Salah satu dialog yang membekas adalah ucapan Hayati kepada Zainuddin di tepi danau, saat Zainuddin hendak meninggalkan Batipuh.
"Zainuddin, hati saya dipenuhi cinta kepada kau. Dan biar Tuhan mendengarkannya, bahwa engkau lah Zainuddin yang akan menjadi suamiku kelak. Bila tidak di dunia, kau lah suamiku di akhirat."
Bagiku kalimat itu tidak hanya romantis, tetapi juga penuh dengan keikhlasan menerima takdir. Seolah ingin menegaskan bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya, bahkan bila harus menembus batas kehidupan dan kematian.
Bagian paling menggetarkan hati yang mampu membuatku menitihkan air mata datang dari surat terakhir Hayati untuk Zainuddin. Dalam surat itu, ia menulis: "Zainuddin, kaulah yang terpatri di dalam doaku. Bila saya menghadap Tuhan di akhirat, kalau aku mati lebih dahulu daripadamu, jangan kau berduka hati. Melainkan sempurnakanlah permohonan doa kepada Tuhan. Selamat tinggal, Zainuddin. Selamat tinggal wahai orang yang kucintai di dunia ini. Aku cinta akan dikau. Semoga hati kita sama-sama dirahmati Tuhan. Selamat tinggal, Zainuddin. Aku cinta akan engkau. Dan kalau ku mati, adalah kematianku, dalam mengenang engkau."
Surat itu seperti sebuah perpisahan yang penuh luka sekaligus pengabdian. Hayati menutup kisah cintanya dengan Zainuddin bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan doa yang abadi.
Lalu, dalam film ini selain menyoroti dialog Zainuddin dan Hayati, ada nasihat dari Bang Muluk, sahabat setia Zainuddin yang aku ingat. Ia berkata: "Cinta bukan mengajarkan kita untuk menjadi lemah, tapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan melemahkan semangat, tapi membangkitkan semangat."
Bang Muluk menjadi salah satu tokoh favoritku dalam film ini. Ia adalah penopang utama kebangkitan Zainuddin. Tanpa dorongan semangat darinya, mungkin Zainuddin tidak akan pernah menjelma menjadi Tuan Shabir, pengarang ternama dan ahli syair yang dikenal banyak orang.
Film ini tidak hanya menuturkan kisah cinta yang tragis, tetapi juga mengangkat benturan adat. Zainuddin yang berdarah campuran tidak diterima oleh adat Minangkabau, sehingga cintanya pada Hayati terhalang oleh dinding tradisi yang kokoh. Inilah yang menjadikan kisah mereka semakin pilu, karena cinta harus berhadapan dengan aturan sosial yang tak bisa ditawar.
Di luar dari segi cerita, sinematografi film ini patut diacungi jempol. Pengambilan gambar di tepi danau, hamparan sawah hijau, hingga laut lepas nan luas, dan masih banyak banyak hal-hal indah yang tertangkap dalam film ini.
Tak hanya itu, hal lain yang membuat aku menyukai film ini adalah musik latar dan lagu tema yang juga memberi nyawa tersendiri. OST Sumpah dan Cinta Matiku dari Nidji berhasil memperdalam nuansa emosi film ini. Lirik dan alunannya seakan menyatu dengan tragedi cinta Zainuddin dan Hayati, sehingga membuatku semakin larut dalam kisah yang getir sekaligus indah ini.

Komentar
Posting Komentar