Langsung ke konten utama

Mengusahakan Rumah 🏡

Cerita pendek ini terinspirasi dari lagu "Kita Usahakan Rumah Itu" – Sal Priadi


Ada orang-orang yang hadir sebentar dalam hidup, lalu pergi seperti angin. Ada juga yang tidak pernah benar-benar dekat, tapi namanya menetap diam-diam di dalam hati.

Dan laki-laki itu, termasuk yang kedua.

Kami pernah berada di waktu yang sama, di bangku yang sama, di usia yang terlalu muda untuk memahami apa itu menetap. Aku menyukainya tanpa banyak alasan. Hanya karena cara laki-laki itu tertawa, cara ia terlihat begitu yakin pada dunia, sementara diriku hanya berani yakin pada perasaanku sendiri.

Cinta itu tumbuh sendirian. Tidak gaduh. Tidak menuntut.

Aku menyimpannya bertahun-tahun seperti menyimpan surat yang tak pernah dikirim. Sesekali dibuka, dibaca ulang, lalu dilipat rapi lagi. Aku tahu, perasaanku tak pernah benar-benar sampai.

Sampai suatu hari, waktu mempertemukan kami kembali, bukan sebagai dua anak yang belum mengerti kehilangan, melainkan dua orang dewasa yang sudah pernah patah.

Pertemuan itu sederhana. Tidak ada musik latar. Tidak ada hujan dramatis. Hanya percakapan yang mengalir lebih pelan dari biasanya. Kali ini, laki-laki itu mendengarkan. Bukan sekadar menunggu giliran bicara.

Ada jeda panjang di antara kami, tapi bukan lagi jarak.

"Aku baru sadar," katanya suatu malam, suaranya rendah, "kamu selalu ada."

Aku tidak menjawab. Takut jika suara hatiku terlalu keras. Laki-laki itu menatapku, lama. Seolah sedang memastikan sesuatu yang selama ini luput.

"Aku mungkin pernah melewatkanmu," lanjutnya, "tapi sekarang aku ingin berhenti melewatkan."

Kalimat itu seperti membuka jendela di ruang yang lama tertutup.

Kami mulai berbicara tentang masa depan dengan cara yang berbeda. Bukan tentang mimpi-mimpi besar yang menggebu, tapi tentang hal-hal sederhana, pulang sebelum terlalu malam, makan bersama meski hanya lauk seadanya, lampu ruang makan yang hangat, dan meja panjang tempat dua orang saling menceritakan hari yang melelahkan.

Tentang rumah.

Rumah yang dari depan tampak biasa saja. Tidak perlu megah. Tidak perlu membuat orang lain terkesan. Tapi di dalamnya ada kebun luas, tempat harapan tumbuh dan dirawat. Ada ruang yang lega untuk kecewa tanpa takut ditinggalkan. Ada cahaya yang diracik pelan, supaya cinta tidak merasa sendirian dalam gelap.

Lalu pada satu malam yang tenang, tanpa aba-aba yang berlebihan, laki-laki itu berkata, "Maukah kamu mengusahakan rumah bersamaku?"

Bukan "maukah kamu menikah denganku" yang terdengar seperti janji besar. Bukan pula rayuan yang penuh kembang api.

Hanya sebuah ajakan untuk mengusahakan.

Mengusahakan berarti tidak selalu mudah. Berarti ada hari-hari ketika kami lelah dan tetap memilih duduk di meja yang sama. Berarti ada beda pendapat yang diselesaikan, bukan dihindari. Berarti pulang bukan karena tidak punya pilihan lain, tapi karena memang ingin.

Aku menatap laki-laki itu, dan dalam sekejap semua tahun yang kulalui sendirian terasa menemukan maknanya.

Cinta yang dulu tak berbalas itu ternyata tidak sia-sia. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk tumbuh di tanah yang sama.

"Aku mau," jawabku pelan, hampir seperti doa.

Dan sejak malam itu, kami tidak sedang membangun dinding atau atap. Tapi, kami sedang membangun keberanian, untuk saling tinggal, untuk tidak lagi berjalan sendiri.

Rumah itu mungkin belum ada di peta. Belum berdiri di atas tanah mana pun.

Tapi di antara dua hati yang akhirnya saling memilih, fondasinya sudah diletakkan, oleh penantian yang panjang, oleh cinta yang sabar, dan oleh satu kalimat sederhana yang mengubah segalanya, "Mari kita usahakan rumah itu." 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...