Langsung ke konten utama

Palangka Raya dan Cerita Air yang Tersesat

 



Di Palangka Raya, hujan tak pernah sekadar jatuh, ia selalu membawa cerita, kadang lirih, kadang menggenang diam-diam di sudut jalan seperti rahasia yang tak sempat disampaikan. Pagi yang mestinya bersih sering kali justru dibuka oleh pantulan air keruh di aspal, seolah kota ini sedang bercermin pada dirinya sendiri yang belum sepenuhnya pulih.

Ketika hujan turun lebih lama dari biasanya, air tak lagi hanya lewat, melainkan singgah, menetap, bahkan mengambil alih ruang-ruang yang semula milik manusia. Warga pun perlahan terbiasa dengan siklus yang berulang itu, mengangkat barang sebelum air naik, membersihkan halaman dengan sisa harap agar genangan lekas surut, sambil menyadari bahwa persoalan ini bukan semata-mata tentang hujan yang terlalu deras.

Masalahnya berakar pada aliran yang kehilangan arah pulang. Sistem drainase yang belum bekerja sebagaimana mestinya sering tersendat oleh sedimentasi, tersumbat sampah, atau terputus oleh pembangunan yang menutup jalurnya sendiri. Di banyak kawasan, saluran air seperti cerita yang terpenggal, tidak saling terhubung, membuat air berhenti di tempat yang seharusnya hanya ia lewati.

Meski demikian, kota ini tidak sepenuhnya diam. Upaya terus dilakukan, normalisasi drainase, pembersihan saluran, hingga pembangunan jalur air yang lebih terarah, sebagai ikhtiar memperbaiki apa yang selama ini tersumbat. Namun di balik itu semua, terselip kenyataan yang lebih sunyi, persoalan ini juga tumbuh dari kebiasaan, dari tangan-tangan yang masih abai membuang sampah ke selokan, dari kepedulian yang belum sepenuhnya tumbuh.

Padahal air tak pernah benar-benar salah jalan, ia hanya mengikuti ruang yang tersedia, atau yang tersisa. Maka setiap genangan pada akhirnya bukan sekadar peristiwa alam, melainkan cermin kecil tentang bagaimana sebuah kota merawat dirinya sendiri, dan di Palangka Raya, hujan akan selalu kembali, membawa pertanyaan yang sama, apakah kita sudah memberi air jalan untuk pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...