Menjelang senja di Palangka Raya, jalanan berubah menjadi ruang yang dipenuhi langkah-langkah cepat dan mata yang siaga. Waktu berbuka memang belum tiba, tetapi orang-orang sudah berdatangan, seolah memahami satu hal yang sama, yaitu takjil tidak pernah menunggu.
Fenomena ini akrab disebut sebagai war takjil, sebuah perlombaan sunyi yang hanya terjadi setahun sekali. Meja-meja sederhana dipenuhi beragam hidangan. Plastik berisi es buah bergoyang pelan tertiup angin, dan aneka gorengan tersusun rapi, menunggu takdirnya sebelum azan magrib tiba.
Di antara semua pilihan itu, risol tetap menjadi pusat perhatian.
Kulitnya tipis dan keemasan, dengan tekstur renyah yang menjanjikan kehangatan di gigitan pertama. Namun kini, risol tidak lagi hanya tentang sayur atau ayam. Ia telah berevolusi mengikuti selera zaman. Risol coklat dengan isi manis yang lumer, serta risol matcha dengan warna hijau lembut yang khas, menjadi varian baru yang viral dan banyak dicari. Nampan-nampan pedagang cepat kosong, terutama pada jenis yang sedang tren, seolah risol memiliki cara sendiri untuk selalu dirindukan.
Keramaian war takjil juga tidak hanya diisi oleh mereka yang berpuasa. Masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk umat Kristen, turut hadir dan larut dalam suasana. Ramadan menghadirkan ruang kebersamaan yang terasa alami, di mana orang-orang datang bukan hanya untuk membeli makanan, tetapi juga untuk merasakan hangatnya suasana yang hanya muncul di bulan ini.
War takjil akhirnya menjadi lebih dari sekadar transaksi sederhana. Ia adalah bagian dari tradisi senja, ketika manusia dipertemukan oleh rasa lapar, harapan, dan kebahagiaan kecil yang bisa dibawa pulang dalam kantong plastik. Dan di antara semua itu, risol dengan segala bentuk dan rasanya, tetap menjadi simbol sederhana bahwa bahkan hal kecil pun bisa membawa kegembiraan yang besar di bulan Ramadan.

RISOL MATCHA ENAKKKK
BalasHapuscoklat apalagi 😋😋😋
Hapus