Kadang aku tersenyum sendiri ketika memikirkan dia. Betapa anehnya aku bisa mencintainya selama ini, sejak masa-masa polos di SMP sampai kini aku sudah duduk di bangku kuliah. Seolah hatiku tidak pernah benar-benar berpindah arah, selalu kembali padanya, seperti rumah yang diam-diam kurindukan.
Lalu aku bertanya pada diriku, apakah wajar jika aku masih berharap?
Karena di satu sisi, aku tulus, sungguh. Kalau dia jatuh cinta pada perempuan lain, aku ingin tetap bisa mendoakan kebahagiaannya. Ada bagian dariku yang ingin percaya bahwa cinta itu memang bebas, tidak harus dimiliki untuk bisa dirasakan.
Tapi di sisi lain, hatiku masih bergetar setiap kali memikirkan dia. Ada perasaan halus yang mengatakan, "Andai saja aku yang dia pilih."
Karena jauh sebelum dia mengenal dunia baru, jauh sebelum ada wajah-wajah yang membuatnya tersenyum belakangan ini, aku sudah melihatnya tumbuh.
Mungkin itulah sebabnya aku sedikit sakit. Bukan karena mungkin dia telah memilih yang lain, tapi karena aku selalu berharap, meski diam-diam, bahwa suatu hari dia akan menoleh dan akhirnya melihat aku, bukan sebagai seseorang yang lewat, tapi sebagai seseorang yang ia tunggu.
Cintaku padanya sederhana, tapi besar. Tidak bising, tapi selalu hidup. Dan meskipun dunia mungkin tidak menuliskan aku dan dia dalam kalimat yang sama, hati kecilku tetap lirih mencintainya, dengan cara yang paling lembut, paling diam, paling romantis yang aku tahu.
Komentar
Posting Komentar