Langsung ke konten utama

Tujuh Tahun yang Tak Pernah Usai

Tujuh tahun bukanlah hitungan yang sebentar. Ia bukan sekadar angka, melainkan jejak-jejak waktu yang diam-diam tumbuh di dalam dada. Dan aku baru menyadarinya, bahwa tanpa kusadari, aku telah berjalan sejauh ini, menempatkan namamu di ruang paling sunyi namun paling setia di hatiku.

Beberapa orang mengatakan bahwa cinta yang tak terbalas hanyalah penantian sia-sia. Bahwa aku seharusnya berhenti, berbalik arah, dan mencari bahagia di tempat lain. Tapi bagaimana mungkin aku menyuruh hatiku pergi sedangkan ia masih ingin tinggal?

Hatiku keras kepala sekali. Ia memilih kamu, lagi dan lagi, meski tak pernah dipilih kembali.

Ada hari ketika aku benar-benar ingin menyerah. Ingin menutup semua pintu yang mengarah padamu. Namun malam datang, dan dalam lelapku, kau hadir di sana. Begitu jelas. Begitu nyata.

Kau berkata pelan, "Jangan berusaha melupakanku. Berusahalah membuatku menyukaimu."

Dan aku terbangun dengan dada yang kembali penuh, penuh harap yang tak tahu diri.

Jika suatu hari kau bertanya apakah rasa ini melelahkan, maka datanglah. Tukarkan raga kita walau hanya lima menit. Mungkin setelah itu kau akan mengerti, bahwa tujuh tahun ini bukan sekadar waktu yang terbuang, melainkan bukti bahwa hatiku pernah begitu setia pada satu nama, yaitu kamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...