Barangkali, aku memang sedang belajar menerima satu hal yang paling pelan untuk dipahami, bahwa tidak semua perasaan harus selesai dengan cepat. Ada yang harus diluruhkan perlahan, seperti hujan yang tak pernah benar-benar deras, tapi cukup untuk membuat hati basah berhari-hari.
Aku tidak sedang terburu-buru melupakanmu. Sebab yang pernah tumbuh di dalam dada ini bukan sesuatu yang ringan. Ia pernah kurawat dalam diam, kubesarkan dengan harap yang tak pernah sempat kuucapkan. Ia hidup, diam-diam, di sela-sela sunyi, mengisi ruang kosong dengan namamu, seolah kau benar-benar tinggal di sana.
Dan kini, ketika aku harus menjadikannya biasa saja, rasanya seperti diminta meninggalkan rumah yang dulu kubangun sendiri, rapuh, tapi penuh makna. Ada hangat yang pernah kurasa, ada teduh yang sempat kuyakini, meski pada akhirnya aku sadar, tidak semua yang membuat kita merasa pulang benar-benar ditakdirkan untuk menetap.
Maka jika suatu hari nanti aku mampu menatapmu tanpa debar yang berlebihan, tanpa harap yang masih bersembunyi di balik diam, percayalah, itu bukan karena aku tak pernah mencintai. Justru karena aku pernah mencintai begitu dalam, hingga butuh waktu yang panjang untuk akhirnya benar-benar melepaskan.
Komentar
Posting Komentar