Pagi tadi, di atas motor yang melaju pelan, aku sempat dibuat bingung oleh keramaian di depan sebuah Aula. Dari kejauhan, semuanya tampak berbeda dari biasanya. "Ada apa ini?" batinku, sambil sedikit memperlambat laju motor.
Saat semakin dekat, barulah semuanya terlihat jelas. Orang-orang dengan toga hitam berdiri, wajah mereka dipenuhi senyum yang tak bisa disembunyikan. Di sisi lain, ada para orang tua dengan pakaian rapi, mungkin itu yang terbaik yang mereka miliki hari ini. Cara mereka memandang anaknya terasa hangat, bangga, dan penuh haru.
Aku hanya lewat. Tidak berhenti. Tapi entah kenapa, pemandangan itu seperti menahan waktu sejenak.
Angin pagi menyentuh wajahku tanpa penghalang, membawa rasa yang aneh, tenang, tapi juga menggetarkan. Di tengah laju yang tak benar-benar cepat, mataku mulai terasa hangat. Ada sesuatu yang pelan-pelan mengetuk dada, perasaan yang sulit dijelaskan. Bahagia, meski bukan milikku. Haru, meski aku hanya sekadar melintas.
Di atas motor yang terus berjalan, diam-diam aku membatin, "Tahun depan, semoga itu aku."
Aku membayangkan diriku ada di sana, bukan lagi sebagai orang yang lewat, tapi sebagai bagian dari kebahagiaan itu. Berdiri dengan toga, menatap ke arah orang tuaku yang datang dengan penuh bangga. Mungkin mereka juga akan mengenakan pakaian terbaik mereka, seperti yang kulihat hari ini.
Dan anehnya, membayangkan itu saja sudah membuat dadaku sesak oleh haru.
Motor ini terus melaju, meninggalkan keramaian itu perlahan di belakang. Tapi rasanya, sebagian dari perasaan tadi ikut tinggal di dalam hati, menjadi doa yang diam-diam kupeluk sepanjang perjalanan.
Semoga kelak aku benar-benar berhenti di sana, bukan lagi sebagai yang hanya lewat, melainkan sebagai seseorang yang telah sampai.
Komentar
Posting Komentar