Tujuh tahun bukanlah hitungan yang sebentar. Ia bukan sekadar angka, melainkan jejak-jejak waktu yang diam-diam tumbuh di dalam dada. Dan aku baru menyadarinya, bahwa tanpa kusadari, aku telah berjalan sejauh ini, menempatkan namamu di ruang paling sunyi namun paling setia di hatiku.
Beberapa orang mengatakan bahwa cinta yang tak terbalas hanyalah penantian sia-sia. Bahwa aku seharusnya berhenti, berbalik arah, dan mencari bahagia di tempat lain. Tapi bagaimana mungkin aku menyuruh hatiku pergi sedangkan ia masih ingin tinggal?
Hatiku keras kepala sekali. Ia memilih kamu, lagi dan lagi, meski tak pernah dipilih kembali.
Ada hari ketika aku benar-benar ingin menyerah. Ingin menutup semua pintu yang mengarah padamu. Namun malam datang, dan dalam lelapku, kau hadir di sana. Begitu jelas. Begitu nyata.
Kau berkata pelan, "Jangan berusaha melupakanku. Berusahalah membuatku menyukaimu."
Dan aku terbangun dengan dada yang kembali penuh, penuh harap yang tak tahu diri.
Jika suatu hari kau bertanya apakah rasa ini melelahkan, maka datanglah. Tukarkan raga kita walau hanya lima menit. Mungkin setelah itu kau akan mengerti, bahwa tujuh tahun ini bukan sekadar waktu yang terbuang, melainkan bukti bahwa hatiku pernah begitu setia pada satu nama, yaitu kamu.
Komentar
Posting Komentar