Palangka Raya bukanlah kota yang pernah hadir dalam daftar mimpi Nurul Aulia.
Sejak dulu, keinginannya sederhana, yaitu berkuliah di Jawa, pulau yang sejak lama dikenal sebagai pusat pendidikan, tempat segala hal terasa lebih dekat dengan rumah dan kenangan masa tumbuh. Meskipun ia lahir di Sampit, hatinya tetap tertambat pada Jawa, tanah tempat ia dibesarkan.
Namun hidup sering kali bergerak dengan jalannya sendiri.
Keputusan orang tua mengubah arah rencananya. Tanpa banyak pilihan, Aulia akhirnya menjejakkan langkah di Palangka Raya, sebuah kota yang sebelumnya bahkan tidak pernah ia bayangkan akan menjadi tempatnya menempuh masa kuliah.
Awal kedatangannya terasa sunyi. Sebagai mahasiswa perantau, ia harus membiasakan diri dengan lingkungan baru yang terasa asing. Ada semacam culture shock yang halus. Bukan hanya soal tempat, tetapi juga ritme kehidupan. Baginya yang terbiasa dengan padatnya aktivitas dan manusia di Jawa, Palangka Raya terasa jauh lebih tenang, bahkan sedikit sepi.
Namun seiring waktu, kota itu memperlihatkan wajah yang berbeda.
Palangka Raya ternyata memiliki ketenteraman yang jarang ditemui di kota besar. Ritme hidupnya berjalan lebih pelan, lebih teratur. Bagi Aulia yang cenderung introvert, suasana seperti ini justru memberikan ruang untuk bernapas. Julukan "Kota Cantik" terasa tidak berlebihan, dengan tata kotanya yang rapi dan tidak seramai kota-kota besar di Jawa.
Meski begitu, merantau tentu membawa perbedaan yang tidak sedikit.
Biaya hidup di Kalimantan, menurutnya, terasa lebih tinggi dibandingkan di Jawa. Perbedaan standar upah membuat harga-harga terasa cukup menantang bagi mahasiswa. Namun keadaan itu tidak sepenuhnya menyulitkan. Di sisi lain, kesempatan untuk mencari pekerjaan sampingan justru lebih terbuka.
Bagi Aulia, keseimbangan itu membuatnya mampu bertahan. Ia bekerja sambil kuliah, seperti banyak perantau lain yang belajar berdiri di atas kakinya sendiri.
Tantangan terbesar dalam hidup jauh dari keluarga sebenarnya bukanlah sesuatu yang dramatis. Bagi Aulia sendiri, tantangan itu sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana, seperti akhir bulan yang datang terlalu cepat, ketika isi dompet mulai menipis dan pikiran ikut terasa berat.
Namun ia menyadari, cerita seperti itu hampir dimiliki oleh setiap anak rantau.
Menariknya, Aulia mengaku tidak terlalu sering merindukan rumah. Sejak kecil ia terbiasa hidup mandiri. Rasa rindu biasanya hanya datang pada satu waktu tertentu, seperti bulan Ramadan.
Saat sahur dan berbuka harus dijalani sendirian, barulah terasa ada ruang kosong yang dulu selalu dipenuhi oleh keluarga. Kadang yang lebih ia rindukan justru teman-teman lamanya di Jawa, orang-orang yang masih menunggunya pulang, meskipun sudah tiga tahun ia belum kembali.
Ketika rindu datang, ia hanya membuka foto-foto lama atau menelpon orang tuanya. Mendengar suara mereka walau sebentar, sudah cukup untuk meredakan rindu yang singgah.
Dari perjalanan merantau ini, Aulia belajar satu hal yang sederhana tetapi dalam.
Dulu, ketika masih sekolah, ia sering merasa tugas dan tas sekolah adalah beban paling berat dalam hidup. Namun setelah benar-benar menjalani kehidupan dewasa, ia menyadari bahwa masa itu justru merupakan bagian hidup yang paling ringan.
Perantauan mengajarkannya sesuatu yang lebih penting. Bahwa pada akhirnya, dalam banyak hal, orang yang paling bisa diandalkan adalah diri sendiri.
Dan mungkin, di kota yang dulu tak pernah ia rencanakan ini, Aulia justru sedang belajar menjadi seseorang yang lebih kuat dari bayangannya sendiri.

cihuyy
BalasHapus