Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Palangka Raya Setelah Hujan

  📸: 30 April 2026

Menjadi Mahasiswa yang Hampir Menuju Akhir

Waktu berjalan dengan caranya yang diam-diam, tapi pasti. Dulu, saat masih menjadi mahasiswa baru, aku pernah mengira semuanya akan terasa panjang, bahwa hari-hari bisa dijalani tanpa tergesa, bahwa kelulusan masih jauh di ujung sana. Ada keyakinan yang santai, seolah waktu akan selalu menunggu. Namun, tanpa benar-benar kusadari, ia terus melaju. Tahun-tahun terlewati, membawa serta begitu banyak cerita, tentang tawa yang ringan, tentang lelah yang tak selalu terlihat, tentang kehilangan dan harapan yang silih berganti. Semua bercampur menjadi satu, membentuk perjalanan yang tak selalu mudah dijelaskan, tapi terasa begitu nyata di dalam diri. Dan kini, aku berdiri di titik yang dulu hanya sebatas bayangan. Menjadi mahasiswa yang hampir menuju akhir, dengan segala kesibukan, kecemasan, dan pertanyaan yang datang bersamaan. Ada banyak hal yang harus dipikirkan, banyak langkah yang terasa berat untuk ditentukan. Meski begitu, di tengah semua kerumitan ini, ada rasa syukur yang tumbuh perl...

Tempat yang Tak Pernah Menghakimi

📸: 26 April 2026

Lampu Kecil di Sudut Kamar

  📸: 21 April 2026

Jangan Lupa Makan Mie Ayam

  Di antara hari-hari yang terasa terlalu sunyi, semangkuk sederhana ini hadir tanpa suara, menemani, seolah tahu bahwa ada lelah yang tak sempat menemukan tempat pulang. 📸: 20 April 2026

Setelah Segala Bising

  Ketika siang meninggalkan banyak suara, malam datang merapikannya perlahan. Ia mengubah segalanya menjadi sunyi, tempat paling jujur bagi hati yang ingin kembali pulang. 📸: 18 April 2026

Trusting Allah's Plans For Me

Kadang, tanpa aba-aba, rasa khawatir tentang masa depan datang menghampiri, membuat langkahku terasa ragu dan pikiran dipenuhi tanya yang belum tentu terjawab. Namun di tengah kegelisahan itu, aku kembali mengingat bahwa setiap jalan telah lebih dulu dituliskan, bahkan sebelum aku benar-benar mengerti arti hidup ini. Maka perlahan, aku belajar menenangkan diri. Bahwa tugasku bukan memastikan segalanya berjalan sesuai keinginanku, melainkan memberi yang terbaik dari apa yang bisa kulakukan hari ini. Menjalani setiap proses dengan sungguh-sungguh, sambil tetap percaya bahwa rencana Allah selalu lebih luas dari apa yang mampu kupahami. Dan mungkin, pada akhirnya, bukan tentang seberapa jauh aku mengendalikan masa depan, tetapi seberapa ikhlas aku menjalaninya, dengan usaha yang tulus, hati yang lapang, dan keyakinan bahwa tidak ada satu pun yang luput dari ketetapan-Nya.

Tes Ketajaman Mata

  Selain daun, coba tebak kira-kira ada apa lagi di dalam foto itu?  📸: 17 April 2026

Kucing dan Hening

  📸: 16 April 2026

Tentang Perasaan yang Tak Bisa Segera Usai

Barangkali, aku memang sedang belajar menerima satu hal yang paling pelan untuk dipahami, bahwa tidak semua perasaan harus selesai dengan cepat. Ada yang harus diluruhkan perlahan, seperti hujan yang tak pernah benar-benar deras, tapi cukup untuk membuat hati basah berhari-hari. Aku tidak sedang terburu-buru melupakanmu. Sebab yang pernah tumbuh di dalam dada ini bukan sesuatu yang ringan. Ia pernah kurawat dalam diam, kubesarkan dengan harap yang tak pernah sempat kuucapkan. Ia hidup, diam-diam, di sela-sela sunyi, mengisi ruang kosong dengan namamu, seolah kau benar-benar tinggal di sana. Dan kini, ketika aku harus menjadikannya biasa saja, rasanya seperti diminta meninggalkan rumah yang dulu kubangun sendiri, rapuh, tapi penuh makna. Ada hangat yang pernah kurasa, ada teduh yang sempat kuyakini, meski pada akhirnya aku sadar, tidak semua yang membuat kita merasa pulang benar-benar ditakdirkan untuk menetap. Maka jika suatu hari nanti aku mampu menatapmu tanpa debar yang berlebihan, ...

Di Antara Ketidakmungkinan, Mari Bertahan

Di tengah segala hal yang terasa mustahil, mari kita tetap kembali pada doa. Saat kenyataan seolah menutup banyak jalan, dan harapan perlahan menjauh, jangan buru-buru menyerah. Mungkin, kita memang sedang diuji untuk bertahan sedikit lebih lama dari biasanya. Aku tahu, tidak semua yang kita inginkan akan menjadi nyata. Tapi, bukankah selalu ada ruang kecil dalam diri kita yang masih ingin percaya? Maka genggamlah itu, sekecil apa pun. Sebab kadang, harapan yang paling sederhana justru yang paling mampu menjaga kita tetap berdiri. Jadi, kalau hari ini terasa begitu berat, mari kita menengadah bersama. Menyebut harapan-harapan kita dalam doa, dengan keyakinan bahwa selalu ada jalan, meski belum terlihat sekarang. Dan jika pun belum terwujud, setidaknya kita tidak kehilangan satu hal yang paling penting, yaitu percaya.

Sebab, Semua Orang Sedang Berjuang

Berusahalah untuk tetap menjadi manusia yang baik, bukan karena dunia selalu ramah, melainkan karena kita tak pernah benar-benar tahu luka seperti apa yang sedang disembunyikan orang lain di balik senyumnya. Ada banyak hal yang tak terucap, yang dipendam rapat hanya agar terlihat kuat di hadapan dunia. Setiap orang sedang bertarung, dengan caranya masing-masing. Mereka melawan lelah yang tak selalu tampak, menghadapi hari-hari yang kadang terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian. Meski begitu, mereka tetap berjalan, tetap mencoba bertahan. Maka, jika tak mampu meringankan, setidaknya jangan menambah beban. Sebab bisa jadi, satu kebaikan kecil dari kita adalah alasan sederhana yang membuat seseorang memilih untuk tetap kuat hari ini.

Mengulang Namamu di Hadapan Tuhan

"Tuhan, kalau jalan ceritaku memang dia, karangkan cerita seindah-indahnya. Maafkan ku terlalu banyak meminta." Kalimat itu entah kenapa terasa begitu dekat bagiku, seolah bukan sekadar lirik lagu, tapi potongan doa yang tak pernah sempat kuucapkan dengan utuh. Di antara banyak hal yang kulepaskan, hanya namanya yang tak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal, diam-diam, di setiap jeda doaku, seperti harap yang tak berani pulang. Aku tahu, mungkin aku hanya satu dari sekian kemungkinan yang tak pernah ia pilih. Namun entah kenapa, hatiku selalu kembali, menyebutnya pelan-pelan, seolah Tuhan pun perlu tahu betapa aku menginginkannya.

Melintas di Bahagia Orang Lain

Pagi tadi, di atas motor yang melaju pelan, aku sempat dibuat bingung oleh keramaian di depan sebuah Aula. Dari kejauhan, semuanya tampak berbeda dari biasanya. "Ada apa ini?" batinku, sambil sedikit memperlambat laju motor. Saat semakin dekat, barulah semuanya terlihat jelas. Orang-orang dengan toga hitam berdiri, wajah mereka dipenuhi senyum yang tak bisa disembunyikan. Di sisi lain, ada para orang tua dengan pakaian rapi, mungkin itu yang terbaik yang mereka miliki hari ini. Cara mereka memandang anaknya terasa hangat, bangga, dan penuh haru. Aku hanya lewat. Tidak berhenti. Tapi entah kenapa, pemandangan itu seperti menahan waktu sejenak. Angin pagi menyentuh wajahku tanpa penghalang, membawa rasa yang aneh, tenang, tapi juga menggetarkan. Di tengah laju yang tak benar-benar cepat, mataku mulai terasa hangat. Ada sesuatu yang pelan-pelan mengetuk dada, perasaan yang sulit dijelaskan. Bahagia, meski bukan milikku. Haru, meski aku hanya sekadar melintas. Di atas motor yang ...

Ia dalam Sunyi Tulisanku

Andai ia tahu berapa sering namanya menjelma menjadi kalimat-kalimat yang kutulis diam-diam, mungkin ia tak lagi sibuk mencari cinta ke mana-mana. Sebab tanpa ia sadari, ia telah lama menetap di ruang-ruang sunyi tulisanku, tersusun rapi dalam paragraf yang lahir dari ujung jemariku, yang setiap katanya kupelihara dengan perasaan yang tak pernah sempat kusampaikan. Di sana, aku menyimpannya dengan cara paling sederhana namun dalam, mencintainya lewat kata, meski ia belum pernah membacanya, atau bahkan tak akan pernah membacanya.

Aku dan Harap yang Tak Pernah Kau Lihat

Aneh, dari sekian banyak rasa kagum yang pernah singgah dan pergi begitu saja, aku justru menetap pada satu nama, pada seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar menoleh ke arahku. Seperti memilih langit yang tak pernah sadar ada sepasang mata yang diam-diam menghafal luasnya, aku jatuh pada sesuatu yang tak pernah memintaku untuk tinggal. Tidak ada janji, tidak ada isyarat, bahkan mungkin tak ada ruang yang disediakan untukku di sana. Namun entah mengapa, hatiku tetap bersikeras pulang ke arah yang sama, seolah tak lelah berharap pada kemungkinan yang tak pernah benar-benar ada. Aku pernah mencoba mengalihkan pandang, meyakinkan diri bahwa dunia ini luas, bahwa rasa kagum seharusnya tak berhenti pada satu arah yang tak berbalas. Tapi setiap kali aku mencoba melangkah menjauh, ada sesuatu yang diam-diam menarikku kembali, bukan karena dia memanggil, melainkan karena aku yang belum selesai. Belum selesai menerima bahwa tidak semua rasa harus menemukan jawabannya, bahwa tidak semua cer...