Ketika telingaku mendengar kata "jatuh" dan "cinta", seluruh isi kepalaku tiba-tiba bergetar, seolah dua kata itu bersekongkol untuk mengingatkanku padamu, pada perasaan yang diam-diam tumbuh tanpa pernah kuizinkan berbicara.
Setiap huruf dalam "jatuh" terasa seperti langkahku menuju jurang rahasia, dan setiap suku kata dalam "cinta" adalah panggilan lembut yang harus kutelan sebelum sampai di bibir.
Aku tak tahu sejak kapan namamu menjadi bayang yang betah di pikiranku, lalu menyelinap di sela-sela doa, di antara keheningan malam, dan di antara tawa yang pura-pura tak peduli.
Dunia tetap berjalan seperti biasa, tapi di dalam diriku, ada getar yang tak pernah selesai kusembunyikan.
Mungkin begitulah cinta yang terpendam, tidak meminta balasan, tidak menuntut keberanian untuk diucapkan.
Ia hanya ingin diam di sana, di antara napas dan denyut, sebagai rahasia kecil yang tetap hidup meski tak pernah diperjuangkan.
Komentar
Posting Komentar