Langsung ke konten utama

Aku dan Harap yang Tak Pernah Kau Lihat

Aneh, dari sekian banyak rasa kagum yang pernah singgah dan pergi begitu saja, aku justru menetap pada satu nama, pada seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar menoleh ke arahku. Seperti memilih langit yang tak pernah sadar ada sepasang mata yang diam-diam menghafal luasnya, aku jatuh pada sesuatu yang tak pernah memintaku untuk tinggal. Tidak ada janji, tidak ada isyarat, bahkan mungkin tak ada ruang yang disediakan untukku di sana. Namun entah mengapa, hatiku tetap bersikeras pulang ke arah yang sama, seolah tak lelah berharap pada kemungkinan yang tak pernah benar-benar ada.

Aku pernah mencoba mengalihkan pandang, meyakinkan diri bahwa dunia ini luas, bahwa rasa kagum seharusnya tak berhenti pada satu arah yang tak berbalas. Tapi setiap kali aku mencoba melangkah menjauh, ada sesuatu yang diam-diam menarikku kembali, bukan karena dia memanggil, melainkan karena aku yang belum selesai. Belum selesai menerima bahwa tidak semua rasa harus menemukan jawabannya, bahwa tidak semua cerita ditakdirkan untuk saling memiliki.

Barangkali aku hanya terlalu lama berdiri di tempat yang sama, memandangi seseorang yang tak pernah menyadari keberadaanku. Menyusun harap dari hal-hal kecil yang bahkan mungkin tak pernah ia sengaja berikan. Dan di sanalah aku belajar, bahwa mencintai dalam diam bukan hanya tentang menunggu, tapi juga tentang merawat luka yang tumbuh perlahan, tanpa suara, tanpa saksi.

Pada akhirnya, aku mengerti, ada rasa yang memang diciptakan bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dirasakan, seutuhnya, sesakit-sakitnya, hingga suatu hari nanti aku mampu melepaskannya dengan tenang. Meski untuk sekarang, aku masih di sini, tetap menatap ke arah yang sama, sambil perlahan belajar bagaimana caranya untuk tidak lagi berharap bahwa ia akan menoleh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...