Langsung ke konten utama

Risol, Senja, dan Mereka yang Tak Ingin Ketinggalan


Menjelang senja di Palangka Raya, jalanan berubah menjadi ruang yang dipenuhi langkah-langkah cepat dan mata yang siaga. Waktu berbuka memang belum tiba, tetapi orang-orang sudah berdatangan, seolah memahami satu hal yang sama, yaitu takjil tidak pernah menunggu.

Fenomena ini akrab disebut sebagai war takjil, sebuah perlombaan sunyi yang hanya terjadi setahun sekali. Meja-meja sederhana dipenuhi beragam hidangan. Plastik berisi es buah bergoyang pelan tertiup angin, dan aneka gorengan tersusun rapi, menunggu takdirnya sebelum azan magrib tiba.

Di antara semua pilihan itu, risol tetap menjadi pusat perhatian.

Kulitnya tipis dan keemasan, dengan tekstur renyah yang menjanjikan kehangatan di gigitan pertama. Namun kini, risol tidak lagi hanya tentang sayur atau ayam. Ia telah berevolusi mengikuti selera zaman. Risol coklat dengan isi manis yang lumer, serta risol matcha dengan warna hijau lembut yang khas, menjadi varian baru yang viral dan banyak dicari. Nampan-nampan pedagang cepat kosong, terutama pada jenis yang sedang tren, seolah risol memiliki cara sendiri untuk selalu dirindukan.

Keramaian war takjil juga tidak hanya diisi oleh mereka yang berpuasa. Masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk umat Kristen, turut hadir dan larut dalam suasana. Ramadan menghadirkan ruang kebersamaan yang terasa alami, di mana orang-orang datang bukan hanya untuk membeli makanan, tetapi juga untuk merasakan hangatnya suasana yang hanya muncul di bulan ini.

War takjil akhirnya menjadi lebih dari sekadar transaksi sederhana. Ia adalah bagian dari tradisi senja, ketika manusia dipertemukan oleh rasa lapar, harapan, dan kebahagiaan kecil yang bisa dibawa pulang dalam kantong plastik. Dan di antara semua itu, risol dengan segala bentuk dan rasanya, tetap menjadi simbol sederhana bahwa bahkan hal kecil pun bisa membawa kegembiraan yang besar di bulan Ramadan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...