Aku sebenarnya sudah pernah menonton film Hujan Bulan Juni beberapa tahun lalu, tapi ketika dosenku, Pak Jumadi, meminta kami untuk menontonnya, aku merasa senang. Ada sesuatu yang berbeda kali ini, aku menontonnya bukan sekadar untuk menikmati cerita, tapi untuk memahami maknanya lebih dalam. Dan benar saja, film ini terasa begitu berbeda dari film romansa lainnya.
Menurutku, di film ini Sarwono dan Pingkan mampu memperlihatkan bagaimana mencintai dengan benar. Pola pikir mereka dewasa. Mereka punya kekhawatiran masing-masing, namun sama-sama berusaha terbuka dan berkomunikasi. Aku suka sekali cara mereka berbicara satu sama lain, jujur, tenang, tanpa drama yang berlebihan. Kata orang, komunikasi adalah kunci hubungan yang baik, dan aku sepenuhnya setuju.
Film Hujan Bulan Juni bagiku seperti puisi yang hidup di antara hujan dan sunyi. Ia tidak memaksa penontonnya untuk menangis, tapi perlahan membuat hati ikut larut dalam keteduhan. Menontonnya kembali membuatku merasa seolah sedang membaca puisi Sapardi di sore yang gerimis, sederhana, lembut, tapi meninggalkan kesan yang dalam dan abadi.

Komentar
Posting Komentar