Aneh, dari sekian banyak rasa kagum yang pernah singgah dan pergi begitu saja, aku justru menetap pada satu nama, pada seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar menoleh ke arahku. Seperti memilih langit yang tak pernah sadar ada sepasang mata yang diam-diam menghafal luasnya, aku jatuh pada sesuatu yang tak pernah memintaku untuk tinggal. Tidak ada janji, tidak ada isyarat, bahkan mungkin tak ada ruang yang disediakan untukku di sana. Namun entah mengapa, hatiku tetap bersikeras pulang ke arah yang sama, seolah tak lelah berharap pada kemungkinan yang tak pernah benar-benar ada.
Aku pernah mencoba mengalihkan pandang, meyakinkan diri bahwa dunia ini luas, bahwa rasa kagum seharusnya tak berhenti pada satu arah yang tak berbalas. Tapi setiap kali aku mencoba melangkah menjauh, ada sesuatu yang diam-diam menarikku kembali, bukan karena dia memanggil, melainkan karena aku yang belum selesai. Belum selesai menerima bahwa tidak semua rasa harus menemukan jawabannya, bahwa tidak semua cerita ditakdirkan untuk saling memiliki.
Barangkali aku hanya terlalu lama berdiri di tempat yang sama, memandangi seseorang yang tak pernah menyadari keberadaanku. Menyusun harap dari hal-hal kecil yang bahkan mungkin tak pernah ia sengaja berikan. Dan di sanalah aku belajar, bahwa mencintai dalam diam bukan hanya tentang menunggu, tapi juga tentang merawat luka yang tumbuh perlahan, tanpa suara, tanpa saksi.
Pada akhirnya, aku mengerti, ada rasa yang memang diciptakan bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dirasakan, seutuhnya, sesakit-sakitnya, hingga suatu hari nanti aku mampu melepaskannya dengan tenang. Meski untuk sekarang, aku masih di sini, tetap menatap ke arah yang sama, sambil perlahan belajar bagaimana caranya untuk tidak lagi berharap bahwa ia akan menoleh.
Komentar
Posting Komentar