Latar: Mini ATM di pinggir jalan kampus, siang hari yang terik menyengat. Udara panas berdebu, suara kendaraan saling bersahutan, tapi terasa jauh. Mesin ATM berdengung pelan, seolah menahan napas.
Tokoh: Yuni, Ibu, Bapak, dan Fatih.
Yuni berdiri di depan mesin ATM. Keringat menetes di pelipisnya. Ia memegang kartu ATM lusuh, lalu memasukkannya. Mesin berbunyi pelan. Layar menampilkan: 'Saldo: Rp120.000.'
Yuni: "Uang segini mana cukup buat bayar UKT."
Tak lama ponselnya berdering. Nama Ibu muncul. Yuni tersenyum kecil, langsung menjawab.
Yuni: "Halo, Bu."
Ibu: "Nak, sudah makan? Di sana panas, ya? Ibu di sini juga udah kayak dijemur matahari."
Hening sebentar. Ibu terbatuk-batuk pelan di seberang.
Yuni: "Batuknya belum sembuh, Bu? Udah ke dokter, kan?"
Ibu: "Iya, Nak, ini cuma batuk biasa, besok pasti juga sembuh."
Ibu: "Gimana? Kamu sudah makan?"
Yuni: "Belum, Bu. Ini lagi mau ambil duit buat beli makan."
Yuni: "Bapak di mana, Bu?"
Ibu: "Bapak lagi keluar mau transfer uang untuk kamu bayar UKT, Nak. Biar kamu nggak kepikiran."
Yuni: "Bapak keluar? Panas-panas begini? Kan Bapak belum sembuh dari sesak napasnya, Bu. Lagian tenggat pembayaran UKT masih satu minggu lagi kok, Bu."
Ibu: "Katanya, 'nggak apa-apa panas, yang penting anakku bisa terus kuliah.'"
Yuni terdiam. Ia menelan air liur, lalu menekan tombol di mesin ATM. Layar menunjukkan: 'Saldo bertambah Rp1.500.000'
Yuni: "Transfer dari Bapak sudah masuk, Bu. Terima kasih, ya, Bu."
Yuni: "Kalau Bapak pulang, langsung sampaikan terima kasih Yuni ke Bapak, ya, Bu."
Sunyi. Ibu hanya menarik napas panjang di ujung telepon.
Ibu: "Nak, kalau nanti uangnya kurang, nggak usah khawatir. Ibu masih ada cincin pernikahan. Bisa dijual buat tambahan."
Yuni: "Bu… jangan jual apa-apa lagi. Aku bisa kerja sambilan kok. Aku kuat."
Ibu: "Ibu tahu kamu kuat, tapi kamu nggak harus kuat sendirian, Nak."
Hening beberapa detik. Lalu, terdengar suara gaduh di ujung sana. Terdengar teriakan Fatih, adiknya.
Fatih: "IBU! BU! BAPAK JATUH!"
Telepon berderak, sinyal putus. Yuni menegang, lalu berteriak.
Yuni: "BU? IBU? BAPAK KENAPA, BU?"
Suara panas jalanan lenyap. Mesin ATM masih berdengung. Hanya itu yang tersisa. Yuni terduduk perlahan. Ia menggenggam uang di tangannya, erat, seolah ingin menahan sesuatu yang lebih dari sekadar lembaran kertas.
Yuni: "Pak, Bu… kalian kirim uang, padahal yang kalian punya tinggal tenaga dan sisa napas. Kalian bilang aku harus kuliah, harus jadi orang, harus kuat. Tapi aku nggak tahu… bagaimana caranya untuk kuat jika tanpa kalian?"
Yuni: "Uang ini... ini bukan cuma uang. Ini obat yang nggak jadi kalian beli. Ini keringat yang jatuh di tanah panas. Ini detak jantung yang kalian paksa biar aku tetap melangkah."
Air mata jatuh perlahan. Ia menatap layar ATM yang kini hanya menampilkan tulisan dingin: 'Transaksi Selesai.'
Yuni: "Kalian kirim uang untuk hidupku... tapi mungkin kalian lupa, hidupku cuma ada kalau kalian masih di sana."
Yuni menatap uang di tangannya, lalu ia beralih menatap langit yang terlalu terang, menyilaukan mata, menyayat hati.
Yuni: "Terik hari ini bukan cuma dari matahari. Tapi dari rasa bersalah, yang nggak akan pernah padam."
Lampu panggung perlahan meredup. Mesin ATM berdengung satu kali, lalu mati. Senyap total.

Komentar
Posting Komentar