Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna.
.
.
.
Latar:
Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya.
Tokoh:
Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan)
Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta)
Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk.
Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis.
Cinta: (tersenyum samar) Dan kamu juga nggak berubah. Masih setia bawa laptop ke mana-mana.
Keduanya tertawa kecil. Suara hujan menjadi musik latar alami.
Byan: (menengadah, menatap hujan) Lucu ya, kita dari SMP sampai kuliah sekarang... tetap sama, yaitu suka menulis.
Cinta: (menoleh sekilas, ia tersenyum) Aku selalu merasa menulis itu adalah cara paling sederhana untukku tetap hidup.
Byan: (mengangguk mantap) Betul. Kalau untukku, menulis itu cara merawat mimpi.
Ada jeda hening. Cinta menatap wajah Byan sebentar, lalu buru-buru kembali menatap hujan.
Cinta: (berucap pelan) Byan, mimpimu masih sama?
Byan: (menarik napas panjang) Masih. Aku masih ingin jadi penulis buku. Aku ingin kata-kataku... sampai ke orang-orang yang mungkin lagi berjuang. Aku ingin mereka merasa tidak sendirian.
Cinta: (tersenyum samar, matanya berkaca-kaca tapi ditahan) Indah sekali, Byan...
Hening. Cinta menggenggam bukunya erat.
Cinta: Kalau mimpiku, lebih kecil.
Byan: (penasaran) Lebih kecil bagaimana?
Cinta: Aku ingin menulis, tapi cukup sampai ke satu orang saja. Satu orang yang membuatku selalu punya alasan untuk menulis.
Byan: (terdiam sejenak, lalu tersenyum hangat) Itu jauh lebih indah, Cinta. Semoga orang itu sadar betapa beruntungnya dia.
Cinta hanya tersenyum. Dalam diam, ia menatap wajah Byan yang masih sibuk menatap hujan. Lalu ia menunduk, menulis di bukunya.
Monolog batin Cinta (sambil menulis, suara hatinya terdengar lirih di panggung):
"Sejak SMP, aku tahu kau adalah alasanku. Kata-kata yang kutulis, mimpi yang kusimpan, semua bermula darimu. Tapi biarlah... biar aku mencintaimu dalam diam. Karena mencintaimu, bahkan tanpa kau tahu, sudah cukup membuatku bahagia. Selama kau terus menulis, selama kau terus bermimpi, aku akan ada di sini, menulismu diam-diam."
Byan menutup laptopnya sebentar, menoleh pada Cinta
Byan: Kalau aku boleh tahu, kamu menulis apa?
Cinta: (menutup bukunya cepat) Ah, cuma catatan kecil. Nggak penting.
Byan (tertawa) Pasti penting. Tulisanmu selalu penuh makna.
Cinta tersenyum kecil, menatap hujan lagi.
Cinta: (pelan) Byan, kamu tahu nggak kalau hujan itu seperti mimpi.
Byan: (mengernyit, penasaran) Maksudnya?
Cinta: Hujan jatuh dengan caranya sendiri. Kadang deras, kadang rintik. Kadang berhenti tanpa kita sadari. Sama seperti mimpi, datang tanpa bisa kita atur. Kita hanya bisa menerimanya, lalu menjadikannya alasan untuk terus berjalan.
Byan: (terpana, tersenyum) Hebat kamu. Kamu selalu bisa merangkai kata seindah itu.
Cinta menunduk, tersipu. Dalam hatinya: “Andai kamu tahu, semua kata-kata indah itu selalu tentangmu.”
Suara hujan mulai mereda. Langit sore tampak lebih tenang. Keduanya masih duduk sejajar. Byan sibuk dengan laptopnya, sementara Cinta menutup buku catatannya, memeluknya di dada, seakan memeluk rahasia.
Lampu panggung perlahan meredup. Hanya suara hujan yang tersisa. Babak selesai.

Komentar
Posting Komentar