Hal pertama yang langsung menarik perhatianku dari film Koboy Kampus adalah akting para pemainnya yang terasa begitu alami. Bagiku, akting mereka terlihat tidak dibuat-buat, tidak berlebihan, semuanya mengalir apa adanya. Pidi dan kawan-kawannya di “Negara Kesatuan The Panas Dalam” digambarkan sebagai sosok mahasiswa yang santai, kadang nyeleneh, tapi tetap punya pemikiran yang dalam tentang negeri ini.
Mereka tampak cuek pada urusan politik dan pemerintahan, tapi bagiku dari sikap santai itulah muncul bentuk kepedulian yang berbeda dari mereka. Tanpa turun ke jalan atau ikut dalam aksi demo besar-besaran, mereka menunjukkan bentuk nasionalisme yang lain, lewat lagu, humor, dan kritik yang cerdas. Beberapa lirik lagu yang mereka nyanyikan terdengar seperti sindiran halus, tapi tajam kepada pemerintah.
Setiap menonton film yang memunculkan sindiran-sindiran kepada pemerintah walaupun secara tidak langsung, ada satu pertanyaan yang selalu berputar di kepalaku. "Apakah para petinggi-petinggi di pemerintahan pernah menonton film ini? Kalau iya, mungkin mereka akan merasa tersindir."
Oh iya, satu hal lagi yang ku sorot dari awal film adalah logat sunda Pidi yang terasa enak didengar, haha. Kalau kata jokes tiktok seperti ini, "Sundanya tuh, nyunda banget."

Kalau tidak tersinggung, berarti dia Gaitonde.
BalasHapus