Aku baru saja membuka Instagram, dan sebuah reels muncul tanpa sengaja. Aku membacanya perlahan, lalu entah mengapa, air mataku jatuh begitu saja. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa begitu dekat, seolah sedang menceritakan hidupku sendiri.
Selama ini, aku selalu merasa akulah yang paling kesepian. Akulah yang paling jauh. Akulah yang paling merindukan rumah.
Namun saat reels itu muncul, sebuah kesadaran datang dengan lembut, dan sedikit menyakitkan.
Bagaimana dengan Ayah dan Mama?
Bukankah mereka juga pasti merasakan hal yang sama? Rumah yang dulu riuh kini lebih sering diam. Rumah yang dulu penuh cerita kini hanya diisi percakapan seperlunya. Tawa yang dulu saling bersahutan kini hanya tersisa gema di ingatan.
Aku tiba-tiba teringat ketika libur akhir semester kemarin. Saat aku dan kembaranku pulang, rumah kembali bernapas. Mama memasak banyak sekali makanan, lebih banyak dari yang bisa kami habiskan. Ayah beberapa kali keluar rumah, lalu pulang membawa hal-hal kecil yang sebenarnya tidak kami minta. Mereka memang jarang sekali mengatakan rindu secara langsung, tapi bagiku semua sikap mereka adalah bahasa yang paling jujur.
"Kalian di sini cuma sebentar. Jadi, kalau mau apa-apa bilang aja," kata Mama.
Saat itu aku hanya tersenyum. Tapi sekarang aku mengerti, itu bukan sekadar kalimat. Itu adalah cara mereka mencintai, selagi masih ada waktu bersama.
Dan tiba-tiba, aku sangat ingin pulang. Bukan karena aku lelah di sini, tapi karena aku tahu, ada dua hati di sana yang diam-diam menungguku kembali.

Komentar
Posting Komentar