Langsung ke konten utama

Hari Kedua yang Penuh Makna

Alhamdulillah, penyuluhan hari kedua di SMAN 2 Kahayan Tengah telah selesai dengan baik. Rasa syukur yang begitu besar kupanjatkan atas kelancaran hari ini. Jika ditanya apakah lelah, tentu jawabannya iya. Namun, ketika ditanya apakah menyenangkan, maka jawabannya pasti IYAAAAAAAA!

Kegiatan penyuluhan hari ini berjalan dengan lancar, meskipun sempat ada sedikit kendala di awal karena smartboard di kelas yang kami masuki mengalami gangguan. Tapi, hal itu bukan masalah besar, semangat kami tetap utuh.

Awalnya, aku dan teman-teman sempat mengira bahwa kelas yang kami masuki akan pasif. Saat pertama kali kami datang, tidak ada satu pun yang tersenyum. Suasana terasa kaku, seolah kehadiran kami belum benar-benar mereka rasakan. Namun, seiring berjalannya waktu, suasana mulai mencair. Perlahan tapi pasti, para siswa mulai aktif berpartisipasi, meski kami harus sedikit berjuang memancing antusiasme mereka.

Mungkin mereka hanya belum terbiasa dengan kehadiran orang baru, itu pikirku. Aku jadi teringat masa sekolah dulu, ketika ada kakak-kakak mahasiswa datang ke kelas, aku pun sering diam dan hanya berbicara ketika diminta.

Karena itu, aku sangat memahami perasaan adik-adik yang kami temui selama dua hari ini. Mereka sedang berada di posisi yang dulu pernah aku tempati. Dan kelak, mungkin merekalah yang akan berdiri di posisi kami sekarang, berbagi ilmu, pengalaman, dan semangat yang sama untuk generasi berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...