Langsung ke konten utama

Saat Hidup Berjalan Tanpa Sorak

Setelah menelusuri ulang blogku sendiri, aku menemukan sebuah kenyataan yang sunyi, bahwa tulisan tentang diriku sendiri ternyata tak banyak. Aku lebih sering menulis tentang rasa, tentang orang lain, tentang hal-hal di luar diriku, seolah aku sendiri hanya singgah sebentar di hidupku. Aku pun bingung, bagaimana seharusnya menulis keseharian yang terasa begitu biasa. Tak ada peristiwa besar, tak ada kisah yang membuat jantungku berdebar. Hari-hariku berjalan pelan, nyaris tak meninggalkan jejak.

Aku sering merasa hidup yang kujalani sedikit membosankan, seakan tak ada satu pun hal istimewa yang patut dibanggakan. Aku merasa tak memiliki sesuatu yang benar-benar hebat untuk ditawarkan pada dunia. Keberuntungan pun terasa jauh, seperti hujan yang selalu turun di tempat lain. Yang datang justru rasa iri, iri yang kecil, diam-diam, pada mereka yang tampak telah sampai lebih dulu, yang hidupnya terlihat terang dan penuh hasil.

Namun di sela perasaan itu, aku mencoba memahami satu hal, barangkali memang begini caraku bertumbuh. Tidak ramai, tidak disambut sorak, bahkan nyaris tak disadari siapa pun. Aku percaya setiap manusia berjalan dengan waktunya masing-masing, dan mungkin aku sedang berada di bagian paling sepi dari perjalanan itu. Jika saat ini belum waktuku bersinar, tak apa. Aku akan tetap berjalan, tetap menulis, tetap hidup, sampai suatu hari, tanpa kusadari, aku tiba di halaman yang selama ini diam-diam sedang menungguku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...