Langsung ke konten utama

Kota Ini Tak Sama Tanpamu

Belakangan ini aku sedang jatuh cinta pada satu lagu dengan judul Kota Ini Tak Sama Tanpamu milik Nadhif Basalamah. Setiap kali melodi itu mengalun, pikiranku selalu berkelana, dan entah bagaimana, ujung perjalanannya selalu berhenti di satu nama, 'Dia'.

Ada sesuatu dari lagu itu yang membuat ruang-ruang dalam diriku mendadak sunyi, lalu dipenuhi rindu yang tak pernah selesai dijelaskan. 

Dari lagu itu, sebuah keinginan kecil tumbuh perlahan, yaitu menulis cerita singkat. Cerita tentang rasa, tentang diam yang berbicara, tentang seseorang yang membuat sebuah kota terasa lebih hidup.

Semoga siapa pun yang membaca cerita ini nantinya dapat merasakan sedikit dari hangat yang kusembunyikan di balik setiap kalimat. 


Kota Ini Tak Sama Tanpamu 

Stasiun Tugu Yogyakarta sore itu dipenuhi langkah orang-orang yang ingin kembali pulang. Suara pengumuman keberangkatan bergema, bercampur dengan desis kereta yang baru tiba. Di tengah hiruk pikuk itu, Hana berdiri dengan kedua tangan menggenggam tali tasnya erat-erat, menatap seseorang yang membuat waktu seakan berhenti. Harun berdiri tepat di sampingnya, dengan ransel di punggung dan rambutnya yang sedikit berantakan.

Dua hari di Yogyakarta terasa terlalu singkat untuk menampung sepuluh tahun jarak yang pernah ada di antara mereka. Dan kini, perpisahan kembali datang terlalu cepat.

Mereka tidak banyak bicara ketika berjalan menuju peron. Hana, yang biasanya cukup aktif dan mudah bercerita, berubah menjadi seseorang yang hanya mampu mengangguk atau tersenyum kecil. Setiap detik terasa berat. Setiap langkah seperti memaksa hatinya menelan kenyataan.

Harun, seperti biasa, bersikap hangat. Ia berjalan di samping Hana sambil sesekali meliriknya, seolah ingin memastikan gadis itu baik-baik saja. 

Kereta ke Bandung sudah terparkir, lampu-lampunya menyala kuning keemasan. Orang-orang mulai naik. Waktu semakin menipis.

"Aku senang dua hari ini," ucap Harun tiba-tiba. Suaranya tenang, tapi Hana bisa merasakan ada sesuatu yang tidak ia ucapkan.

Hana mengangguk pelan. "Aku juga."

Dan itu saja. Itu saja yang mampu ia katakan. Padahal dalam hatinya, ia ingin berkata bahwa kota ini jauh lebih indah karena Harun ada, bahwa ia ingin waktu berputar lebih lambat, bahwa ia ingin Harun tahu betapa ia masih menyimpan perasaan yang sama, perasaan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Harun menatapnya lama. Tatapan yang membuat dada Hana sesak. Tatapan yang membuatnya ingin menangis, tapi juga ingin tersenyum. Seolah Harun sedang membaca isi hatinya satu per satu, tapi tetap memilih untuk menjaga jarak yang sama.

"Aku balik dulu, ya, Han," katanya akhirnya.

Ia tidak memeluknya. Tidak menyentuh bahunya. Tidak memberi apa pun selain senyum yang lembut, senyum yang selalu membuat Hana hancur dalam diam.

Kereta mulai menutup pintu. Harun melangkah masuk, lalu berhenti sejenak sebelum benar-benar masuk ke gerbong. Ia menoleh sekali lagi.

Dan saat itulah, di tengah gegap stasiun, Hana menyadari bahwa perasaannya tetap sama. Dan Harun, masih belum mampu membalasnya.

Saat kereta mulai bergerak perlahan, Hana berdiri mematung di peron. Angin dari arah gerbong meniup wajahnya, membawa sisa-sisa kehangatan dua hari terakhir yang kini berubah menjadi sunyi.

Yogyakarta kembali menjadi kota yang ia kenal. Tapi tidak lagi terasa utuh. Dalam hatinya, Hana membisikkan sesuatu yang tidak pernah sampai pada Harun: "Kota ini tak sama tanpamu. Dan mungkin, aku yang harus belajar menerima itu."

Ketika kereta akhirnya lenyap di kejauhan, Hana tetap berdiri di sana.

Sendiri. Tapi dengan hati yang masih memanggil nama yang sama, meski ia tahu, beberapa kisah hanya diciptakan untuk singgah, bukan menetap.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...