Langsung ke konten utama

Ketika Lelucon Jadi Kritik ~Koboy Kampus



Hal pertama yang langsung menarik perhatianku dari film Koboy Kampus adalah akting para pemainnya yang terasa begitu alami. Bagiku, akting mereka terlihat tidak dibuat-buat, tidak berlebihan, semuanya mengalir apa adanya. Pidi dan kawan-kawannya di “Negara Kesatuan The Panas Dalam” digambarkan sebagai sosok mahasiswa yang santai, kadang nyeleneh, tapi tetap punya pemikiran yang dalam tentang negeri ini. 

Mereka tampak cuek pada urusan politik dan pemerintahan, tapi bagiku dari sikap santai itulah muncul bentuk kepedulian yang berbeda dari mereka. Tanpa turun ke jalan atau ikut dalam aksi demo besar-besaran, mereka menunjukkan bentuk nasionalisme yang lain, lewat lagu, humor, dan kritik yang cerdas. Beberapa lirik lagu yang mereka nyanyikan terdengar seperti sindiran halus, tapi tajam kepada pemerintah. 

Setiap menonton film yang memunculkan sindiran-sindiran kepada pemerintah walaupun secara tidak langsung, ada satu pertanyaan yang selalu berputar di kepalaku. "Apakah para petinggi-petinggi di pemerintahan pernah menonton film ini? Kalau iya, mungkin mereka akan merasa tersindir."

Oh iya, satu hal lagi yang ku sorot dari awal film adalah logat sunda Pidi yang terasa enak didengar, haha. Kalau kata jokes tiktok seperti ini, "Sundanya tuh, nyunda banget." 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halo, Aku Sabilah

Halo, Aku Sabilah Selamat datang untuk kamu yang mungkin baru saja menghampiri halamanku.  Blog ini akan jadi tempatku berbagi cerita, catatan, dan segala hal yang ingin aku tuliskan. Aku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan pikiran, tapi juga tentang menyimpan jejak. Semoga kamu bisa menemukan bagian kecil dari dirimu dalam kata-kataku, ya. Terima kasih sudah menghampiri. 🤍

CHECKOUT? NANTI DULU!

  Tokoh: Tangan, Hati, Otak, Keranjang, Baju, Sepatu, dan Tas.  Terlihat panggung berupa layar Shopee raksasa. Keranjang tergantung di tengah seperti wahana gantung taman bermain. Baju, sepatu, dan tas ada di sana, merasa bosan. Baju: Huft, sudah berapa lama kita di sini? Rasanya seperti di penjara. Tidak bebas. Tas: Tenanglah. Cepat atau lambat, pasti kita akan dibeli. Tapi, pasti aku yang dibeli dulu. Semua butuh tas. Aku ini, aesthetic . Layak untuk dipamerkan ketika nongkrong. Sepatu: Kalian berdua diam! Pasti aku dong yang dibeli duluan. Aku udah siap banget diajak kemana-mana. Lampu kerlap-kerlip tanda "Produk Ditambahkan ke Keranjang". Tangan: MASUKIN LAGIIII~! Eh lucu nih bajunya, korean style ! Tambahin! Tambahin semua! Yeeeay! Kemudian Tangan pergi tanpa rasa bersalah. Keranjang: Astaga, si Tangan kebiasaan banget! Aku udah penuh banget nih, udah kayak pikiran orang mau tidur tapi tiba-tiba kepikiran masa depan. Hati dan Otak Masuk Hati: Ih lucu semuaaaaa! Beli aja,...

Hujan, Mimpi, dan Rahasia Cinta

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang, namun dipadukan dengan sentuhan fiksi agar cerita terasa lebih hidup dan berwarna. . . . Latar: Di koridor kampus, sore menjelang senja. Hujan deras mengguyur halaman luas kampus. Pohon-pohon berderai air, tanah basah menguar harum khas. Beberapa mahasiswa berlarian sambil menutup kepala dengan buku, sebagian berteduh sambil bercengkrama. Di sudut koridor, ada bangku panjang kayu, agak basah di ujungnya. Cinta duduk di sana, memeluk buku catatan yang menyimpan banyak rahasia cinta miliknya. Tokoh: Cinta: (mahasiswi ceria, menyimpan rasa dalam diam sejak SMP kepada Byan) Byan: (mahasiswa tenang, penuh mimpi, tidak menyadari perasaan Cinta) Cinta duduk sambil menatap hujan. Ia membuka halaman kosong di bukunya, menulis beberapa kata, lalu berhenti. Byan datang dengan laptop di tangan, menepuk ringan bahu Cinta sebelum ikut duduk. Byan: (tersenyum) Dari dulu, kamu memang nggak pernah berubah, ya. Kalau hujan, pasti menulis. Cinta: (tersenyum samar...