Langsung ke konten utama

Aku, yang Selalu Mencintainya Dalam Sunyi

Kadang aku tersenyum sendiri ketika memikirkan dia. Betapa anehnya aku bisa mencintainya selama ini, sejak masa-masa polos di SMP sampai kini aku sudah duduk di bangku kuliah. Seolah hatiku tidak pernah benar-benar berpindah arah, selalu kembali padanya, seperti rumah yang diam-diam kurindukan.

Lalu aku bertanya pada diriku, apakah wajar jika aku masih berharap?

Karena di satu sisi, aku tulus, sungguh. Kalau dia jatuh cinta pada perempuan lain, aku ingin tetap bisa mendoakan kebahagiaannya. Ada bagian dariku yang ingin percaya bahwa cinta itu memang bebas, tidak harus dimiliki untuk bisa dirasakan.

Tapi di sisi lain, hatiku masih bergetar setiap kali memikirkan dia. Ada perasaan halus yang mengatakan, "Andai saja aku yang dia pilih."

Karena jauh sebelum dia mengenal dunia baru, jauh sebelum ada wajah-wajah yang membuatnya tersenyum belakangan ini, aku sudah melihatnya tumbuh.

Mungkin itulah sebabnya aku sedikit sakit. Bukan karena mungkin dia telah memilih yang lain, tapi karena aku selalu berharap, meski diam-diam, bahwa suatu hari dia akan menoleh dan akhirnya melihat aku, bukan sebagai seseorang yang lewat, tapi sebagai seseorang yang ia tunggu.

Cintaku padanya sederhana, tapi besar. Tidak bising, tapi selalu hidup. Dan meskipun dunia mungkin tidak menuliskan aku dan dia dalam kalimat yang sama, hati kecilku tetap lirih mencintainya, dengan cara yang paling lembut, paling diam, paling romantis yang aku tahu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...