Setelah selesai kelas Kajian Drama tadi, tiba-tiba kepalaku penuh pertanyaan. "Kenapa aku nggak pernah kepikiran nulis cerita absurd, ya?" Padahal kalau dipikir lagi, nulis yang absurd itu kayaknya seru. Lucu. Bahkan bisa jadi portal pelarian ketika realitas terlalu gitu-gitu aja.
Di kelas tadi, otakku penuh ide. Kayak karcis parkir di dompet yang banyak, nggak kepake, tapi nggak dibuang juga. Terus, aku sempat mikir, "Apa aku tulis kisah cinta antara aku dan makanan favoritku mie ayam, ya?"
Eh, pandanganku tiba-tiba teralih ke tembok kelas. Ada foto Pak Prabowo dan Pak Gibran lagi senyum, kayak dengerin curhatan mahasiswa yang galau. "Coba kalau mereka bisa nguping semua obrolan di kelas," pikirku. Terus mulai tuh kebayang adegan absurd, misalnya mereka nyatet nilai mahasiswa berdasarkan siapa yang senyum waktu lihat foto mereka. Kayaknya lucu deh, haha.
Sebelum pulang tadi, aku sempat beli es di kantin. Sampai di kost, sambil seruput es dan buka dompet, muncul ide gila lagi, "Gimana kalau dompetku jadi tokoh utama?" Dompet yang ngomel karena sering cuma diisi recehan tapi dituntut untuk selalu ada. Isi dompetnya pun ikutan curhat, misalnya KTP yang capek jadi saksi bisu, terus kartu ATM yang cuma dipamerin pas nongkrong, dan struk belanja yang nggak pernah dianggap punya masa depan.
Absurd? Iya. Ngakak? Semoga. Yang jelas, mungkin sudah waktunya aku nulis cerita-cerita ajaib yang cuma mungkin terjadi di kepala mahasiswa lelah tapi penuh imajinasi. Siapa tahu jadi genre favoritku nanti, haha.
Komentar
Posting Komentar