Langsung ke konten utama

Puasa di Tanah Rantau

Bulan puasa kembali mendekat, membawa perasaan yang sulit kujelaskan dengan satu nama. Ada bahagia yang tumbuh pelan, karena Allah masih memberiku umur untuk kembali bertemu Ramadan, bulan yang selalu terasa seperti pelukan hangat bagi jiwa yang lelah.

Namun, di balik rasa syukur itu, ada rindu yang pelan-pelan mengetuk.

Tahun ini adalah tahun ketigaku berpuasa di perantauan. Tahun ketiga merasakan sahur tanpa suara langkah Mama di dapur. Tanpa panggilan lembut dari Ayah yang membangunkanku dengan penuh kasih. Tanpa ruang makan yang ramai oleh cerita-cerita kecil yang dulu terasa biasa, namun kini menjelma menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Kini, sahur hanya ditemani sunyi. Hanya aku, kamar kost, dan pikiran-pikiran yang sering pulang ke rumah, meski tubuhku tidak.

Dulu, aku tidak pernah bertanya, "Nanti sahur makan apa?" atau "Buka puasa pakai apa?" Semua selalu tersedia, bukan hanya makanan, tetapi juga kehangatan. Kini, pertanyaan itu menjadi bagian dari hariku. Pertanyaan sederhana, namun terasa begitu berat, karena yang sebenarnya kurindukan bukanlah makanannya, melainkan kebersamaan itu sendiri.

Aku rindu suara piring yang saling bersentuhan. Rindu tawa yang hadir tanpa alasan. Rindu perasaan pulang, meski hanya duduk bersama di ruang makan.

Di perantauan, aku belajar bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia juga tentang menahan rindu. Tentang menerima bahwa ada jarak yang tak bisa dipersingkat, selain dengan doa. Tentang menjadi lebih kuat, meski diam-diam ingin kembali menjadi anak yang bisa pulang kapan saja.

Dan mungkin, inilah bagian dari pendewasaan itu, belajar menemukan hangat, bahkan ketika sendirian. Belajar percaya, bahwa meski jauh, cinta dari rumah tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal, diam-diam, di dalam hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...