Langsung ke konten utama

Menjadi Mahasiswa yang Hampir Menuju Akhir

Waktu berjalan dengan caranya yang diam-diam, tapi pasti. Dulu, saat masih menjadi mahasiswa baru, aku pernah mengira semuanya akan terasa panjang, bahwa hari-hari bisa dijalani tanpa tergesa, bahwa kelulusan masih jauh di ujung sana. Ada keyakinan yang santai, seolah waktu akan selalu menunggu.

Namun, tanpa benar-benar kusadari, ia terus melaju. Tahun-tahun terlewati, membawa serta begitu banyak cerita, tentang tawa yang ringan, tentang lelah yang tak selalu terlihat, tentang kehilangan dan harapan yang silih berganti. Semua bercampur menjadi satu, membentuk perjalanan yang tak selalu mudah dijelaskan, tapi terasa begitu nyata di dalam diri.

Dan kini, aku berdiri di titik yang dulu hanya sebatas bayangan. Menjadi mahasiswa yang hampir menuju akhir, dengan segala kesibukan, kecemasan, dan pertanyaan yang datang bersamaan. Ada banyak hal yang harus dipikirkan, banyak langkah yang terasa berat untuk ditentukan.

Meski begitu, di tengah semua kerumitan ini, ada rasa syukur yang tumbuh perlahan. Karena ternyata, aku sudah sejauh ini. Karena semua yang terjadi, baik atau buruk telah membawaku sampai ke sini, menjadi bagian dari diriku hari ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...