Langsung ke konten utama

Yang Tak Setara, Tapi Satu Rasa

 

Waktu: Tahun 1887

Latar: Ruang utama rumah keluarga Hendrik De Vries di Batavia. Sebuah rumah besar bergaya Eropa, pilar tinggi, pintu besar berukir, dan cahaya lampu minyak menerangi ruangan yang sunyi.

Tokoh:

Tuan Hendrik De Vries (55 tahun)

Nyonya Helena De Vries (55 tahun)

Eduard De Vries (21 tahun)

Ratna (29 tahun)

Lampu menyala lembut. Eduard berdiri di dekat pintu besar, memegang topi, tampak gelisah. Tuan Hendrik De Vries dan Nyonya Helena De Vries duduk di kursi berukir, saling berpandangan tegang.

Tuan Hendrik De Vries: "Eduard, aku dengar kau berniat melamar seorang perempuan pribumi?
Katanya, dia pelayan di rumah ini?"

Eduard: "Namanya Ratna, Ayah. Dan iya, aku mencintainya."

Nyonya Helena De Vries: "Kau baru dua puluh satu tahun, Eduard. Dia perempuan dua puluh sembilan tahun. Kau bahkan belum tahu apa itu cinta yang benar, sementara dia, mungkin dia tidak benar-benar mencintaimu. Dia hanya mengincar kekuasaan di sini."

Eduard: "Jangan merendahkannya, Ibu! Dia bukan perempuan seperti itu. Dia perempuan yang baik. Dia lebih tahu tentang hidup daripada siapa pun yang duduk di ruangan ini!"

Tuan Hendrik De Vries: "Berani sekali kau bicara begitu kepada ibumu! Kau pikir cinta bisa menembus batas bangsa? Dia pribumi, Eduard. Kau Belanda. Dunia tidak akan menerima kalian dengan mudah!"

Hening sesaat. Dari balik tirai, Ratna masuk perlahan. Ia menunduk sopan.

Ratna: "Ampun, Tuan, Nyonya. Saya tidak bermaksud menimbulkan persoalan. Saya hanya ingin berkata jujur, saya tidak mencari cinta dari atas. Saya hanya tidak bisa berpura-pura tidak merasa apa-apa."

Nyonya Helena De Vries: "Ratna, kau perempuan baik, tapi jangan melewati batasmu. Usiamu pun jauh lebih tua darinya. Apa kau tak sadar? Kau menjerumuskan anak muda yang belum tahu arah."

Ratna: "Saya sadar, Nyonya. Tapi cinta tak selalu datang pada waktu yang rapi dan usia yang serasi. Kadang yang muda belajar dewasa dari yang lebih tua, dan yang tua belajar berharap dari yang muda."

Eduard mendekat, menatap orang tuanya.

Eduard: "Ayah, Ibu, aku mencintainya bukan karena dia muda atau tua, bukan karena dia cantik atau tidak. Aku mencintainya karena dia membuatku merasa punya hati."

Tuan Hendrik De Vries: "Cukup! Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan! Kau anak Hendrik De Vries, dan kau tidak akan menukar nama besar keluargamu dengan pelayan pribumi!"

Eduard: "Kalau nama besar itu hanya untuk menginjak perasaan orang lain, lebih baik aku tak memilikinya lagi."

Ia menoleh ke Ratna, menggenggam tangannya. Ratna tampak bimbang.

Ratna: "Eduard, dunia mereka bukan dunia kita. Aku tidak ingin jadi alasan kau kehilangan segalanya."

Eduard: "Kehormatan tanpa cinta hanyalah ruangan kosong, Ratna. Dan rumah ini, sudah terlalu lama kosong."

Ia menatap kedua orang tuanya untuk terakhir kali.

Eduard: "Kalau kalian tak bisa menerima pilihan hatiku, biarlah pintu ini jadi batas antara kita."

Eduard membuka pintu besar. Suara angin malam masuk. Ia dan Ratna melangkah keluar perlahan. Pintu tertutup kembali dengan bunyi berat.

Tuan dan Nyonya berdiri diam. Nyonya menatap pintu yang tertutup rapat.

Nyonya Helena De Vries: "Anak itu memilih cinta, bukan darah."

Tuan Hendrik De Vries: "Dan cinta itulah yang membuat kita kehilangan segalanya."

Lampu perlahan meredup, menyisakan siluet pintu besar di tengah panggung.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...