Surat dari Praha adalah salah satu film Indonesia terbaik yang pernah aku tonton. Film ini berhasil memadukan unsur sejarah, politik, romansa, dan musik dengan begitu indah, sehingga membuat film ini terasa berbeda dari film Indonesia pada umumnya.
Aku masih ingat betul ada satu dialog dari tokoh Jaya yang terdengar begitu romantis sekaligus menyakitkan ketika pertama kali kudengar:
“Ketika saya berangkat ke Praha, saya berjanji pada ibumu. Saya akan segera kembali dan menikahi dia, itu yang pertama. Yang kedua, saya akan mencintai dia selama-lamanya.”
Terdengar romantis, bukan? Tapi setelah kalimat selanjutnya diucapkan, rasanya benar-benar menyayat hati.
“Ternyata, nasib mengizinkan saya hanya menepati yang kedua.”
Saat itu juga aku benar-benar kagum pada sosok Jaya. Ia adalah cerminan laki-laki tulus yang mampu mencintai satu perempuan seumur hidupnya, meski takdir memisahkan mereka.
Di pertengahan film, aku sempat berharap akan ada adegan flashback antara Jaya dan Sulastri di masa muda mereka. Aku ingin tahu bagaimana cinta itu berawal, bagaimana keduanya saling jatuh hati. Namun sampai akhir film, adegan itu tidak pernah muncul. Meski begitu, justru di situlah kehangatan film ini terasa, membiarkan penonton ikut merasakan kehilangan yang tak terucap.
Selain kisah cintanya yang mengharukan, film ini juga membawa kita sebagai penonton menelusuri bagian sejarah Indonesia yang jarang dibahas, yaitu kisah para eksil politik Indonesia di Praha setelah peristiwa G30S. Mereka adalah orang-orang yang terjebak di negeri asing, tak bisa pulang karena dianggap berseberangan dengan pemerintah. Melalui tokoh Jaya, film ini menggambarkan luka sejarah yang tak hanya politis, tapi juga manusiawi, tentang rindu yang tak pernah tersampaikan, dan cinta yang membeku di negeri asing.
Namun, ada satu hal yang menurutku sedikit disayangkan, yaitu keindahan kota Praha tidak banyak dieksplor dalam film ini. Setelah ku cari tahu, kota Praha itu dikenal sebagai salah satu kota paling romantis dan cantik di Eropa, dengan bangunan tua, jalan berbatu, dan suasana klasik yang seharusnya bisa memperkuat nuansa nostalgia cerita. Terlepas dari itu, film ini sudah sangat-sangat menarik.
Bagiku, Surat dari Praha bukan sekadar film tentang cinta, tapi juga tentang kehilangan, kesetiaan, dan waktu yang berjalan tanpa bisa diulang. Sayangnya, film ini tidak begitu populer di kalangan penonton Indonesia, padahal kisah dan pesan yang dibawanya begitu hangat dan mendalam.

Akan lebih seru jika ada Gaitendo
BalasHapus