Langsung ke konten utama

Aku dan Dia yang Kusebut Kakak

Di tulisan sebelumnya, aku sempat menyebut tentang kembaranku. Iya, aku memang memiliki seorang kembaran. Namun, kami tak begitu mirip. Kata Ayah dan Mama, mungkin karena kami lahir dengan selang waktu satu jam.

Ceritanya sebenarnya cukup panjang. Singkatnya, saat mengandung kami berdua, Mama tak mengetahui bahwa ada dua bayi di dalam perutnya. Setelah kembaranku lahir, barulah orang yang membantu persalinan Mama menyadari bahwa masih ada satu bayi di sana. Dan benar saja, bayi itu adalah aku.

Nama kembaranku Nabilah. Hanya berbeda satu huruf denganku. Meski begitu, aku lebih senang memanggilnya dengan satu sebutan yang terasa paling tepat, yaitu Kakak.

Ia adalah orang pertama setelah kedua orang tuaku yang selalu kusematkan dalam doa-doaku. Aku ingin hidupnya baik-baik saja, bersama siapa pun dan di mana pun ia berada. Aku ingin ia menikmati hidup dengan sebaik-baiknya, sebab kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga.

Sebelum kami sama-sama merantau untuk kuliah, aku sering sekali merepotkannya. Dan anehnya, ia tak pernah mengeluh. Sejak kecil, ia memang selalu terlihat lebih pantas menjadi kakak dibandingkan aku. Sebenarnya, status kami di rumah sama saja, sama-sama anak ketiga. Namun sifat dan perilakunya membuat sebutan "kakak" terasa begitu alami untuknya.

Ayah dan Mama sering bercerita, sejak kecil ia sudah terbiasa mengalah kepadaku. Contoh paling sederhananya saat kami masih TK. Ketika Ayah mengantar kami ke sekolah dengan motor, aku selalu memaksa ingin duduk di depan agar bisa melihat jalan dengan leluasa. Dan aku sama sekali tak memberinya kesempatan untuk mengambil tempat itu. Padahal aku yakin, ia juga ingin duduk di sana.

Namun, ia tak pernah merengek. Tak pernah memprotes.

Masih banyak hal lain yang membuatku sadar, bahwa sejak dulu aku memang jauh lebih kekanakan daripadanya. Dan sejak dulu pula, ia telah belajar menjadi kakak, bahkan sebelum aku menyadari betapa besar perannya dalam hidupku.

Masa perantauan datang hampir bersamaan dengan fase hidup yang sama sekali baru bagi kami. Untuk pertama kalinya, aku dan Kakak harus belajar hidup jauh dari rumah, jauh dari Mama yang selalu memastikan perut kami kenyang, dan Ayah yang diam-diam selalu memperhatikan kami. Jarak perlahan mengubah kebiasaan kami, namun tak pernah benar-benar mengubah kedekatan itu sendiri.

Kami kian tumbuh. Tidak lagi berdampingan setiap hari, tapi tetap saling menguatkan dari kejauhan. Aku dan Kakak, dua anak yang lahir hampir bersamaan, namun belajar dewasa dengan caranya masing-masing.

Dan jika suatu hari ia lelah, aku berharap ia tahu, bahwa aku ada. Seperti dulu ia selalu ada untukku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...