Langsung ke konten utama

Ada Apa Dengan Dilan?


Untuk siapapun yang membaca tulisan ini, izinkan aku memberi peringatan di awal, bahwasanya ulasan film kali ini tidak akan dipenuhi banyak pujian.

Dilan 1990 tayang ketika aku masih duduk di bangku SMP. Saat itu, banyak sekali teman-temanku yang menanti kedatangan film ini dengan penuh antusiasme. Aku? Tidak termasuk salah satunya.

Jujur, aku tidak pernah benar-benar menyukai film dari seri Dilan yang sudah ada, baik Dilan 1990, Dilan 1991, Milea: Suara Dari Dilan, maupun Ancika: Dia yang Bersamaku 1995. Aku sudah menonton semuanya, dan bagiku, secara produksi mereka memang bagus. Namun, gaya romansa yang ditampilkan bukan tipe yang membuat aku terpikat. Aku lebih menyukai film dengan sentuhan emosi seperti film The Architecture of Love, Imperfect, atau Sore: Istri dari Masa Depan.

Menurutku, daya tarik utama dari seri Dilan, setidaknya untuk tiga film pertamanya adalah chemistry dari dua pemeran utamanya, yaitu Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla. Bisa dibuktikan dari data film terlaris sepanjang masa yang kudapat dari Wikipedia.

  1. Dilan 1990 dengan total 6.315.664 penonton, peringkat ke-6 film terlaris Indonesia.
  2. Dilan 1991 dengan total 5.253.411 penonton,  peringkat ke-9 film terlaris Indonesia.
  3. Milea: Suara dari Dilan dengan total 3.157.817 penonton, peringkat ke-26 film terlaris Indonesia.

Namun, ketika Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 rilis pada tahun 2024 dengan pemeran dan rumah produksi yang berbeda, angka penontonnya hanya mencapai 1.317.412. Jumlah yang jauh lebih kecil. Apakah karena kehilangan Iqbaal dan Vanesha? Bisa jadi. Bahkan sampai hari ini, ketika beberapa kali sosial media Vanesha lewat di berandaku, komentar di akunnya masih dipenuhi kenangan tentang Milea.

Dan yang masih membuatku bingung adalah kenapa film Dilan terus dilanjutkan? Baru-baru ini muncul poster "Dilan 1997" dengan wajah yang baru lagi. Untuk apa? Bukankah yang diinginkan penonton dari awal adalah melihat Dilan dan Milea bersama? Ketika kita tahu itu tak akan terjadi, apa gunanya terus mengulur cerita yang akhirnya tetap sama? Rasanya seperti membaca bab-bab tambahan yang tak lagi punya inti.

Hanya satu hal yang mampu mencuri perhatianku, yaitu musiknya. Lagu-lagu dari The Panasdalam Bank berhasil membawa suasana menjadi hangat. Bahkan beberapa lagunya masih sering ku putar hingga saat ini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...