Langsung ke konten utama

Dekatkan atau Redakan


Ada beberapa lirik lagu yang diam-diam tinggal di hatiku, bukan sekadar untuk didengar, tapi untuk dirasakan. Lirik-lirik itu seperti doa yang kusembunyikan, yang hanya berani kuucapkan dalam diam. Salah satunya adalah "Interaksi" yang dinyanyikan oleh Tulus, lagu yang tak hanya terdengar indah, tetapi juga seolah mengerti hal-hal yang tak pernah benar-benar bisa kujelaskan

"Jika dia memang bisa untukku,  

sini, dekat dan dekatlah.

Dan jika dia memang bukan untukku,

tolong, reda dan redalah."

Setiap kali mendengarnya, rasanya seperti mendengar suaraku sendiri, yang tak pernah benar-benar berani meminta, hanya berani menitipkan.

Aku selalu menyebut namanya dalam diam, di sela-sela doaku yang paling rahasia. Bukan untuk memaksa semesta mempertemukan kami, tetapi untuk memohon pada Tuhan yang Maha Tahu. Jika memang dia adalah seseorang yang telah Engkau tuliskan untukku sejak awal waktu, maka dekatkanlah kami dengan cara-Mu yang paling indah. Pertemukan kami di waktu yang paling tepat, saat hati kami sama-sama siap untuk tinggal, bukan sekadar singgah.

Namun, di ujung doa itu, selalu ada satu permintaan lain yang kuucapkan dengan suara yang lebih lirih.

Jika dia memang bukan rumah yang Engkau takdirkan untukku, maka ajari hatiku untuk perlahan-lahan melepaskan. Redakan perasaan ini seperti senja yang memudar tanpa suara. Jangan biarkan ia pergi sebagai luka, cukup menjadi kenangan yang pernah hangat, lalu tenang.

Karena aku tahu, tidak semua yang tumbuh di hati harus dimiliki. Tidak semua yang indah harus menetap.

Maka aku serahkan semuanya kepada-Mu, tentang dia, tentang rasa ini, tentang segala kemungkinan yang belum terjadi.

Jika dia milikku, dekatkan. Jika dia bukan milikku, redakan. Dan aku, akan belajar menerima dengan hati yang tetap percaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...