Di Palangka Raya, hujan tak pernah sekadar jatuh, ia selalu membawa cerita, kadang lirih, kadang menggenang diam-diam di sudut jalan seperti rahasia yang tak sempat disampaikan. Pagi yang mestinya bersih sering kali justru dibuka oleh pantulan air keruh di aspal, seolah kota ini sedang bercermin pada dirinya sendiri yang belum sepenuhnya pulih.
Ketika hujan turun lebih lama dari biasanya, air tak lagi hanya lewat, melainkan singgah, menetap, bahkan mengambil alih ruang-ruang yang semula milik manusia. Warga pun perlahan terbiasa dengan siklus yang berulang itu, mengangkat barang sebelum air naik, membersihkan halaman dengan sisa harap agar genangan lekas surut, sambil menyadari bahwa persoalan ini bukan semata-mata tentang hujan yang terlalu deras.
Masalahnya berakar pada aliran yang kehilangan arah pulang. Sistem drainase yang belum bekerja sebagaimana mestinya sering tersendat oleh sedimentasi, tersumbat sampah, atau terputus oleh pembangunan yang menutup jalurnya sendiri. Di banyak kawasan, saluran air seperti cerita yang terpenggal, tidak saling terhubung, membuat air berhenti di tempat yang seharusnya hanya ia lewati.
Meski demikian, kota ini tidak sepenuhnya diam. Upaya terus dilakukan, normalisasi drainase, pembersihan saluran, hingga pembangunan jalur air yang lebih terarah, sebagai ikhtiar memperbaiki apa yang selama ini tersumbat. Namun di balik itu semua, terselip kenyataan yang lebih sunyi, persoalan ini juga tumbuh dari kebiasaan, dari tangan-tangan yang masih abai membuang sampah ke selokan, dari kepedulian yang belum sepenuhnya tumbuh.
Padahal air tak pernah benar-benar salah jalan, ia hanya mengikuti ruang yang tersedia, atau yang tersisa. Maka setiap genangan pada akhirnya bukan sekadar peristiwa alam, melainkan cermin kecil tentang bagaimana sebuah kota merawat dirinya sendiri, dan di Palangka Raya, hujan akan selalu kembali, membawa pertanyaan yang sama, apakah kita sudah memberi air jalan untuk pulang.

Komentar
Posting Komentar