Langsung ke konten utama

Cukup Aku Saja yang WNI, Katanya


Pendidikan, bagi banyak anak bangsa, bukan sekadar perjalanan pribadi. Melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), negara menitipkan harapan, membiayai putra-putrinya menempuh ilmu hingga ke luar negeri, dengan keyakinan bahwa mereka akan tetap membawa Indonesia dalam identitas dan hatinya.

Namun harapan itu mendadak terusik oleh sebuah video yang beredar di media sosial.

Seorang perempuan, alumni LPDP, membuka paket berisi dokumen kewarganegaraan asing untuk anaknya. Dalam momen itu, ia mengucapkan sebuah kalimat yang kemudian menjadi sorotan, bahwa cukup dirinya saja yang menjadi Warga Negara Indonesia, dan ia tidak menginginkan hal yang sama bagi anak-anaknya.

Kalimat itu menyebar cepat, memantik reaksi luas. Banyak yang merasa kecewa, bukan semata karena pilihan kewarganegaraan, tetapi karena ia adalah penerima beasiswa negara, sebuah kesempatan yang lahir dari kepercayaan dan dukungan publik. Ucapannya dianggap melukai rasa kebangsaan, seolah ada jarak antara dirinya dan tanah yang pernah membiayai pendidikannya.

Permintaan maaf akhirnya disampaikan. Namun peristiwa ini telah membuka percakapan yang lebih dalam, tentang tanggung jawab moral, tentang identitas, dan tentang makna pulang, bahwa menjadi bagian dari sebuah bangsa bukan hanya soal tempat lahir, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memilih untuk tetap menghargainya.

Sebab terkadang, yang paling membekas bukanlah ke mana seseorang pergi, melainkan bagaimana ia berbicara tentang rumahnya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...