Langsung ke konten utama

Ketika Penampilan Dijadikan Standar Pelayanan

Tulisan opini yang disampaikan oleh Vita Febrina Eriani menghadirkan potret yang sangat nyata tentang bagaimana standar pelayanan kadang masih terjebak pada penilaian yang dangkal. Saya sepakat dengan pandangan tersebut, karena fenomena menilai pelanggan dari penampilan memang masih sering ditemui di berbagai tempat, tidak hanya di gerai kecantikan, tetapi juga di banyak sektor layanan lainnya.

Bagi saya, inti dari persoalan yang diangkat Vita bukan sekadar soal sandal jepit atau pakaian santai. Persoalan utamanya adalah cara pandang sebagian pelaku layanan yang masih menempatkan penampilan sebagai ukuran nilai seseorang. Padahal, ruang publik seperti pusat perbelanjaan seharusnya menjadi tempat yang inklusif, di mana siapa pun dapat datang dengan nyaman tanpa merasa dihakimi oleh pandangan orang lain.

Saya juga sependapat bahwa pelayanan yang baik tidak boleh bergantung pada kesan pertama yang dibentuk oleh pakaian. Di era sekarang, batas antara gaya berpakaian dan kemampuan ekonomi semakin kabur. Seseorang bisa saja datang dengan penampilan sederhana, tetapi memiliki daya beli yang tinggi. Sebaliknya, penampilan yang rapi dan mewah pun tidak selalu mencerminkan niat untuk bertransaksi. Oleh karena itu, sikap profesional seharusnya menjadi prinsip utama dalam melayani pelanggan.

Pandangan saya, sikap ramah dan menghargai pelanggan bukan hanya soal etika, tetapi juga bagian penting dari strategi bisnis. Pengalaman berbelanja yang menyenangkan sering kali menjadi alasan utama seseorang kembali ke suatu tempat. Ketika pelanggan merasa dihormati, mereka tidak hanya akan melakukan transaksi, tetapi juga membangun kepercayaan terhadap merek tersebut.

Tulisan Vita mengingatkan kita bahwa kualitas sebuah layanan tidak diukur dari kemewahan tempatnya, melainkan dari bagaimana manusia diperlakukan di dalamnya. Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, sikap menghargai setiap pelanggan tanpa memandang penampilan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...