Langsung ke konten utama

Rindu yang Datang dari Bangku Sekolah

Setelah beberapa hari menjalani PLP 1 di salah satu sekolah menengah kejuruan, tiba-tiba ada rindu yang menggebu di dadaku. Rindu yang datang tanpa aba-aba, seolah waktu diam-diam membuka kembali halaman lama yang sudah terlewat. 

Di sekolah, aku sempat masuk ke ruang kelas untuk menilik suasana belajar siswa. Melihat mereka duduk di kursi-kursi kayu, mendengarkan penjelasan guru, sesekali tertawa bersama teman di sebelahnya, semua itu membuat pikiranku melayang jauh ke beberapa tahun silam. Ke masa ketika aku juga pernah berada di posisi yang sama. Duduk sebagai seorang siswa, dengan mimpi-mimpi yang masih samar bentuknya.

Tiba-tiba kenangan masa SMA meruak begitu saja. Bukan hanya tentang ruang kelas, tetapi juga tentang orang-orang yang pernah mengisi hari-hari itu. Teman-teman yang dulu hampir setiap hari kutemui, yang pernah tertawa bersama, mengeluh bersama, bahkan berbagi cerita-cerita sederhana yang saat itu terasa biasa saja. Kini semuanya berubah menjadi kenangan yang hangat.

Ada banyak wajah yang tiba-tiba terlintas di kepala. Suara tawa mereka seolah masih tersisa di ingatan. Hal-hal kecil yang dulu mungkin tidak terlalu kupikirkan, kini justru terasa begitu berharga. Waktu memang punya cara yang aneh, ia membuat kita baru menyadari arti sebuah kebersamaan setelah semuanya berlalu.

Aku berdiri di tengah ruang kelas yang berbeda, dengan siswa-siswa yang juga berbeda. Namun perasaan itu tetap sama, yaitu rasa haru karena pernah melewati masa-masa itu. Masa ketika hidup terasa lebih sederhana, ketika kebersamaan dengan teman-teman terasa begitu dekat tanpa harus dijadwalkan.

Tidak menyangka aku sudah melangkah sejauh ini. Dari seseorang yang dulu duduk mendengarkan pelajaran di kelas, kini aku kembali ke sekolah untuk belajar memahami dunia pendidikan dari sisi yang lain.

Dan di tengah langkah kecil ini, aku sadar akan satu hal, waktu memang membawa kita berjalan jauh, tetapi kenangan tentang orang-orang yang pernah berjalan bersama kita, selalu tahu jalan pulang ke hati.



MIPA 2  🤍


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...