Cerita pendek ini terinspirasi dari lagu "Kita Usahakan Rumah Itu" – Sal Priadi
Ada orang-orang yang hadir sebentar dalam hidup, lalu pergi seperti angin. Ada juga yang tidak pernah benar-benar dekat, tapi namanya menetap diam-diam di dalam hati.
Dan laki-laki itu, termasuk yang kedua.
Kami pernah berada di waktu yang sama, di bangku yang sama, di usia yang terlalu muda untuk memahami apa itu menetap. Aku menyukainya tanpa banyak alasan. Hanya karena cara laki-laki itu tertawa, cara ia terlihat begitu yakin pada dunia, sementara diriku hanya berani yakin pada perasaanku sendiri.
Cinta itu tumbuh sendirian. Tidak gaduh. Tidak menuntut.
Aku menyimpannya bertahun-tahun seperti menyimpan surat yang tak pernah dikirim. Sesekali dibuka, dibaca ulang, lalu dilipat rapi lagi. Aku tahu, perasaanku tak pernah benar-benar sampai.
Sampai suatu hari, waktu mempertemukan kami kembali, bukan sebagai dua anak yang belum mengerti kehilangan, melainkan dua orang dewasa yang sudah pernah patah.
Pertemuan itu sederhana. Tidak ada musik latar. Tidak ada hujan dramatis. Hanya percakapan yang mengalir lebih pelan dari biasanya. Kali ini, laki-laki itu mendengarkan. Bukan sekadar menunggu giliran bicara.
Ada jeda panjang di antara kami, tapi bukan lagi jarak.
"Aku baru sadar," katanya suatu malam, suaranya rendah, "kamu selalu ada."
Aku tidak menjawab. Takut jika suara hatiku terlalu keras. Laki-laki itu menatapku, lama. Seolah sedang memastikan sesuatu yang selama ini luput.
"Aku mungkin pernah melewatkanmu," lanjutnya, "tapi sekarang aku ingin berhenti melewatkan."
Kalimat itu seperti membuka jendela di ruang yang lama tertutup.
Kami mulai berbicara tentang masa depan dengan cara yang berbeda. Bukan tentang mimpi-mimpi besar yang menggebu, tapi tentang hal-hal sederhana, pulang sebelum terlalu malam, makan bersama meski hanya lauk seadanya, lampu ruang makan yang hangat, dan meja panjang tempat dua orang saling menceritakan hari yang melelahkan.
Tentang rumah.
Rumah yang dari depan tampak biasa saja. Tidak perlu megah. Tidak perlu membuat orang lain terkesan. Tapi di dalamnya ada kebun luas, tempat harapan tumbuh dan dirawat. Ada ruang yang lega untuk kecewa tanpa takut ditinggalkan. Ada cahaya yang diracik pelan, supaya cinta tidak merasa sendirian dalam gelap.
Lalu pada satu malam yang tenang, tanpa aba-aba yang berlebihan, laki-laki itu berkata, "Maukah kamu mengusahakan rumah bersamaku?"
Bukan "maukah kamu menikah denganku" yang terdengar seperti janji besar. Bukan pula rayuan yang penuh kembang api.
Hanya sebuah ajakan untuk mengusahakan.
Mengusahakan berarti tidak selalu mudah. Berarti ada hari-hari ketika kami lelah dan tetap memilih duduk di meja yang sama. Berarti ada beda pendapat yang diselesaikan, bukan dihindari. Berarti pulang bukan karena tidak punya pilihan lain, tapi karena memang ingin.
Aku menatap laki-laki itu, dan dalam sekejap semua tahun yang kulalui sendirian terasa menemukan maknanya.
Cinta yang dulu tak berbalas itu ternyata tidak sia-sia. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk tumbuh di tanah yang sama.
"Aku mau," jawabku pelan, hampir seperti doa.
Dan sejak malam itu, kami tidak sedang membangun dinding atau atap. Tapi, kami sedang membangun keberanian, untuk saling tinggal, untuk tidak lagi berjalan sendiri.
Rumah itu mungkin belum ada di peta. Belum berdiri di atas tanah mana pun.
Tapi di antara dua hati yang akhirnya saling memilih, fondasinya sudah diletakkan, oleh penantian yang panjang, oleh cinta yang sabar, dan oleh satu kalimat sederhana yang mengubah segalanya, "Mari kita usahakan rumah itu."
Komentar
Posting Komentar