Langsung ke konten utama

Barangkali Aku Ada karena Doa Seseorang

Dulu, aku selalu berpikir bahwa hidup adalah tentang mengejar doa-doaku sendiri. Tentang hal-hal yang kuinginkan, yang kusebut pelan-pelan dalam sujud, yang kuharapkan diam-diam sebelum tidur. Aku percaya bahwa tugasku adalah menunggu, menunggu sampai Tuhan mengabulkan satu per satu harapanku.

Tapi hari ini, aku menemukan sebuah kalimat yang mengubah cara pandangku.

"Barangkali kamu hidup, bukan untuk menjemput doa mu. Melainkan, kamu adalah 'bentuk' dari doa orang lain."

Ketika selesai membaca kalimat itu, aku diam cukup lama. Aku bertanya-tanya dalam hati, siapa yang pernah menyebut namaku dalam doanya? Siapa yang pernah berharap agar aku hadir dalam hidupnya? Apakah orang tuaku, yang diam-diam memohon agar anaknya tumbuh baik-baik saja? Atau mungkin seseorang yang pernah merasa sendirian, lalu Tuhan mengirimkanku tanpa aku sadari?

Aku tidak tahu pasti. Tapi memikirkan itu membuatku melihat diriku dengan cara yang berbeda.

Mungkin, keberadaanku bukan hanya tentang apa yang aku inginkan. Mungkin, keberadaanku juga tentang apa yang orang lain butuhkan. Tentang menjadi alasan seseorang tersenyum, tentang menjadi teman di saat mereka merasa sepi, tentang menjadi bukti bahwa Tuhan masih mendengar doa-doa mereka.

Dan tiba-tiba, aku merasa hidup terasa lebih bermakna.

Aku bukan hanya seseorang yang sedang menunggu doa dikabulkan. Aku juga mungkin adalah doa yang telah dikabulkan.

Mungkin, aku adalah jawaban dari harapan yang pernah dipanjatkan dengan air mata. Mungkin, aku adalah tenang yang datang setelah seseorang lelah berharap. Atau mungkin, aku hanyalah bukti kecil bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar diam.

Mulai saat ini, aku ingin hidup dengan lebih hati-hati. Lebih lembut. Lebih sadar. Karena bisa jadi, keberadaanku di dunia ini bukan kebetulan. Aku ada, karena seseorang pernah berdoa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...