada jalan yang mereka pilihkan. Mereka tak pernah berkata, "Jangan jadi ini, nanti kalian akan begini," atau kalimat-kalimat yang menusuk pilihan kami. Sebaliknya, mereka membuka pintu seluas-luasnya, membiarkan kami melangkah dengan keyakinan sendiri, sambil mereka berdiri di belakang, menjadi rumah paling tenang yang selalu menerima kepulangan. Kelak, aku ingin menjadi orang tua seperti mereka. Orang tua yang tidak memaksa, tidak menuntut, dan tidak mengukur kebahagiaan anaknya dengan standar dunia. Aku ingin berkata pada anakku, "Jadilah apa pun, Nak. Kejar apa yang membuat hatimu bahagia. Ibu dan Ayah akan selalu ada di sini untuk menjaga, mendukung, dan merayakan setiap langkahmu."

Perjalanan Menyentuh Bersama Rancho dan Teman-Temannya

Awalnya aku sama sekali nggak punya ekspektasi tinggi terhadap film ini. Tapi ketika melihat ratingnya di Google yang ternyata cukup tinggi, aku langsung bertanya-tanya, “Apa sih yang spesial dari film ini?” Begitu selesai nonton, barulah aku paham, film ini memang layak mendapat semua pujian itu. Sepanjang film, perasaanku benar-benar diaduk-aduk. Kadang ketawa karena kelakuan mereka, tapi tiba-tiba saja air mata ikut jatuh melihat perjuangan masing-masing tokohnya. Ada Farhan yang terjebak di jurusan teknik padahal passion-nya bukan di situ, dan Raju yang selalu merasa menjadi tumpuan harapan keluarganya. Kisah mereka sederhana, tapi sangat menyentuh dan penuh pelajaran hidup. Yang paling bikin aku tercengang adalah kenyataan bahwa Rancho bersekolah menggunakan nama orang lain. Dari situ aku makin kagum dengan pemikirannya, prinsipnya, dan cara dia menjalani hidup. Dia berbeda, dan justru di situlah letak kehebatannya. Film ini jelas menyampaikan kritik terhadap sistem pendidikan di ...

...

  Yang aku tahu dan itu pasti, harapan untuk bersamamu masih setia bersemayam di tiap helaan napasku, tak pudar, tak tunduk pada waktu.

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

🤯💪🏻

Alhamdulillah, praktik mikroteaching sudah berhasil dilalui. Sekarang tinggal menunggu rangkaian UAS yang pastinya dar der dor dan parade kostum yang pasti akan seru. Semoga semuanya berjalan lancar, aamiin.

Hidup Bukan Perlombaan

Terkadang aku sering merasa tertinggal. Melihat orang lain langkahnya jauh di depan sana, sementara aku masih menunggu giliran di sini. Tapi, tak lama aku sadar jika hidup bukan perlombaan, dan aku bukan terlambat, aku hanya melangkah di waktu yang berbeda. Mungkin akan ada cahaya yang disiapkan untukku, pelan-pelan, namun pasti ada. Untuk siapapun yang membaca ini, yang juga merasakan hal yang sama sepertiku, percayalah, bahwa perjalananku, perjalananmu, perjalanan kita, akan indah dengan caranya sendiri. Kita hanya perlu terus melangkah, melangkah, dan terus melangkah. 

Monolog Tentang Melupakan

Setiap hari aku mencoba melupakanmu, tapi mengapa rasanya begitu sulit? Ironis, bukan? Kau tak pernah sepenuhnya hadir dalam hidupku, bahkan tak pernah benar-benar tahu betapa dalam perasaanku. Kau sempat bertanya, bingung, apa yang membuatku menyukaimu begitu rupa. Dan aku tak punya jawaban selain 'aku memang aneh'. Aku ingin kau mengerti tanpa harus kujelaskan, tapi di saat yang sama aku tak ingin menuntut apa pun. Jika hatimu telah memilih orang lain, biarlah begitu. Aku rela menjadi sekadar angin yang lewat di halaman hidupmu, tak tertahan, tapi pernah terasa.

Cerita Absurd Sepertinya Menarik

Setelah selesai kelas Kajian Drama tadi, tiba-tiba kepalaku penuh pertanyaan. "Kenapa aku nggak pernah kepikiran nulis cerita absurd, ya?" Padahal kalau dipikir lagi, nulis yang absurd itu kayaknya seru. Lucu. Bahkan bisa jadi portal pelarian ketika realitas terlalu gitu-gitu aja. Di kelas tadi, otakku penuh ide. Kayak karcis parkir di dompet yang banyak, nggak kepake, tapi nggak dibuang juga. Terus, aku sempat mikir, "Apa aku tulis kisah cinta antara aku dan makanan favoritku mie ayam, ya?" Eh, pandanganku tiba-tiba teralih ke tembok kelas. Ada foto Pak Prabowo dan Pak Gibran lagi senyum, kayak dengerin curhatan mahasiswa yang galau. "Coba kalau mereka bisa nguping semua obrolan di kelas," pikirku. Terus mulai tuh kebayang adegan absurd, misalnya mereka nyatet nilai mahasiswa berdasarkan siapa yang senyum waktu lihat foto mereka. Kayaknya lucu deh, haha. Sebelum pulang tadi, aku sempat beli es di kantin. Sampai di kost, sambil seruput es dan buka dompet, ...

Ada Apa Dengan Dilan?

Untuk siapapun yang membaca tulisan ini, izinkan aku memberi peringatan di awal, bahwasanya ulasan film kali ini tidak akan dipenuhi banyak pujian. Dilan 1990 tayang ketika aku masih duduk di bangku SMP. Saat itu, banyak sekali teman-temanku yang menanti kedatangan film ini dengan penuh antusiasme. Aku? Tidak termasuk salah satunya. Jujur, aku tidak pernah benar-benar menyukai film dari seri Dilan yang sudah ada, baik Dilan 1990 , Dilan 1991, Milea: Suara Dari Dilan, maupun Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 . Aku sudah menonton semuanya, dan bagiku, secara produksi mereka memang bagus. Namun, gaya romansa yang ditampilkan bukan tipe yang membuat aku terpikat. Aku lebih menyukai film dengan sentuhan emosi seperti film The Architecture of Love, Imperfect, atau Sore: Istri dari Masa Depan. Menurutku, daya tarik utama dari seri Dilan, setidaknya untuk tiga film pertamanya adalah chemistry dari dua pemeran utamanya, yaitu Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla. Bisa dibuktikan dari data film...

Menunggu Detik Kau Melihatku

Aku tak tahu kapan episode kekaguman ini akan berakhir. Kisah tanpa judul ini terus berputar, menjadikanmu satu-satunya tokoh di panggung kecil dalam kepalaku. Setiap hari adalah jeda panjang yang kuisi dengan mengagumimu dari kejauhan, pelan, diam, tapi penuh rasa. Yang kutunggu hanya satu, kau menoleh ke arahku. Bukan sekadar lirikan singkat, melainkan tatapan yang akhirnya menyadari keberadaanku. Sampai saat itu datang, aku akan tetap di sini, menahan napas, merawat harapan, dan percaya bahwa penantian ini mungkin saja menjadi awal sebuah cerita yang baru.

Hari Kedua yang Penuh Makna

Alhamdulillah, penyuluhan hari kedua di SMAN 2 Kahayan Tengah telah selesai dengan baik. Rasa syukur yang begitu besar kupanjatkan atas kelancaran hari ini. Jika ditanya apakah lelah, tentu jawabannya iya. Namun, ketika ditanya apakah menyenangkan, maka jawabannya pasti IYAAAAAAAA! Kegiatan penyuluhan hari ini berjalan dengan lancar, meskipun sempat ada sedikit kendala di awal karena smartboard di kelas yang kami masuki mengalami gangguan. Tapi, hal itu bukan masalah besar, semangat kami tetap utuh. Awalnya, aku dan teman-teman sempat mengira bahwa kelas yang kami masuki akan pasif. Saat pertama kali kami datang, tidak ada satu pun yang tersenyum. Suasana terasa kaku, seolah kehadiran kami belum benar-benar mereka rasakan. Namun, seiring berjalannya waktu, suasana mulai mencair. Perlahan tapi pasti, para siswa mulai aktif berpartisipasi, meski kami harus sedikit berjuang memancing antusiasme mereka. Mungkin mereka hanya belum terbiasa dengan kehadiran orang baru, itu pikirku. Aku jadi...

Hari Pertama yang Penuh Makna

Alhamdulillah, hari pertama penyuluhan telah terlaksana dengan baik. Semuanya berjalan lancar tanpa hambatan sedikit pun. Kami merasa sangat enjoy saat menyuluh di kelas, suasananya pun hangat dan menyenangkan. Ternyata, pengalaman menyuluh tidak seseram yang kubayangkan. Sebelumnya, kupikir aku akan merasa mual, mules, atau gugup sebelum tampil di depan kelas. Namun ternyata tidak sama sekali, semua berjalan alami dan tenang. Senang rasanya bisa berinteraksi langsung dengan adik-adik kelas XI-B di SMAN 2 Kahayan Tengah. Di tengah kegiatan tadi, sempat terlintas di pikiranku, “Wah, aku sudah sejauh ini, ya?” Waktu terasa begitu cepat berlalu. Dulu, aku hanya siswa yang melihat kakak-kakak mahasiswa datang ke sekolah untuk menyuluh, dan kini akulah yang berdiri di posisi itu. Ada rasa bangga sekaligus haru. Semoga kegiatan penyuluhan besok juga berjalan lancar tanpa kendala, dan semua rencana dapat terlaksana dengan baik. Aamiin.

Ketika Lelucon Jadi Kritik ~Koboy Kampus

Hal pertama yang langsung menarik perhatianku dari film Koboy Kampus adalah akting para pemainnya yang terasa begitu alami. Bagiku, akting mereka terlihat tidak dibuat-buat, tidak berlebihan, semuanya mengalir apa adanya. Pidi dan kawan-kawannya di “Negara Kesatuan The Panas Dalam” digambarkan sebagai sosok mahasiswa yang santai, kadang nyeleneh, tapi tetap punya pemikiran yang dalam tentang negeri ini.  Mereka tampak cuek pada urusan politik dan pemerintahan, tapi bagiku dari sikap santai itulah muncul bentuk kepedulian yang berbeda dari mereka. Tanpa turun ke jalan atau ikut dalam aksi demo besar-besaran, mereka menunjukkan bentuk nasionalisme yang lain, lewat lagu, humor, dan kritik yang cerdas. Beberapa lirik lagu yang mereka nyanyikan terdengar seperti sindiran halus, tapi tajam kepada pemerintah.  Setiap menonton film yang memunculkan sindiran-sindiran kepada pemerintah walaupun secara tidak langsung, ada satu pertanyaan yang selalu berputar di kepalaku. "Apakah para pet...

Detik yang Berhenti di Namamu

Sampai detik ini pun, masih kamu. Entah sudah berapa ribu detik berlalu sejak pertama kali kita bertemu, tapi rasanya tak ada yang berubah. Aku masih terjebak di antara kenangan dan harapan yang samar. Lucu, ya? Waktu terus berjalan, tapi hatiku masih diam di tempat yang sama, di kamu.

Menjelang Hari Penyuluhan

Tadi pagi kegiatan pelepasan penyuluhan telah dilaksanakan. Rasanya tak percaya, dua hari lagi kami akan benar-benar terjun ke lapangan. Ada rasa takut yang sesekali muncul, khawatir tak cukup mampu, cemas akan hasilnya. Namun, rasa itu harus dilawan.  Dengan segala persiapan yang telah aku lakukan bersama teman-teman kelompok, aku hanya bisa berharap semoga semuanya berjalan lancar. Semoga kami mampu memberikan yang terbaik, bukan hanya dengan kemampuan, tapi juga dengan hati yang ikhlas.

Sisa Tenaga di Penghujung Semester

Belakangan ini aku merasa lelah sekali. Entah karena tugas yang menumpuk, waktu istirahat yang makin sedikit, atau karena rindu yang pelan-pelan tumbuh di hati. Tapi aku tahu, sebentar lagi semuanya akan sampai di ujung, penghujung semester lima. Setelah itu, aku akan pulang. Pulang ke rumah, ke tempat paling aman di dunia. Di sana aku bisa bangun tanpa terburu-buru, tak perlu pusing memikirkan besok mau makan apa, dan bisa mendengar suara tawa yang selalu kurindukan. Ah, rasanya ingin cepat sampai ke rumah. Rindu hangatnya, rindu orang-orang di dalamnya. Di sana, aku bisa benar-benar tenang. Bisa jadi diriku lagi, tanpa beban, tanpa harus berpura-pura kuat.

Sesak yang Bernama Ambisi

Ambisiku bergejolak, antusias tak karuan Banyak mimpi-mimpi yang 'kan kukejar Ketika lirik itu menggema di telingaku, ada sesak yang tak terucap. Aku melihat bayanganku sendiri, belum jadi apa-apa, tapi sudah ingin segalanya. Rasanya perih, melihat diri yang terus berlari. Bukan menuju cita, melainkan menuju pandangan orang lain. Ah, betapa lelahnya ingin tampak hebat, sementara hati sendiri masih belajar menjadi tenang dalam diamnya perjalanan.

Bukan Soal Pakaian, Tapi Soal Pikiran

Ketika terjadi kasus pelecehan terhadap perempuan, masih banyak orang yang dengan mudah berkata, “ Makanya berpakaian yang sopan, jangan keluyuran malam-malam, ” dan berbagai macam kalimat lain yang seolah menyalahkan perempuan. Namun, hari ini aku melihat sebuah berita yang membuatku benar-benar geram. Seorang perempuan dilecehkan saat sedang shalat. Iya, saat ia tengah beribadah dengan khusyuk kepada Tuhannya. Lalu siapa yang salah sekarang? Kurang tertutup apa mukena itu? Ia menutupi seluruh tubuh, hanya wajah yang terlihat. Tapi pelecehan tetap saja terjadi. Ini bukan kali pertama. Kasus seperti ini sudah sering muncul di media sosial, namun tetap saja banyak yang menyudutkan korban. Setiap kali ada peristiwa seperti ini, yang disuruh memperbaiki diri selalu perempuan. Padahal, bukankah seharusnya laki-laki juga belajar memperbaiki diri? Belajar menahan pandangan, belajar menghormati, belajar menjadi manusia yang tahu batas. Pelecehan tidak akan pernah berhenti jika kita terus meny...

Tentang Cinta, Bagiku

Ketika seseorang bertanya padaku apa itu cinta, aku tak akan langsung menjawab dengan kata-kata manis. Akan ku biarkan puisiku yang bergema. Cinta, bagiku, adalah tentang menunggu, tentang kesabaran yang tumbuh dari rindu, tentang diam yang tidak menyerah, tentang keyakinan yang tetap hidup meski waktu berjalan jauh. Cinta bukan tentang siapa yang datang paling cepat,  tapi siapa yang tetap tinggal meski harus menunggu tanpa kepastian.  Ia bukan sekadar perasaan,  melainkan keteguhan hati untuk percaya bahwa yang kita jaga dalam doa,  suatu hari akan menemukan jalannya tuk pulang.

Semoga...

 

Dari Praha, Sebuah Cinta yang Tak Pernah Usai

  Surat dari Praha adalah salah satu film Indonesia terbaik yang pernah aku tonton. Film ini berhasil memadukan unsur sejarah, politik, romansa, dan musik dengan begitu indah, sehingga membuat film ini terasa berbeda dari film Indonesia pada umumnya. Aku masih ingat betul ada satu dialog dari tokoh Jaya yang terdengar begitu romantis sekaligus menyakitkan ketika pertama kali kudengar: “ Ketika saya berangkat ke Praha, saya berjanji pada ibumu. Saya akan segera kembali dan menikahi dia, itu yang pertama. Yang kedua, saya akan mencintai dia selama-lamanya. ” Terdengar romantis, bukan? Tapi setelah kalimat selanjutnya diucapkan, rasanya benar-benar menyayat hati. “ Ternyata, nasib mengizinkan saya hanya menepati yang kedua. ” Saat itu juga aku benar-benar kagum pada sosok Jaya. Ia adalah cerminan laki-laki tulus yang mampu mencintai satu perempuan seumur hidupnya, meski takdir memisahkan mereka. Di pertengahan film, aku sempat berharap akan ada adegan flashback antara Jaya dan Sulas...