Bulan puasa kembali mendekat, membawa perasaan yang sulit kujelaskan dengan satu nama. Ada bahagia yang tumbuh pelan, karena Allah masih memberiku umur untuk kembali bertemu Ramadan, bulan yang selalu terasa seperti pelukan hangat bagi jiwa yang lelah.
Namun, di balik rasa syukur itu, ada rindu yang pelan-pelan mengetuk.
Tahun ini adalah tahun ketigaku berpuasa di perantauan. Tahun ketiga merasakan sahur tanpa suara langkah Mama di dapur. Tanpa panggilan lembut dari Ayah yang membangunkanku dengan penuh kasih. Tanpa ruang makan yang ramai oleh cerita-cerita kecil yang dulu terasa biasa, namun kini menjelma menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Kini, sahur hanya ditemani sunyi. Hanya aku, kamar kost, dan pikiran-pikiran yang sering pulang ke rumah, meski tubuhku tidak.
Dulu, aku tidak pernah bertanya, "Nanti sahur makan apa?" atau "Buka puasa pakai apa?" Semua selalu tersedia, bukan hanya makanan, tetapi juga kehangatan. Kini, pertanyaan itu menjadi bagian dari hariku. Pertanyaan sederhana, namun terasa begitu berat, karena yang sebenarnya kurindukan bukanlah makanannya, melainkan kebersamaan itu sendiri.
Aku rindu suara piring yang saling bersentuhan. Rindu tawa yang hadir tanpa alasan. Rindu perasaan pulang, meski hanya duduk bersama di ruang makan.
Di perantauan, aku belajar bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia juga tentang menahan rindu. Tentang menerima bahwa ada jarak yang tak bisa dipersingkat, selain dengan doa. Tentang menjadi lebih kuat, meski diam-diam ingin kembali menjadi anak yang bisa pulang kapan saja.
Dan mungkin, inilah bagian dari pendewasaan itu, belajar menemukan hangat, bahkan ketika sendirian. Belajar percaya, bahwa meski jauh, cinta dari rumah tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal, diam-diam, di dalam hati.
Komentar
Posting Komentar