Ada masa ketika aku begitu yakin pada satu nama, seolah semesta berbisik pelan bahwa dia adalah jawabannya. Aku menjaganya dalam doa, dalam harap, dalam cerita-cerita kecil yang hanya hidup di kepalaku.
Aku pernah menyimpan seseorang begitu lama, bukan dalam genggaman, tapi dalam penantian yang tak pernah benar-benar dimulai.
Bertahun-tahun kusebut itu cinta. Kukira ia perasaan paling dalam yang pernah tumbuh di dadaku. Perasaan yang tak goyah meski waktu berganti musim.
Namun perlahan aku mengerti, yang kucintai bukan dia yang nyata, melainkan sosok yang kurakit sendiri dari angan-angan.
Aku menambahkan sifat-sifat yang kuinginkan, memberinya ketulusan yang mungkin tak pernah ia janjikan, menyusunnya menjadi seseorang yang terasa sempurna untuk kucintai.
Aku jatuh hati pada versi yang kubuat sendiri. Pada bayangan yang tak pernah membantah, tak pernah berubah, tak pernah mengecewakan.
Dan mungkin itu sebabnya perasaan ini bertahan begitu lama. Karena imajinasi tak pernah menuntut untuk dikenali lebih jauh. Ia hanya indah, dan itu cukup.
Kini aku tahu, bukan dia yang membuatku terjebak bertahun-tahun, melainkan keyakinanku pada cerita yang tak pernah benar-benar terjadi.
Dan pada akhirnya, yang harus kulepaskan bukan dia, melainkan imajinasi yang selama ini kupeluk terlalu erat.
Komentar
Posting Komentar