"Tuhan, kalau jalan ceritaku memang dia, karangkan cerita seindah-indahnya. Maafkan ku terlalu banyak meminta."
Kalimat itu entah kenapa terasa begitu dekat bagiku, seolah bukan sekadar lirik lagu, tapi potongan doa yang tak pernah sempat kuucapkan dengan utuh.
Di antara banyak hal yang kulepaskan, hanya namanya yang tak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal, diam-diam, di setiap jeda doaku, seperti harap yang tak berani pulang.
Aku tahu, mungkin aku hanya satu dari sekian kemungkinan yang tak pernah ia pilih. Namun entah kenapa, hatiku selalu kembali, menyebutnya pelan-pelan, seolah Tuhan pun perlu tahu betapa aku menginginkannya.
Komentar
Posting Komentar