Mengapa jurnalistik? Jawabanku sederhana, dan itu pasti, karena aku mencintai menulis. Aku bahkan tak lagi ingat sejak kapan rasa itu tumbuh. Yang pasti, setiap kali menulis, ada damai yang singgah, seperti pulang ke tempat yang tak pernah menghakimi. Menulis membuatku tenang, membuat pikiranku lebih jujur pada diri sendiri.
Sejujurnya, aku lebih sering merasa santai ketika menulis sastra. Barangkali karena itu pula aku sempat bimbang saat memilih peminatan kemarin. Drama terasa akrab, di sana aku bisa menumpahkan imajinasi, merangkai dialog, dan menulis naskah tanpa batas. Namun jurnalistik menawarkan hal lain, ada kemungkinan untuk menulis lebih banyak hal, bukan hanya dunia yang kubayangkan, tetapi juga dunia yang benar-benar ada dan terjadi di sekelilingku. Setelah menimbang cukup lama, akhirnya aku mantap melangkah ke jurnalistik.
Ada pula satu nama yang diam-diam menjadi alasanku, Najwa Shihab. Seorang jurnalis yang sejak SMA membuatku berandai-andai, ingin menjadi seperti dirinya, berani, tajam, dan berdiri tegak di hadapan kebenaran. Seiring waktu, angan itu pelan-pelan mengecil. Aku sadar, aku tidak sepintar itu, dan keberuntungan pun tak selalu datang tepat waktu. Tapi mungkin, menjadi seperti dia bukan tentang menyamai, melainkan berani memulai.
Kini, yang bisa kulakukan hanyalah menjalani jalan yang kupilih. Menulis, belajar, dan terus bertumbuh. Soal berhasil atau tidak, biarlah waktu yang menjawabnya nanti. Untuk sekarang, aku hanya ingin setia pada satu hal yang sejak awal menuntunku ke sini, cinta pada kata-kata.
Komentar
Posting Komentar