Langsung ke konten utama

Tentang Perasaan yang Tak Bisa Segera Usai

Barangkali, aku memang sedang belajar menerima satu hal yang paling pelan untuk dipahami, bahwa tidak semua perasaan harus selesai dengan cepat. Ada yang harus diluruhkan perlahan, seperti hujan yang tak pernah benar-benar deras, tapi cukup untuk membuat hati basah berhari-hari.

Aku tidak sedang terburu-buru melupakanmu. Sebab yang pernah tumbuh di dalam dada ini bukan sesuatu yang ringan. Ia pernah kurawat dalam diam, kubesarkan dengan harap yang tak pernah sempat kuucapkan. Ia hidup, diam-diam, di sela-sela sunyi, mengisi ruang kosong dengan namamu, seolah kau benar-benar tinggal di sana.

Dan kini, ketika aku harus menjadikannya biasa saja, rasanya seperti diminta meninggalkan rumah yang dulu kubangun sendiri, rapuh, tapi penuh makna. Ada hangat yang pernah kurasa, ada teduh yang sempat kuyakini, meski pada akhirnya aku sadar, tidak semua yang membuat kita merasa pulang benar-benar ditakdirkan untuk menetap.

Maka jika suatu hari nanti aku mampu menatapmu tanpa debar yang berlebihan, tanpa harap yang masih bersembunyi di balik diam, percayalah, itu bukan karena aku tak pernah mencintai. Justru karena aku pernah mencintai begitu dalam, hingga butuh waktu yang panjang untuk akhirnya benar-benar melepaskan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...