Hari ini, hatiku kembali diguncang rasa haru.
Di kelas Kajian Drama, Pak Jumadi mengajak kami berimajinasi tanpa batas. Seketika, ingatanku melayang ke delapan tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku kelas enam SD. Saat itu, wali kelasku, Pak Imam namanya, juga melakukan hal yang sama, yaitu membiarkan imajinasi kami berkelana ditemani lantunan musik yang lembut.
Anehnya, di dua momen yang berbeda jauh itu, aku sama-sama menangis. Namun, tangisan itu lahir dari dua rasa yang tak serupa. Hari ini, air mata jatuh ketika suara Pak Jumadi bergema, "Bayangkan tempat indah yang kalian datangi berubah menjadi tempat paling menakutkan. Orang-orang yang kalian cintai pergi. Ingatlah, di dunia ini tak ada yang abadi." Kalimat itu menusuk, mengingatkanku bahwa kehilangan selalu mengintai.
Sedangkan ketika masih SD, tangisanku justru karena terharu. Pak Imam meminta kami membayangkan masa depan. “Kenakan seragam impian kalian,” katanya. Aku pun membayangkan diri ini berseragam guru. Lalu ia melanjutkan, “Sekarang bayangkan kedua orang tua kalian ada di depan, tersenyum bangga melihat anak-anaknya berhasil.” Saat itu, hati kecilku berbisik mantap, Aku ingin menjadi guru!
Namun perjalanan waktu membawa banyak perubahan. Bahkan ketika SMA, meski cita-cita menjadi guru itu tak lagi terpampang jelas, aku masih menemukan secercah keinginan yang sama. Di sebuah arsipan Instagram Story ketika kelas 12, aku melihat diriku sendiri berkata dengan mata berbinar, "Semoga aku sukses, semoga aku jadi guru." Kalimat yang keluar begitu jujur, meski saat itu profesi guru bukan lagi tujuan utama.
Kini, di usia dua puluh tahun, keraguan sering datang bertubi-tubi. Pertanyaan demi pertanyaan berdesakan. Sebenarnya, aku ingin jadi apa? Ingin menuju ke mana? Ketika kecil, aku melangkah ringan, yakin dengan mimpi sederhana, yaitu menjadi guru. Namun kini, ketakutan akan masa depan seakan berdiri di setiap persimpangan, membuat langkah terasa gamang.
Dan mungkin, justru dalam keraguan itulah, air mata, imajinasi, dan cita-cita lama bersekutu, mengingatkanku pada sesuatu yang pernah begitu murni aku yakini. Bahwa mungkin, di lubuk hati terdalam, mimpi itu tak pernah benar-benar hilang.
Aku masih ingat sekali, waktu itu, dengan tangis yang belum reda, Pak Imam meminta kami mengambil kertas kado yang telah dibawa dari rumah. Beliau mengajarkan cara melipatnya hingga menyerupai baju. Lalu, dengan suara lembut, ia berkata, "Tulislah cita-cita yang tadi kalian bayangkan."
Di atas lipatan kertas sederhana itu, aku menuliskan mimpi kecilku, menjadi guru. Karya itu bukan sekadar tugas sekolah, melainkan tanda, bukti nyata bahwa pernah ada cita-cita yang kugenggam erat dengan sepenuh hati.

Komentar
Posting Komentar