Dulu, aku selalu berpikir bahwa hidup adalah tentang mengejar doa-doaku sendiri. Tentang hal-hal yang kuinginkan, yang kusebut pelan-pelan dalam sujud, yang kuharapkan diam-diam sebelum tidur. Aku percaya bahwa tugasku adalah menunggu, menunggu sampai Tuhan mengabulkan satu per satu harapanku.
Tapi hari ini, aku menemukan sebuah kalimat yang mengubah cara pandangku.
"Barangkali kamu hidup, bukan untuk menjemput doa mu. Melainkan, kamu adalah 'bentuk' dari doa orang lain."
Ketika selesai membaca kalimat itu, aku diam cukup lama. Aku bertanya-tanya dalam hati, siapa yang pernah menyebut namaku dalam doanya? Siapa yang pernah berharap agar aku hadir dalam hidupnya? Apakah orang tuaku, yang diam-diam memohon agar anaknya tumbuh baik-baik saja? Atau mungkin seseorang yang pernah merasa sendirian, lalu Tuhan mengirimkanku tanpa aku sadari?
Aku tidak tahu pasti. Tapi memikirkan itu membuatku melihat diriku dengan cara yang berbeda.
Mungkin, keberadaanku bukan hanya tentang apa yang aku inginkan. Mungkin, keberadaanku juga tentang apa yang orang lain butuhkan. Tentang menjadi alasan seseorang tersenyum, tentang menjadi teman di saat mereka merasa sepi, tentang menjadi bukti bahwa Tuhan masih mendengar doa-doa mereka.
Dan tiba-tiba, aku merasa hidup terasa lebih bermakna.
Aku bukan hanya seseorang yang sedang menunggu doa dikabulkan. Aku juga mungkin adalah doa yang telah dikabulkan.
Mungkin, aku adalah jawaban dari harapan yang pernah dipanjatkan dengan air mata. Mungkin, aku adalah tenang yang datang setelah seseorang lelah berharap. Atau mungkin, aku hanyalah bukti kecil bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar diam.
Mulai saat ini, aku ingin hidup dengan lebih hati-hati. Lebih lembut. Lebih sadar. Karena bisa jadi, keberadaanku di dunia ini bukan kebetulan. Aku ada, karena seseorang pernah berdoa.
Komentar
Posting Komentar