Langsung ke konten utama

Menelusuri Kembali Jejak Ada Apa Dengan Cinta?

 

Dulu, aku nonton film ini waktu masih awal-awal SMA. Saat itu, aku belum terlalu paham makna cinta atau perasaan yang rumit seperti yang ditampilkan di film Ada Apa Dengan Cinta? ini. Tapi setelah nonton lagi sekarang, baru terasa betapa kuatnya pesan dan perasaan yang ada di dalamnya.

Menurutku yang membuat film ini menarik adalah bagaimana kisahnya terasa sangat dekat dengan kehidupan remaja. Konflik antara persahabatan dan perasaan, keinginan untuk selalu terlihat kuat di depan teman, sampai kebingungan dalam memahami perasaan sendiri, semuanya terasa nyata. Aku masih ingat, waktu pertama nonton, rasanya kayak melihat potongan kehidupan teman-teman di sekolah, bukan adegan dalam film.

Salah satu adegan yang paling membekas tentu saja adegan di bandara, saat Rangga harus pergi dan meninggalkan Cinta. Di adegan itu, perasaan benar-benar campur aduk, sedih karena mereka berpisah, tapi juga senang karena mereka akhirnya sama-sama tahu perasaan masing-masing. Dulu aku mungkin menganggap adegan itu cuma romantis, tapi sekarang terasa lebih emosional, tentang perpisahan, kedewasaan, dan keberanian buat melepas.

Sekarang, setelah menonton kembali dengan sudut pandang yang sedikit lebih dewasa, aku baru sadar bahwa Ada Apa Dengan Cinta? bukan sekadar film cinta remaja. Film ini juga tentang proses seseorang memahami dirinya, tentang komunikasi, kejujuran, dan keberanian untuk mengakui perasaan sendiri. Dulu waktu SMA, aku hanya menikmati kisah cintanya. Tapi sekarang, aku bisa melihat bahwa film ini sebenarnya juga menggambarkan masa transisi, dari remaja yang egois menuju seseorang yang mulai belajar memahami arti hubungan dan perpisahan.

Film ini sederhana, tapi justru di situlah kekuatannya. Ia tidak berusaha menjadi rumit, hanya jujur menampilkan perasaan manusia apa adanya. Dan mungkin itu sebabnya, meskipun sudah 23 tahun rilis, film Ada Apa Dengan Cinta? ini masih terasa relevan, terutama bagi siapa pun yang pernah jatuh cinta untuk pertama kali.

Hal menarik yang justru baru aku tahu adalah ketika dosen pengampu mata kuliah Kajian Drama, yaitu Pak Jumadi mengatakan bahwa sosok Rangga dalam film ini dibuat oleh sang pembuat film dengan terinspirasi dari tokoh Soe Hok Gie. Setelah dipikir-pikir, memang ada kemiripan antara keduanya. Rangga digambarkan sebagai sosok yang idealis, kritis terhadap lingkungan sekitarnya, dan lebih suka menyendiri karena tidak mudah menemukan orang yang sejalan dengan pikirannya. Sementara Soe Hok Gie juga dikenal sebagai seorang pemuda intelektual yang kritis terhadap ketidakadilan dan lebih memilih jalan sendiri ketimbang mengikuti arus. Keduanya sama-sama mencari kebenaran dengan caranya sendiri, meski harus terlihat "asing" di mata orang lain. Bahkan, kesan dingin dan pendiam yang dimiliki Rangga juga bisa dibilang cerminan dari sikap reflektif dan serius yang pernah ditunjukkan oleh Gie dalam tulisan-tulisannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...