Langsung ke konten utama

Melintas di Bahagia Orang Lain

Pagi tadi, di atas motor yang melaju pelan, aku sempat dibuat bingung oleh keramaian di depan sebuah Aula. Dari kejauhan, semuanya tampak berbeda dari biasanya. "Ada apa ini?" batinku, sambil sedikit memperlambat laju motor.

Saat semakin dekat, barulah semuanya terlihat jelas. Orang-orang dengan toga hitam berdiri, wajah mereka dipenuhi senyum yang tak bisa disembunyikan. Di sisi lain, ada para orang tua dengan pakaian rapi, mungkin itu yang terbaik yang mereka miliki hari ini. Cara mereka memandang anaknya terasa hangat, bangga, dan penuh haru.

Aku hanya lewat. Tidak berhenti. Tapi entah kenapa, pemandangan itu seperti menahan waktu sejenak.

Angin pagi menyentuh wajahku tanpa penghalang, membawa rasa yang aneh, tenang, tapi juga menggetarkan. Di tengah laju yang tak benar-benar cepat, mataku mulai terasa hangat. Ada sesuatu yang pelan-pelan mengetuk dada, perasaan yang sulit dijelaskan. Bahagia, meski bukan milikku. Haru, meski aku hanya sekadar melintas.

Di atas motor yang terus berjalan, diam-diam aku membatin, "Tahun depan, semoga itu aku."

Aku membayangkan diriku ada di sana, bukan lagi sebagai orang yang lewat, tapi sebagai bagian dari kebahagiaan itu. Berdiri dengan toga, menatap ke arah orang tuaku yang datang dengan penuh bangga. Mungkin mereka juga akan mengenakan pakaian terbaik mereka, seperti yang kulihat hari ini.

Dan anehnya, membayangkan itu saja sudah membuat dadaku sesak oleh haru.

Motor ini terus melaju, meninggalkan keramaian itu perlahan di belakang. Tapi rasanya, sebagian dari perasaan tadi ikut tinggal di dalam hati, menjadi doa yang diam-diam kupeluk sepanjang perjalanan.

Semoga kelak aku benar-benar berhenti di sana, bukan lagi sebagai yang hanya lewat, melainkan sebagai seseorang yang telah sampai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...